Garap Media – Setiap tahun, jelang Lebaran, suasana media sosial dan lingkungan sekitar dipenuhi dengan foto keluarga berkumpul, hidangan mewah, baju baru, dan mobil yang mengkilap. Banyak orang mulai merasa harus ikut “arus” ini: tampil sukses saat Lebaran agar tidak kalah dengan kerabat atau teman.
Rani, 28 tahun, seorang pekerja kantoran di Jakarta, mengaku merasa tertekan setiap kali mudik. “Kalau melihat saudara pakai mobil baru atau baju branded, saya merasa minder. Rasanya harus bisa tunjukin kalau saya juga sukses,” katanya sambil menata kue Lebaran di meja makan.
Fenomena ini bukan sekadar soal barang atau penampilan, tapi psikologis. Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Dr. Indah Puspitasari, masyarakat Indonesia kerap menilai kesuksesan melalui simbol material. “Lebaran jadi momen untuk menunjukkan capaian hidup. Tidak jarang, tekanan ini memicu stres dan kecemasan sosial,” ujarnya. (Detik Health)
Media Sosial Memperkuat Tekanan
Data We Are Social menunjukkan, pengguna media sosial di Indonesia meningkat 9% setiap tahun, dan momen Lebaran menjadi puncak aktivitas unggah foto dan video. Filter cantik, caption mewah, hingga showcase hadiah dan THR membuat sebagian orang merasa harus ikut “pamer” demi diterima sosial.
Ahli komunikasi, Prof. Rahmat Hidayat, menjelaskan, “Budaya visual di media sosial memperkuat narasi bahwa kesuksesan identik dengan materi. Orang yang tidak mengikuti standar ini sering merasa rendah diri atau tertinggal.”
Dampak Psikologis pada Warga
Tekanan untuk tampil sukses saat Lebaran bisa menimbulkan stres, rasa cemas, hingga depresi ringan. Warga yang belum mampu membeli barang mewah atau mengikuti tren sosial sering merasa gagal, padahal kebahagiaan tidak harus diukur dari materi.
Selain itu, fenomena ini memunculkan perbandingan sosial yang merugikan: generasi muda menilai diri mereka hanya dari apa yang terlihat, bukan capaian pribadi atau kebahagiaan keluarga.
Cara Menghadapi Tekanan Lebaran
Fokus pada makna Lebaran: silaturahmi dan kebersamaan, bukan materi.
Batasi konsumsi media sosial, terutama yang menimbulkan rasa cemburu atau minder.
Ingat bahwa kesuksesan tidak selalu terlihat: kesehatan mental, hubungan keluarga, dan pencapaian pribadi juga bagian dari sukses.
Jika perlu, diskusikan perasaan dengan teman atau konselor untuk mengurangi stres.
Penutup
Fenomena tampil sukses saat Lebaran mencerminkan tekanan sosial yang kuat di Indonesia, diperkuat oleh budaya material dan media sosial. Masyarakat perlu menyadari bahwa nilai Lebaran sejati bukanlah apa yang dipamerkan, tetapi kualitas hubungan, kebahagiaan, dan silaturahmi.
Momen Lebaran seharusnya menjadi waktu refleksi, bukan ajang pamer. Mengubah mindset ini bisa mencegah stres, menjaga kesehatan mental, dan membuat Lebaran lebih bermakna.
