Krisis pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali memantik kemarahan publik. Puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi dengan menumpahkan dua truk sampah di depan Kantor Wali Kota Tangsel sebagai bentuk protes atas penanganan sampah yang dinilai tidak kunjung tuntas (detikNews, 2026).
Aksi ini menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah daerah yang dianggap gagal mengelola persoalan sampah, meski keluhan warga telah berlangsung sejak akhir 2025 dan berdampak langsung pada kesehatan serta kenyamanan lingkungan.
Aksi Demo Sampah Tangsel di Kantor Wali Kota
Mahasiswa Tumpahkan Dua Truk Sampah
Aksi demo sampah Tangsel berlangsung pada Kamis (8/1/2026) dan diikuti oleh mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. Massa aksi membawa dua truk berisi sampah lalu menumpahkannya tepat di depan gerbang Kantor Wali Kota Tangsel (detikNews, 2026).
Dalam orasinya, mahasiswa menilai penumpukan sampah yang terjadi di berbagai titik Tangsel mencerminkan buruknya tata kelola lingkungan. Mereka menuntut pemerintah kota segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar solusi sementara.
Tujuh Tuntutan Mahasiswa
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan, di antaranya pengangkutan sampah secara menyeluruh, penambahan armada kebersihan, transparansi kinerja Dinas Lingkungan Hidup, serta evaluasi kebijakan pengelolaan sampah jangka panjang (detikNews, 2026).
Latar Belakang Krisis Sampah di Tangsel
Sampah Menumpuk Sejak Akhir 2025
Masalah sampah di Tangsel telah dikeluhkan warga sejak akhir Desember 2025. Tumpukan sampah terlihat di sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman, menimbulkan bau menyengat serta kekhawatiran akan munculnya penyakit (detikNews, 2025).
Warga mengaku resah karena sampah tidak diangkut selama berhari-hari, sementara aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa.
Pemkot Tetapkan Status Darurat Sampah
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Tangsel menetapkan status darurat sampah selama 14 hari. Kebijakan ini diambil untuk mempercepat pengangkutan dan penanganan sampah yang menumpuk di berbagai lokasi (tvOneNews, 2025).
Namun, langkah ini belum sepenuhnya meredam kritik publik, terutama setelah muncul penolakan dari daerah tujuan pembuangan sampah di luar wilayah Tangsel.
Dampak Lingkungan dan Reaksi Publik
Penumpukan sampah berdampak langsung pada kualitas lingkungan dan kesehatan warga. Limbah organik yang membusuk berpotensi menjadi sumber penyakit, sementara kondisi lingkungan yang kotor mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat (detikNews, 2025).
Kondisi ini memicu gelombang kritik dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, yang menilai krisis sampah mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan pemerintah daerah.
Aksi demo sampah Tangsel menjadi pengingat keras bahwa persoalan lingkungan tidak bisa ditunda penyelesaiannya. Penanganan sampah yang lamban bukan hanya mencoreng wajah kota, tetapi juga mengancam kesehatan dan kenyamanan warga.
Ikuti perkembangan berita lingkungan dan isu publik lainnya hanya di Garap Media. Jangan lewatkan informasi penting yang disajikan secara aktual dan mendalam.
Referensi
