Krisis Gajah Tesso Nilo: Populasi Tergerus, Hutan Berubah Jadi Kebun

Last Updated: 2 December 2025, 15:08

Bagikan:

Keberadaan gajah Sumatera di Tesso Nilo kini berada di titik kritis setelah habitatnya terus tergerus alih fungsi hutan. Sumber gambar: Wikipedia
Table of Contents

Krisis Gajah Tesso Nilo: Populasi Tergerus, Hutan Berubah Jadi Kebun

Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir bagi gajah sumatera. Namun, kondisi di lapangan kini jauh dari kata ideal. Hutan yang dahulu menjadi ruang hidup aman bagi satwa liar terus tergerus oleh perambahan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan.

Dalam beberapa laporan media nasional dan lokal tahun 2024–2025, populasi gajah di kawasan ini disebut tinggal sekitar 150 ekor. Angka ini menjadi sinyal bahaya serius bagi kelangsungan hidup gajah sumatera di alam liar.

Kenyataan Suram Populasi Gajah Tesso Nilo

Populasi Gajah Kian Menyusut

Berdasarkan pernyataan otoritas pengelola taman nasional yang dikutip ANTARA, populasi gajah di Tesso Nilo saat ini diperkirakan berada di kisaran 100 hingga 150 ekor (ANTARA, 2024). Penurunan ini terjadi secara bertahap dalam dua dekade terakhir seiring meningkatnya tekanan terhadap kawasan hutan.

Laporan lain dari media daring juga menyebutkan bahwa angka ini mencerminkan kondisi kritis, mengingat luas kawasan yang seharusnya mampu menopang populasi yang lebih besar kini telah banyak berubah fungsi.

Habitat Terus Menyempit Akibat Deforestasi

Kerusakan habitat menjadi faktor utama menyusutnya populasi gajah. Detik menyebutkan bahwa sebagian besar kawasan TNTN telah mengalami degradasi akibat perambahan, pembukaan kebun sawit, serta pemanfaatan lahan ilegal (Detik, 2025). Hutan yang tersisa kini terfragmentasi dan tidak lagi membentuk bentang alam utuh yang dibutuhkan gajah untuk jelajah dan mencari pakan.

Fragmentasi habitat membuat kelompok gajah terpisah-pisah dalam kantong kecil hutan. Kondisi ini tidak ideal bagi satwa berukuran besar yang membutuhkan ruang jelajah luas.

Konflik Manusia dan Gajah Semakin Sering Terjadi

Masuk ke Kebun dan Permukiman

Dengan habitat yang semakin sempit, gajah terpaksa keluar hutan dan masuk ke areal perkebunan serta permukiman warga. Kondisi ini memicu konflik manusia dan gajah yang semakin sering terjadi. Sejumlah kebun mengalami kerusakan akibat gajah mencari pakan.

Dalam beberapa kasus, konflik ini berujung pada kematian gajah. ANTARA melaporkan pada awal 2024 seekor gajah sumatera ditemukan mati dengan kondisi mengenaskan akibat dugaan perburuan (ANTARA, 2024).

Jeratan dan Perburuan Masih Mengancam

Selain konflik, perburuan dan pemasangan jerat juga masih menjadi ancaman nyata. Laporan lembaga konservasi menunjukkan bahwa kematian gajah akibat jerat dan racun masih terus terjadi di Riau, termasuk di sekitar kawasan Tesso Nilo.

Ancaman ini memperburuk kondisi populasi yang sudah tertekan akibat kehilangan habitat.

Upaya Pemerintah Memulihkan Tesso Nilo

Restorasi Kawasan Hutan

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan mempercepat program restorasi di Tesso Nilo. Dalam laporan ANTARA tahun 2025, pemerintah menargetkan pemulihan puluhan ribu hektare kawasan hutan yang telah rusak untuk dikembalikan sebagai habitat alami satwa liar.

Langkah ini mencakup penertiban kebun ilegal, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan pengawasan kawasan.

Penertiban Perambah dan Aktivitas Ilegal

Selain restorasi, aparat juga dikerahkan untuk menertibkan aktivitas ilegal di dalam kawasan taman nasional. Sejumlah pos penjagaan didirikan untuk mencegah masuknya perambah baru.

Namun, upaya ini dinilai tidak mudah karena sudah banyak masyarakat yang bertahun-tahun bergantung pada aktivitas perkebunan di dalam kawasan hutan.

Pentingnya Kesadaran Kolektif

Krisis gajah Tesso Nilo bukan sekadar persoalan satwa liar semata. Ini adalah cerminan dari krisis pengelolaan hutan yang berdampak luas pada ekosistem dan kehidupan manusia di sekitarnya.

Gajah merupakan spesies kunci yang berperan menjaga keseimbangan hutan. Jika gajah hilang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga manusia yang bergantung pada keberlanjutan lingkungan.

Populasi gajah Tesso Nilo yang kini tersisa sekitar 150 ekor menjadi alarm keras bagi semua pihak. Alih fungsi hutan, konflik manusia dengan satwa, serta perburuan menjadi kombinasi ancaman yang sangat serius.

Ke depan, upaya penyelamatan gajah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah semata. Dukungan masyarakat, pengawasan publik, dan pemberitaan yang berkelanjutan menjadi kunci penting agar gajah sumatera tidak tinggal nama. Ikuti terus perkembangan isu lingkungan dan konservasi hanya di Garap Media.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /