Kontroversi Tawaran Buzzer Pemerintah Memanas

Last Updated: 30 August 2025, 15:57

Bagikan:

Uang rakyat dipakai untuk buzzer? Jerome Polin angkat suara. Sumber gambar: Screenshot Instagram Story Jerome Polin
Table of Contents

Kontroversi Tawaran Buzzer Pemerintah Memanas

Fenomena tawaran buzzer dari pemerintah kepada influencer untuk menyebarkan konten ajakan damai tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pihak mengkritik praktik ini karena dianggap manipulatif, tidak transparan, dan menyalahgunakan anggaran publik. Kasus Jerome Polin yang menolak tawaran Rp150 juta menjadi contoh nyata bagaimana fenomena ini menimbulkan kontroversi dan memicu perdebatan etika.


Fenomena Tawaran Buzzer Pemerintah

Beberapa agensi pemerintah diketahui menawarkan bayaran fantastis kepada influencer untuk membuat konten “menenangkan” demonstran dan aparat. Tawaran ini mencapai ratusan juta rupiah untuk satu unggahan, dengan tujuan cepat menjangkau audiens luas. Namun banyak pihak mempertanyakan motif dan legitimasi praktik ini.


Kritik dari Publik dan Aktivis

  • Manipulasi opini publik: Tawaran buzzer dianggap berpotensi membentuk narasi sepihak dan menekan kritik masyarakat.
  • Penyalahgunaan anggaran publik: Uang rakyat seharusnya dialokasikan untuk layanan publik, pendidikan, atau kesehatan, bukan pencitraan melalui influencer.
  • Etika komunikasi politik: Proses mediasi digital melalui konten berbayar menimbulkan pertanyaan tentang integritas pemerintah dan independensi influencer.

Contoh Kasus: Jerome Polin

Jerome Polin menolak tawaran Rp150 juta untuk membuat konten damai. Keputusannya memicu perdebatan luas dan mendapat dukungan netizen yang mengkritik praktik buzzer. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa fenomena ini tidak diterima semua pihak, terutama yang peduli etika dan transparansi penggunaan anggaran publik.


Risiko dan Dampak Negatif

  • Kehilangan kredibilitas influencer: Jika menerima tawaran, influencer bisa dicap sebagai alat politik dan kehilangan objektivitas.
  • Merosotnya kepercayaan publik: Tindakan ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan media sosial sebagai sarana komunikasi yang sehat.
  • Bisa menimbulkan polarisasi: Alih-alih meredam konflik, konten buzzer berisiko memicu perdebatan tajam di kalangan publik.

Alternatif Pendekatan

Para kritikus menekankan pentingnya jalur resmi dan transparan:

  • Mediasi melalui lembaga independen seperti Komnas HAM atau mediator bersertifikasi.
  • Dialog langsung antara pihak pemerintah dan demonstran.
  • Penggunaan anggaran publik untuk kebutuhan riil masyarakat, bukan pencitraan digital.

Fenomena tawaran buzzer pemerintah menimbulkan pertanyaan serius tentang etika, transparansi, dan prioritas anggaran publik. Jerome Polin hanyalah salah satu contoh influencer yang menolak praktik ini, menegaskan bahwa kritik dan integritas tetap penting. Untuk analisis lebih lengkap dan berita terkini, baca terus di Garap Media!

Lampiran Referensi 

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /