Kisah Mitologi Ajax merupakan sebuah tragedi agung dari Mitologi Yunani, yang diabadikan oleh penulis besar seperti Sophocles pada abad ke-5 SM, sejajar dengan karya Iliad dan Odyssey karya Homer.
Tragedi ini mengisahkan seorang pahlawan Yunani yang meraih kegemilangan di Perang Troya, namun kemudian didorong untuk bunuh diri karena terlalu dalam mendalami penderitaan perang.
Oleh karenanya, kisah Ajax menjadi fondasi budaya Barat dalam menyelidiki konsekuensi psikologis dari konflik.
Ajax, yang berjuluk Ajax yang Agung (Ajax the Greater), adalah seorang pahlawan yang dihormati dan berdiri sejajar dengan Achilles serta Diomedes. Ia dikenal sebagai ksatria terhebat kedua setelah Achilles yang sangat menonjol selama Perang Troya.
Silsilah dan Kehidupan Awal
Ajax Agung adalah seorang pangeran dari Salamis, putra dari Telamon dan Periboea. Darah kepahlawanan mengalir dalam dirinya; ayahnya, Telamon, adalah pahlawan yang pernah bertarung bersama Heracles.
Silsilahnya terhubung langsung dengan Achilles karena Paman Ajax adalah Peleus, ayah dari sang pahlawan terhebat.
Kelahirannyadisertai pertanda kebesaran, saat Heracles berdoa agar Telamon dikaruniai putra pemberani, seekor elang muncul sebagai pertanda. Telamon pun menamai putranya Ajax (Aias) sesuai nama elang tersebut.
Karena perawakannya yang tertinggi di antara prajurit Yunani, ia kemudian dijuluki Ajax yang Lebih Besar atau Ajax Telamonian.
Keberadaannya di Perang Troya didasari oleh kewajiban Sumpah Tyndareus untuk melindungi suami Helen yang terpilih.
Kewajiban inilah yang membuatnya memimpin 12 kapal pasukan Salamis saat armada Achaean berkumpul di Aulis.
Kehormatan dan Titik Balik Tragedi
Di medan perang Kekuatannya dibuktikan dengan perisainya yang terkenal, yang terbuat dari tujuh lapis kulit banteng dan perunggu, menjadikannya kebal terhadap tombak.
Ia melawan pangeran Troya, Hector, dalam duel satu lawan satu yang berakhir seimbang, di mana keduanya bertukar hadiah sebagai tanda gencatan senjata, menunjukkan kehormatan dan keadilan Ajax.
Tragedi bermula setelah prajurit besar Achilles tewas dalam pertempuran. Ajax merasa sangat berhak atas baju zirah Achilles karena kini ia dianggap sebagai prajurit Yunani terhebat yang tersisa.
Sayangnya, dua raja, Agamemnon dan Menelaus, malah menghadiahkan baju besi itu kepada Odysseus.
Keputusan ini menghantam harga diri Ajax, membuatnya sangat marah hingga ia memutuskan untuk membunuh kedua raja tersebut sebagai pembalasan.
Baca Juga: 5 Cara Membaca Buku Secara Efektif
Akhir Tragis
Rencana pembunuhan itu dihalangi oleh Athena, dewi kebijaksanaan, yang mengganggu dan menipu Ajax. Alih-alih membunuh kedua raja, Dewi Athena mengarahkan amarahnya pada rampasan tentara Yunani, sehingga Ajax membunuh ternak dan para penggembala, mengira mereka adalah musuh-musuhnya.
Ajax menyembelih hewan-hewan itu dalam euforia berlebihan, yang oleh orang Yunani kuno dikategorikan sebagai “mania” atau “kemarahan” (meliputi delusi, agresi, dan amnesia sementara).
Ajax kemudian sadar dan menyadari perbuatan mengerikan yang telah ia lakukan. Karena diliputi rasa malu yang tak tertahankan, ia berencana untuk mengakhiri hidupnya. Selirnya, Tecmessa, memohon padanya untuk tidak meninggalkan dia dan anak mereka, Eurysaces, tanpa perlindungan.
Meskipun tersiksa, Ajax memberikan perisainya kepada putranya. Ia kemudian pergi dengan alasan akan menyucikan diri dan mengubur pedang yang diberikan kepadanya oleh Hector.
Adapun saudara tiri Ajax, Teucer, telah diperingatkan oleh peramal Calchas bahwa Ajax tidak boleh meninggalkan tendanya sampai akhir hari, atau ia akan binasa. Meskipun Tecmessa dan para prajurit berusaha menemukan Ajax, mereka terlambat.
Pahlawan perang itu telah menancapkan dirinya ke pedangnya yang telah ia kuburkan. Sebelum meninggal, Ajax sempat menyerukan pembalasan terhadap putra Menelaus dan Agamemnon, serta seluruh tentara Yunani.
Perselisihan Pasca-Kematian
Setelah kematiannya, perselisihan sengit terjadi terkait penanganan mayat. Agamemnon dan Menelaus ingin membiarkan mayatnya tidak dipindahkan, sementara Teucer ingin menguburkannya secara terhormat.
Konflik ini baru mereda setelah Odysseus tiba dan membujuk para raja, menunjukkan bahwa musuh pun patut dihormati jika mati. Drama tersebut pun diakhiri dengan Teucer yang mengatur penguburan yang layak bagi sang ksatria.
Kesimpulan
Para penulis kuno, seperti Sophocles, menunjukkan pemahaman mendalam tentang trauma perang dan gangguan mental (mania) yang memengaruhi prajurit. Mereka mengkategorikan gangguan mental tersebut sebagai “mania”, “menos”, “estrus”, atau “kemarahan”, yang gejalanya meliputi delusi, ketakutan yang tidak rasional, agresi, dan amnesia sementara.
Gejala-gejala ini, terutama yang muncul akibat penderitaan perang, dapat dikaitkan dengan pemahaman modern tentang Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD).
Meskipun penyakit mental saat itu dipandang sebagai campur tangan kekuatan dunia lain, Sophocles juga mengisyaratkan faktor manusia; ia menyiratkan bahwa kegilaan Ajax berakar pada karakter sang pahlawan itu sendiri, trauma perang, ketakutan, dan konflik internalnya.
Ketika sang pahlawan kembali ke keadaan rasional, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya secara sadar
Penutup
Tragedi ini mengajarkan bahwa harga diri dan kehormatan adalah pondasi hidup seorang ksatria, tetapi jika dibiarkan berakar menjadi kesombongan, ia dapat mengundang amarah para dewa dan kehancuran diri. Kejatuhannya mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dan kebijaksanaan, bahkan dalam menghadapi penghinaan.
Tertarik dengan kisah kisah Mitologi yang menarik tetapi kurang dikenal? ikuti kisah-kisah epik dan informasi menarik lainnya di garapmedia.com
