Kisah Malin Kundang, Legenda Anak Durhaka yang Terkenal

Last Updated: 14 October 2025, 21:00

Bagikan:

kisah malin kundang legenda anak durhaka
Foto: Pinterest / Diana Dien
Table of Contents

Malin Kundang – Sebuah legenda atau cerita rakyat dari Sumatra Barat, Indonesia, yang menceritakan seorang anak durhaka kepada ibunya dan berakhir dengan kutukan menjadi batu. Kisah ini termasuk salah satu dongeng paling terkenal di Indonesia dan diwariskan turun-temurun melalui cerita lisan maupun media populer.

Cerita malin juga memiliki versi serupa di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia dengan kisah Si Tenggang. Cerita ini menekankan pesan moral tentang bakti kepada orang tua dan pentingnya menghormati asal-usul serta keluarga.


Kisah Malin Kundang: Dari Anak Nelayan Menjadi Saudagar

Awal Kehidupan Malin Kundang

Dahulu di sebuah dusun nelayan di Sumatra Barat, hiduplah seorang anak bernama Malin Kundang bersama ibunya, Mande Rubayah. Sang ayah telah meninggalkan mereka sejak lama. Malin tumbuh menjadi anak cerdas, pemberani, tetapi sedikit nakal. Hidup serba kekurangan membuat Malin terdorong untuk mencari peruntungan di negeri seberang.

Saat dewasa, Malin memutuskan merantau dan menumpang kapal seorang nahkoda kapal dagang yang dulunya miskin tetapi kini kaya. Mande Rubayah awalnya ragu, namun akhirnya mengizinkan Malin dengan pesan agar tidak melupakan ibunya dan kampung halamannya (Detikpedia, 2022; Wikipedia).

Perjalanan dan Kesuksesan Malin Kundang

Dalam pelayaran, kapal yang ditumpangi Malin diserang bajak laut. Semua barang dagangan dirampas dan banyak awak kapal tewas, tetapi Malin selamat karena bersembunyi. Setelah terdampar di pantai, ia memulai hidup baru di desa terdekat dan bekerja keras hingga menjadi saudagar kaya dengan banyak kapal dagang dan anak buah. Malin pun menikah dengan seorang putri cantik dari kalangan bangsawan (Detikpedia, 2022; Wikipedia).


Pertemuan dengan Ibu dan Kutukan

Bertahun-tahun kemudian, malin kembali ke kampung halamannya bersama istrinya. Ibunya mengenali kedatangannya dan mendekati kapal untuk memastikan identitas anaknya. Namun, Malin menolak mengakui ibunya karena malu melihat penampilan Mande Rubayah yang lusuh dan tua.

Ibunya sangat sakit hati dan menyumpahi Malin agar menjadi batu jika memang benar ia anaknya. Tidak lama setelah itu, badai besar menghancurkan kapal malin. Tubuh Malin perlahan menjadi batu karang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatra Barat (Detikpedia, 2022; Wikipedia).


Warisan Budaya dan Pesan Moral

Kisah Malin Kundang telah menginspirasi karya seni di Pantai Air Manis, berupa pecahan kapal dan sosok Malin yang tertelungkup di pesisir pantai. Relief ini dibuat pada tahun 1980-an oleh Ibenzani Usman, dan menjadi daya tarik wisata populer di Padang.

Selain sebagai hiburan, legenda ini menyiratkan pesan moral yang penting: kewajiban anak untuk menghormati, menghargai, dan berbakti kepada orang tua. Kisah ini juga dijadikan dongeng pengantar tidur dan bahan pembelajaran tentang nilai-nilai budaya Minangkabau (Detikpedia, 2022; Wikipedia).

Baca juga: Sejarah Batu Gantung Danau Toba yang Menjadi Misteri


Penutup

Legenda Malin Kundang tetap menjadi cerita rakyat yang relevan untuk generasi muda. Kisah ini mengingatkan akan pentingnya menghormati orang tua dan konsekuensi dari durhaka, sekaligus memperkaya budaya Nusantara.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui legenda dan cerita inspiratif lainnya dari seluruh Nusantara, jangan lewatkan berita dan artikel menarik lainnya di Garap Media. Temukan lebih banyak cerita budaya yang membentuk identitas bangsa.


Referensi:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /