Menganggur: Cara Tetap Produktif dan Menjaga Kesehatan Mental

Last Updated: 31 October 2025, 16:43

Bagikan:

kesehatan mental fresh graduates saat mencari kerja
Sumber gambar: Pixabay/Mohamed_hassan
Table of Contents

Menjaga kesehatan mental bagi fresh graduate sangat penting agar kamu tetap tenang dan fokus selama masa pencarian kerja. Kamu mungkin pernah merasa rendah diri, tidak produktif, atau bahkan kehilangan arah hidup setelah lulus kuliah. Hal itu wajar, karena masa pencarian kerja memang sering jadi sumber tekanan besar bagi banyak fresh graduate. Masa pengangguran sering dianggap sepele, padahal dampaknya terhadap kesehatan mental cukup besar.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, Mei 2025), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 4,76%, dengan rata-rata upah buruh sekitar Rp3,09 juta per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan dunia kerja masih nyata dan lapangan kerja terbatas, sementara jumlah lulusan baru terus bertambah setiap tahun.

Padahal, dua hal paling penting dalam kehidupan orang dewasa adalah keluarga  dan pekerjaan. Keduanya sangat berpengaruh terhadap kebahagiaan dan kestabilan hidupmu. Jadi, saat kamu belum punya pekerjaan tetap, wajar banget kalau muncul rasa cemas, tidak tenang, bahkan merasa tertinggal. Masalah pekerjaan bukan cuma soal ekonomi, tapi juga menyentuh aspek mental yang lebih dalam.  

Kenapa Masih Banyak Fresh Graduate yang Menganggur?

Pengangguran dapat disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan, rendahnya keterampilan para lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar, kurangnya informasi tentang peluang pekerjaan, serta ketimpangan antara kota dan daerah.

Fakta menunjukkan bahwa generasi muda khususnya Generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak menyumbang angka pengangguran. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran usia 15‑24 tahun mencapai sekitar 16 persen.

CNBC Indonesia menyebutkan bahwa Gen Z menganggur karena kurang disiplin, menuntut gaji tinggi yang sering tak sebanding dengan kinerja, dan fokus pada work-life balance untuk menghindari burnout. Perusahaan juga mencatat beberapa Gen Z kesulitan mengatur beban kerja, kurang profesional, dan belum menguasai keterampilan komunikasi yang memadai.

Semua tantangan itu membuat  banyak fresh graduate merasa kewalahan karena mereka tidak hanya bersaing dengan ribuan pelamar lain, tapi juga dengan sistem yang belum sepenuhnya berpihak.

Baca juga: Jumlah Sarjana Pengangguran di Indonesia Melonjak Drastis Tahun 2025

Kecemasan dan Kesehatan Mental Fresh Graduate di Masa Menganggur

Masa pencarian kerja sering kali menjadi sumber tekanan bagi  fresh graduate, perasaan tersebut muncul karena merasa terbebani, takut, dan gelisah. Kecemasan tersebut tergambar melalui ketakutan akan kegagalan tidak diterima kerja, tekanan untuk harus cepat sukses, ataupun perasaan cemas harus menerima pekerjaan yang bertentangan dengan mimpi demi bertahan hidup.

Kecemasan ini menunjukkan bahwa stres yang dialami fresh graduate bukan sekadar akibat faktor eksternal, tapi juga konflik batin antara ego, keinginan, dan nilai-nilai moral dalam diri mereka sendiri.

Stigma Sosial Terhadap Fresh Graduate 

Kalau kamu belum kerja, berarti kamu malas, manja, atau tidak berusaha mencari kerja. Fresh graduate sering dianggap beban keluarga atau produk pendidikan gagal. Sayangnya, masyarakat sering buru-buru menilai tanpa tahu proses di baliknya. Akibatnya, kamu bisa merasa gagal, minder, bahkan mulai mempertanyakan diri sendiri hal tersebut berpengaruh besar bagi kesehatan mental fresh graduate.

Stigma seperti ini bikin banyak orang akhirnya menarik diri, kehilangan motivasi, dan makin stres karena tekanan sosialnya lebih berat daripada proses cari kerja itu sendiri. Kadang bukan dunia kerja yang paling melelahkan, tapi pandangan orang di sekitar yang tidak sabar melihat kamu berproses.

Apalagi kalau kamu akhirnya kerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan kuliahmu bukan karena kamu tidak memiliki kemampuan, tapi karena realita lapangan kerja sekarang memang tidak mudah. Padahal banyak faktor di luar kendali kamu mulai dari pasar kerja yang ketat sampai ekonomi yang belum stabil.

Wellness dan Menjaga Kesehatan Mental bagi Fresh Graduate

Kehidupan setelah lulus sering kali membuat kamu merasa bingung harus memulai dari mana. Tidak ada lagi rutinitas kuliah, tugas, atau jadwal yang teratur. Kini, harimu mungkin dipenuhi dengan mencari lowongan, memperbaiki CV, dan menunggu kabar dari hasil wawancara. Proses itu bisa terasa melelahkan bukan hanya secara fisik, tapi juga mental.

Namun, masa menganggur bukan berarti kamu berhenti berkembang. Kamu dapat melakukan beberapa hal antara lain:

  • Bagun Rutinitas Baru

Cobalah untuk perlahan membangun rutinitas dan tetap aktif meski sedang menganggur. Kamu mungkin belum memiliki jadwal yang teratur, tapi bukan berarti tidak bisa mulai menata hari-harimu. Salah satu cara sederhana adalah dengan berolahraga, pilih jenis olahraga yang kamu sukai agar terasa menyenangkan. Masa-masa menganggur sering kali menjadi periode paling rawan stres, dan dengan berolahraga kamu tidak hanya mengisi waktu dengan hal positif, tapi juga menjaga kesehatan fisik serta menenangkan pikiran.

  • Batasi Scroll Media Sosial

Batasi waktu kamu menggunakan media sosial. Coba tentukan sendiri batas harian, misalnya hanya membuka media sosial selama 30 menit hingga 1 jam setiap hari. Gunakan waktu tersebut untuk hal yang bermanfaat, seperti mencari informasi lowongan pekerjaan, mengikuti akun yang membagikan tips karier, atau menemukan kegiatan positif yang bisa kamu ikuti untuk menambah pengalaman dan relasi. Dengan begitu, media sosial tetap jadi alat pengembangan diri, bukan sumber perbandingan dan stres.

  • Bangun Koneksi yang Sehat

Gabunglah dalam komunitas online atau kegiatan volunteering yang sesuai dengan minatmu. Terlibat di lingkungan positif membuatmu bisa bertemu orang-orang baru, memperluas relasi, dan menemukan perspektif berbeda tentang dunia kerja maupun kehidupan.

Jaga koneksi dengan orang di sekitarmu dan tinggalkan kesan baik siapa tahu mereka punya info lowongan yang cocok untukmu. Dukungan sosial seperti ini terbukti mampu menjaga kesehatan mental dan membuat kamu merasa tidak sendirian saat sedang berproses mencari arah baru.

  • Belajar dan Mengembangkan Diri

Cobalah terus belajar dan mengasah keterampilan terbaru yang dibutuhkan di dunia kerja. Kamu bisa ikut kursus singkat, membaca buku, atau memanfaatkan platform gratis untuk meng-upgrade skill.

Webinar kini juga mudah diakses dan biasanya gratis, sementara magang, seperti program MagangHub dari pemerintah yang sebentar lagi dibuka, bisa jadi kesempatan emas untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata sekaligus bimbingan langsung.

Baca juga: Skill Fresh Graduate yang Dicari Perusahaan

Ingat, wellness bukan cuma soal fisik, tapi juga mental dan sosial. Menjaga kewarasan adalah bagian penting dalam membangun kariermu. Dengan tetap aktif dan belajar hal baru, kamu membantu menjaga kesehatan mentalmu agar tidak mudah stres. Di tengah tekanan sosial dan standar yang sering tidak realistis, penting banget buat kamu punya definisi sukses versi diri sendiri. Sukses tidak selalu berarti punya pekerjaan tetap di usia muda; kadang sukses adalah tetap berusaha, belajar, dan berkembang meski hasilnya belum terlihat.

Baca insight menarik lainnya tentang tips pengembangan karier dan produktivitas di Garap Media.

Referensi:

  1. Krisis Peran Sosial: Pengangguran dan Gangguan Psikologis dalam Struktur Masyarakat Modern
  2.  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen, rata–rata upah buruh sebesar Rp 3,09 juta.
  3. Survei: Gen Z Sumbang Angka Pengangguran Tertinggi di Indonesia
  4. Nyaris 10 Juta Gen Z Indonesia Menganggur, Apa Penyebabnya?

Tags:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /