Gen Z kini memasuki usia produktif dan mulai memikirkan masa depan finansial mereka. Namun, memiliki rumah tampaknya menjadi impian yang semakin jauh dari jangkauan. Kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan menjadi salah satu alasan utama mengapa Gen Z kesulitan membeli rumah di era sekarang.
Indeks harga properti residensial terus meningkat rata-rata 3–5% per tahun. Sementara itu, kenaikan upah minimum di beberapa wilayah Indonesia hanya berkisar 1–2% per tahun . Ketimpangan ini menciptakan jurang besar antara daya beli dan harga pasar.
1. Harga Rumah Naik, Gaji Tak Mengimbangi
Kenaikan harga rumah di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, dan Bandung telah melampaui kemampuan finansial mayoritas pekerja muda. Harga rumah tapak di Jakarta kini rata-rata mencapai Rp1 miliar, sementara gaji rata-rata pekerja di kota Jakarta hanya sekitar 5-6 juta per bulan.
Kondisi ini memaksa banyak anak muda memilih opsi sewa apartemen kecil atau tetap tinggal bersama orang tua. Fenomena generation rent atau generasi penyewa kini semakin nyata di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di negara-negara maju di Asia seperti negara Jepang dan Korea Selatan.
Baca Juga: Biaya Hidup Naik Gaji Tak Beranjak: Realita Pahit Pekerja Indonesia 2025
2. Perubahan Gaya Hidup dan Prioritas Finansial
Selain faktor ekonomi, gaya hidup juga memengaruhi kemampuan Gen Z dalam membeli rumah. Generasi Gen Z cenderung lebih memilih fleksibilitas, pengalaman, dan kebebasan finansial daripada memiliki aset jangka panjang.
Mereka lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk gaya hidup digital, traveling, dan investasi jangka pendek seperti kripto atau saham. Akibatnya, tabungan untuk DP rumah menjadi kurang prioritas karena bunganya yang terlalu tinggi setiap bulan.
3. Suku Bunga dan Akses Kredit yang Ketat
Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai program seperti FLPP dan Tapera untuk membantu pembelian rumah pertama, tidak semua Gen Z memenuhi syarat. Bahwa rasio kredit macet perumahan meningkat di kalangan usia muda, membuat perbankan lebih berhati-hati dalam memberikan KPR.
Selain itu, suku bunga KPR yang masih berada di kisaran 9–10% per tahun menjadi beban tambahan. Dengan cicilan yang tinggi dan penghasilan yang belum stabil, banyak Gen Z menunda rencana membeli rumah hingga usia 30 an atau lebih.
4. Ketimpangan Antara Kota dan Daerah
Ketimpangan harga properti antara kota besar dan daerah juga memperburuk situasi. Di wilayah Jabodetabek, kenaikan harga rumah lebih cepat dibandingkan di luar Pulau Jawa, 70% permintaan properti baru masih terpusat di wilayah perkotaan.
Bagi Gen Z yang bekerja di kota besar, mencari rumah dengan harga terjangkau di tengah kota hampir mustahil. Sementara di daerah, meski harga lebih murah, lapangan pekerjaan yang sesuai justru lebih sedikit.
5. Solusi dan Harapan di Masa Depan
Beberapa solusi mulai muncul, seperti tren co living dan rumah modular yang lebih terjangkau. Pemerintah juga didorong untuk memberikan insentif pajak bagi pembeli rumah pertama dan memperluas akses kredit mikro untuk generasi muda.
Selain itu, edukasi finansial menjadi kunci. Banyak Gen Z kini mulai belajar tentang perencanaan keuangan, investasi properti digital seperti REITs, dan strategi menabung jangka panjang agar dapat membeli rumah di masa depan.
Penutup
Fenomena kesulitan Gen Z beli rumah adalah refleksi dari tantangan ekonomi modern yang dihadapi generasi muda di Indonesia. Kenaikan harga properti, ketimpangan upah, serta gaya hidup konsumtif menjadi kombinasi kompleks yang perlu diatasi melalui kebijakan dan kesadaran finansial.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan lembaga keuangan menjadi penting untuk menciptakan ekosistem perumahan yang lebih inklusif bagi generasi muda. Simak terus berita ekonomi dan sosial terkini hanya di Garap Media.
