Kenapa Gen Z Kini Parno Cacingan? Fakta Mengejutkan di Baliknya
Belakangan ini, timeline media sosial penuh dengan keresahan Gen Z soal cacingan. Bukan sekadar isu kesehatan biasa, tetapi jadi fenomena sosial yang ramai dibicarakan di TikTok hingga X. Banyak dari mereka yang tiba-tiba panik, bahkan sampai memborong obat cacing di apotek. Pertanyaannya, apakah kekhawatiran ini benar-benar beralasan atau sekadar ketakutan massal yang dipicu konten viral?
Awal Mula Kekhawatiran Gen Z
Kecemasan Gen Z terhadap cacingan mencuat setelah kasus balita asal Sukabumi yang meninggal dunia dan sempat dikaitkan dengan infeksi cacing. Meski dokter menyebut kematian tersebut lebih disebabkan oleh sepsis, banyak orang muda terlanjur merasa terancam.
Sejumlah laporan menyebut, pasca-viral kasus itu, apotek mencatat lonjakan penjualan obat cacing. Gen Z yang sebelumnya jarang memikirkan soal cacingan, kini mulai rutin membeli obat cacing meski tidak semua memiliki gejala. Fenomena ini disebut pakar sebagai bentuk “panic buying berbasis kesehatan”.
Fakta Medis tentang Cacingan
Seberapa Umum Cacingan di Indonesia?
Data CNBC Indonesia menyebut, prevalensi cacingan di Tanah Air berkisar 2,5% hingga 62%, tergantung wilayah dan kondisi sanitasi. Pada anak sekolah dasar, rata-ratanya sekitar 28%. CNN Indonesia juga melaporkan hampir 80% kasus menimpa anak usia 5–10 tahun.
Artinya, meski bukan masalah baru, cacingan lebih banyak menyerang kelompok usia anak-anak daripada Gen Z yang sudah beranjak remaja hingga dewasa muda.
Bahaya Infeksi Berat
Ahli parasitologi Muhammadiyah mengingatkan, infeksi cacing tidak bisa dianggap sepele. Dalam kasus berat, cacingan dapat memicu komplikasi serius seperti obstruksi usus, peritonitis, anemia berat, bahkan kematian. Namun, hal itu biasanya terjadi jika infeksi tidak ditangani dalam jangka panjang dan penderitanya memiliki imunitas rendah.
Mengapa Gen Z Jadi Sangat Cemas?
Ada beberapa faktor yang membuat kecemasan ini lebih terasa di kalangan Gen Z:
- Paparan medsos berlebihan: Video viral tentang cacing atau cerita penderita cepat menyebar tanpa filter.
- Kurang informasi valid: Tidak semua Gen Z terbiasa cek ke sumber kredibel. Akibatnya, rumor cepat berubah jadi kepanikan.
- Pola pikir preventif: Banyak anak muda lebih sadar kesehatan, sehingga cenderung bereaksi cepat—walaupun kadang berlebihan.
- Pengalaman pribadi minim: Generasi sebelumnya sering mengalami cacingan di masa kecil, sehingga lebih tenang. Sebaliknya, Gen Z yang jarang mengalaminya jadi kaget ketika isu ini muncul.
Cara Bijak Menghadapi Isu Cacingan
Tetap Tenang, Jangan Panik
Mengonsumsi obat cacing tanpa indikasi bukan langkah tepat. Pakar kesehatan menyarankan minum obat sesuai jadwal rutin yang disarankan (umumnya 6 bulan sekali pada anak-anak), bukan berdasarkan tren viral.
Perhatikan Kebersihan Sehari-Hari
- Rajin cuci tangan dengan sabun.
- Pastikan makanan, terutama sayur dan buah, dicuci bersih sebelum dimakan.
- Gunakan alas kaki ketika beraktivitas di luar rumah.
- Jaga sanitasi lingkungan agar telur cacing tidak menyebar.
Konsultasi dengan Tenaga Medis
Jika merasa punya gejala seperti sakit perut berkepanjangan, diare, atau penurunan berat badan signifikan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas. Langkah ini lebih aman daripada hanya mengandalkan info medsos.
Fenomena Gen Z yang takut cacingan adalah cerminan bagaimana isu kesehatan bisa viral dan menimbulkan kepanikan massal. Padahal, fakta menunjukkan bahwa cacingan bisa dicegah dengan kebiasaan hidup bersih dan pengobatan yang tepat. Jadi, tetaplah waspada tapi jangan berlebihan.
Untuk terus mendapatkan informasi kesehatan yang kredibel dan terupdate, baca berita menarik lainnya hanya di Garap Media.
Lampiran Referensi
