Kemarau Basah Melanda! Ini Dampak Tak Terduga

Last Updated: 24 May 2025, 13:25

Bagikan:

Fenomena ini menggambarkan “kemarau basah” yang tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia, menciptakan ketidakpastian cuaca yang tak terduga.
Table of Contents

Fenomena Kemarau Basah: Ancaman Tersembunyi di Musim Kering

Musim kemarau biasanya identik dengan panas terik dan kekeringan panjang. Namun, bagaimana jika musim kemarau justru disertai hujan deras? Fenomena ini dikenal sebagai kemarau basah — sebuah anomali cuaca yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini bukan hanya membingungkan, tapi juga membawa dampak signifikan terhadap pertanian, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kemarau basah menjadi sorotan para ahli klimatologi karena pergeseran pola musim yang tidak menentu, diduga akibat perubahan iklim global dan fenomena alam seperti La Nina. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang apa itu kemarau basah, penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana kita harus bersiap menghadapinya.


Apa Itu Kemarau Basah?

Definisi Kemarau Basah

Kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih turun secara berkala atau bahkan intens, meskipun sudah memasuki musim kemarau secara kalender klimatologi. Di Indonesia, musim kemarau biasanya dimulai sekitar bulan April hingga Oktober. Namun, dalam kemarau basah, hujan tetap terjadi meskipun seharusnya langit cerah dan tanah kering.

Ciri-Ciri Utama

Beberapa ciri khas dari kemarau basah antara lain:

  • Curah hujan tetap tinggi saat musim kemarau berlangsung.

  • Intensitas hujan tidak menurun signifikan.

  • Suhu udara tetap lembap.

  • Kelembapan tanah dan udara lebih tinggi dibanding musim kemarau normal.

Fenomena ini bisa berlangsung beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung dari kekuatan faktor pemicunya.


Penyebab Kemarau Basah

Pengaruh La Nina

Salah satu faktor utama kemarau basah adalah keberadaan La Nina, yakni fenomena pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. La Nina menyebabkan massa udara lembap dari Samudra Pasifik lebih banyak bergerak ke wilayah Indonesia, sehingga curah hujan meningkat meskipun sedang musim kemarau.

Perubahan Iklim Global

Perubahan iklim juga menjadi penyebab jangka panjang. Pemanasan global mengganggu siklus hidrologi normal, sehingga batas antara musim hujan dan kemarau menjadi kabur. Ini membuat musim kemarau yang seharusnya kering tetap diselingi oleh hujan dengan intensitas bervariasi.

Pengaruh Regional

Faktor lokal seperti aktivitas alih fungsi lahan, penggundulan hutan, dan urbanisasi tanpa perencanaan juga turut memicu ketidakteraturan cuaca. Kawasan yang dulunya berfungsi sebagai daerah tangkapan air kini tidak lagi mampu menyerap air hujan, yang memperburuk dampak kemarau basah.


Dampak Kemarau Basah

Terhadap Pertanian

Petani sangat terdampak dengan kondisi ini. Musim kemarau yang seharusnya menjadi waktu panen justru berubah jadi periode yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman akibat kelembapan tinggi. Kegiatan seperti pengeringan gabah juga menjadi lebih sulit.

Risiko Banjir Lokal

Karena drainase banyak daerah tidak dirancang untuk menghadapi hujan deras di musim kemarau, maka banjir lokal bisa terjadi. Ini menambah beban infrastruktur dan menyulitkan aktivitas warga.

Gangguan Kesehatan

Kemarau basah menciptakan kondisi yang ideal untuk berkembangnya nyamuk dan penyakit tropis seperti demam berdarah. Kelembapan tinggi juga mempercepat pertumbuhan jamur dan bakteri yang bisa memicu infeksi kulit dan saluran pernapasan.


Antisipasi dan Solusi

Edukasi dan Informasi Publik

Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang tepat dari BMKG terkait kondisi cuaca dan iklim. Sosialisasi tentang fenomena seperti kemarau basah perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak lengah atau salah mengartikan situasi.

Tata Kelola Air yang Lebih Baik

Pemerintah daerah harus memperbaiki sistem drainase dan pengelolaan air hujan. Sistem irigasi juga perlu disesuaikan agar mampu mengakomodasi hujan yang tetap turun saat kemarau.

Adaptasi Sektor Pertanian

Penerapan teknologi pertanian yang adaptif terhadap cuaca, seperti green house atau sistem pertanian vertikal, bisa menjadi solusi jangka panjang. Diversifikasi tanaman juga penting agar ketahanan pangan tidak bergantung pada satu jenis tanaman.


Kemarau basah bukan sekadar anomali cuaca biasa. Fenomena ini mencerminkan dampak nyata dari perubahan iklim dan menuntut kita untuk lebih adaptif dan waspada. Mulai dari petani, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum perlu bersinergi agar dampaknya bisa diminimalkan.

Tetap update dengan informasi cuaca dan iklim terbaru hanya di Garap Media – sumber berita terpercaya yang menyajikan informasi aktual dan mendalam tentang isu lingkungan dan perubahan iklim. Jangan lewatkan berita-berita lainnya yang mengupas fenomena alam secara lengkap dan tajam!

Lampiran Referensi

  1. CEWS BMKG.

  2. Detik.com.

  3. Kompas.com.

  4. Mongabay Indonesia.

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /