Kayu Gelondongan Serbu Danau Singkarak Usai Banjir

Last Updated: 4 December 2025, 00:05

Bagikan:

Banjir bandang menyisakan hamparan kayu gelondongan di perairan Sumatera Barat yang kini menjadi perhatian serius berbagai pihak sebagai dampak kerusakan lingkungan. Sumber gambar: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.
Table of Contents

Kayu Gelondongan Serbu Danau Singkarak Usai Banjir

Fenomena tumpukan kayu gelondongan pascabanjir terlihat jelas di permukaan Danau Singkarak. Potongan batang kayu berbagai ukuran mengapung dan saling bertumpuk, membentuk hamparan material alami yang menutup sebagian perairan danau.

Menurut laporan media nasional, kayu-kayu tersebut terbawa arus banjir dari kawasan hulu sungai yang bermuara ke Danau Singkarak. Intensitas hujan yang tinggi membuat aliran sungai meluap, membawa serta material besar seperti batang pohon dan potongan kayu dari kawasan perbukitan (DetikTravel, 2025).

Kondisi serupa juga terjadi di Pantai Air Tawar, Kota Padang. Sejumlah kayu gelondongan terseret hingga ke bibir pantai dan tersangkut di beberapa titik pesisir. Peristiwa ini menjadi bukti betapa kuatnya daya rusak banjir bandang yang terjadi (DetikTravel, 2025).

Dampak Lingkungan dan Aktivitas Warga

Keberadaan kayu gelondongan dalam jumlah besar di Danau Singkarak menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan ekosistem. Danau ini merupakan salah satu sumber perikanan air tawar penting di Sumatera Barat. Material kayu yang menumpuk berpotensi mengganggu kualitas air, menghambat pergerakan ikan, serta memengaruhi rantai makanan di dalam ekosistem danau.

Selain itu, aktivitas nelayan juga ikut terdampak. Perahu sulit melintas akibat banyaknya kayu yang mengapung di permukaan danau. Di kawasan Pantai Air Tawar, material kayu mengganggu kenyamanan pengunjung dan berpotensi membahayakan wisatawan yang beraktivitas di sekitar pantai.

Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat mulai melakukan pembersihan secara bertahap. Namun, luasnya sebaran kayu membuat proses ini memerlukan waktu, tenaga, dan koordinasi lintas instansi.

Asal Kayu Masih Ditelusuri Aparat

Hingga kini, asal pasti kayu gelondongan yang hanyut masih dalam proses penyelidikan. Aparat penegak hukum melalui Bareskrim Polri resmi melakukan penelusuran untuk memastikan dari mana kayu-kayu tersebut berasal dan apakah ada unsur pelanggaran hukum kehutanan (ANTARA, 2025).

Pihak Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa kayu yang terbawa banjir bisa berasal dari beragam sumber (ANTARA Sumbar, 2025). Di antaranya adalah pohon lapuk, pohon tumbang akibat cuaca ekstrem, hingga kayu yang berada di area penggunaan lain. Meski demikian, kemungkinan adanya unsur pembalakan liar juga tidak sepenuhnya dikesampingkan.

Proses penyelidikan ini dinilai penting untuk memastikan apakah bencana lingkungan yang terjadi murni akibat faktor alam atau diperparah oleh aktivitas manusia yang merusak hutan di kawasan hulu DAS.

Sinyal Kuat Kerusakan Hulu DAS

Sejumlah pengamat lingkungan menilai bahwa hanyutnya kayu gelondongan dalam jumlah besar menjadi sinyal adanya tekanan serius di wilayah hulu DAS. Hilangnya tutupan hutan akibat alih fungsi lahan maupun penebangan yang tidak terkendali dapat memperbesar risiko banjir bandang.

Tanpa penyangga alami berupa hutan, air hujan langsung mengalir deras ke sungai dan membawa berbagai material besar. Akibatnya, kerusakan tidak hanya terjadi di kawasan hulu, tetapi juga di wilayah hilir seperti danau dan kawasan pesisir.

Kondisi ini mempertegas bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dilakukan di wilayah terdampak, tetapi harus dimulai dari perlindungan kawasan hutan di hulu sungai.

Upaya Penanganan dan Mitigasi

Pembersihan kayu gelondongan di Danau Singkarak dan Pantai Air Tawar menjadi langkah awal yang harus segera dituntaskan. Pemerintah daerah bersama relawan dan warga setempat bergotong royong memindahkan batang-batang kayu dari perairan dan pesisir.

Di sisi lain, upaya jangka panjang juga perlu disiapkan, mulai dari rehabilitasi hutan di kawasan hulu DAS, pengetatan pengawasan terhadap aktivitas kehutanan, hingga penegakan hukum bagi pelaku perusakan lingkungan.

Fenomena kayu gelondongan yang memenuhi Danau Singkarak dan Pantai Air Tawar bukan sekadar dampak visual dari banjir bandang. Peristiwa ini menjadi cermin rapuhnya keseimbangan alam ketika hutan di kawasan hulu tidak lagi mampu menahan laju air dan material.

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan penanganan pascabanjir serta upaya rehabilitasi lingkungan. Untuk informasi lengkap seputar bencana alam dan isu lingkungan lainnya, terus ikuti liputan terbaru di Garap Media.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /