Kapurung Sagu: Kuliner Tradisional Sulawesi yang Jadi Buruan Food Hunter
Kapurung sagu kembali mencuri perhatian publik setelah menjadi salah satu kuliner tradisional Sulawesi Selatan yang paling banyak dibicarakan di media lokal. Hidangan berbahan dasar sagu ini kini hadir tidak hanya di daerah asalnya, Luwu Raya, tetapi juga merambah ke Makassar dan menjadi favorit wisatawan pencinta kuliner nusantara (Detik Sulsel, 2022).
Sebagai makanan yang dulu dikonsumsi harian masyarakat berbasis sagu, kapurung sagu memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. Kehadirannya kini di restoran-restoran modern membuktikan bahwa kuliner lokal mampu bertahan dan berkembang mengikuti tren makanan kekinian (IndonesiaKaya, n.d.).
Apa Itu Kapurung Sagu?
Asal Usul Kapurung Sagu
Kapurung sagu merupakan kuliner tradisional yang berasal dari wilayah Luwu Raya, termasuk Kota Palopo dan Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan. Identitas lokal ini dikenal sebagai makanan khas yang menjadi alternatif pengganti nasi dalam kehidupan masyarakat zaman dulu (Detik Sulsel, 2022). Hidangan ini secara turun-temurun dipertahankan dan kini menjadi ikon budaya kuliner Luwu.
Bahan dan Proses Penyajian
Bahan utama kapurung sagu adalah tepung atau sari sagu yang dimasak hingga mengental lalu dibentuk menjadi bulatan kecil. Penyajiannya menggunakan kuah ikan atau kuah sayur yang segar dengan campuran aneka sayuran seperti jagung, kacang panjang, jantung pisang, dan bayam—menghasilkan kombinasi tekstur dan rasa yang unik (Pikiran-Rakyat Sulsel, 2025).
Kuah kapurung memiliki ciri khas rasa asam segar yang berasal dari jeruk nipis atau air asam, memberikan sensasi menyegarkan dan berbeda dibanding kuliner tradisional lain yang umumnya gurih dan berat. Rasa kenyal sagu yang berpadu dengan kuah asam gurih menjadi daya tarik utama hidangan ini.
Popularitas Kapurung Sagu yang Meningkat
Transformasi kapurung sagu dari makanan rakyat menjadi kuliner populer terlihat dari meningkatnya jumlah restoran dan kedai yang menyediakan menu ini, terutama di kota besar seperti Makassar. Kini, kapurung tidak lagi dianggap makanan sederhana, melainkan kuliner bernilai budaya yang layak dipromosikan ke tingkat nasional (Detik Sulsel, 2022).
Selain itu, variasi penyajian semakin berkembang, misalnya menggunakan pilihan topping seperti ayam, ikan bandeng, udang, hingga ikan bakar (Detik Sulsel, 2022). Kreasi ini diadaptasi mengikuti selera generasi muda yang ingin mencoba kuliner tradisional dengan sentuhan modern.
Nilai Budaya dan Kandungan Gizi Kapurung Sagu
Lebih dari sekadar makanan, kapurung sagu merupakan simbol kebersamaan karena biasanya disantap dalam jumlah besar dan dinikmati secara komunal. Momen makan kapurung sering menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota keluarga maupun masyarakat (WamaNews, 2024).
Dari sisi gizi, sagu mengandung karbohidrat kompleks yang baik sebagai sumber energi, sementara sayuran di dalam kuah menyuplai serat dan vitamin. Ikan atau udang memberi tambahan protein sehingga menjadikan kapurung sebagai makanan yang relatif lengkap dan seimbang (Liputan6, 2025).
Kapurung sagu telah membuktikan bahwa kuliner tradisional tidak kalah menarik dibandingkan makanan modern. Sebagai warisan budaya yang terus bertahan, kapurung layak menjadi hidangan wajib bagi siapa pun yang berkunjung ke Sulawesi Selatan. Jika Anda pecinta kuliner lokal, hidangan ini patut masuk daftar eksplorasi rasa Anda.
Terus ikuti berita kuliner Indonesia lainnya hanya di Garap Media, dan temukan ragam kuliner tradisional yang tak kalah menggugah selera. Bagikan pengalaman Anda dan jadilah bagian dari pelestarian budaya kuliner nusantara.
Referensi
