Jumenengan PB XIV Hangabehi berlangsung di Keraton Kasunanan Surakarta pada Sabtu, 5 September 2026, melalui prosesi pembacaan ikrar di Watu Gilang, Sitihinggil. PB XIV Hangabehi membacakan sumpah di depan Meriam Nyai Setomi sebagai bagian dari rangkaian adat yang menandai bertakhtanya dirinya sebagai Paku Buwana XIV menurut pihak Keraton Surakarta. Prosesi tersebut sekaligus menegaskan amanah untuk menjaga tata adat dan warisan leluhur Keraton Surakarta. (Suara.com, 2026)
Jumenengan PB XIV Hangabehi Digelar di Sitihinggil Keraton Surakarta
Prosesi Jumenengan PB XIV Hangabehi berlangsung sekitar pukul 09.10 WIB di kompleks Sitihinggil Keraton Surakarta. PB XIV Hangabehi keluar dari kedhaton menuju Pagelaran sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mangguntur Tangkil di Sitihinggil. (Suara.com, 2026)
Rangkaian tersebut melibatkan para pengiring, kerabat, abdi dalem, dan perangkat upacara sesuai tata adat Keraton Kasunanan Surakarta. Prosesi tersebut juga membawa ampilan dalem atau pusaka serta perangkat kesenian yang menjadi bagian dari kelengkapan upacara. (Putra Indonesia, 2026)
Rangkaian utama Jumenengan tersebut mencakup beberapa tahapan penting:
- PB XIV Hangabehi keluar dari kedhaton menuju Pagelaran.
- PB XIV Hangabehi menuju Mangguntur Tangkil di Sitihinggil.
- PB XIV Hangabehi berdiri di atas Watu Gilang.
- PB XIV Hangabehi membacakan ikrar atau sumpah.
- Kerabat dan abdi dalem mengikuti prosesi sesuai tata adat Keraton Surakarta.
Ikrar PB XIV Hangabehi Dibacakan di Depan Meriam Nyai Setomi
PB XIV Hangabehi membacakan ikrar di atas Watu Gilang yang berada di Mangguntur Tangkil, Sitihinggil. Lokasi tersebut berada tepat di depan Meriam Nyai Setomi yang menjadi salah satu pusaka penting dalam lingkungan Keraton Surakarta. (Suara.com, 2026)
Ikrar tersebut menyatakan kesanggupan PB XIV Hangabehi untuk menjalankan amanah leluhur. Pembacaan ikrar tersebut juga menyebut gelar lengkap Paku Buwana XIV sebagai bagian dari prosesi adat.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa Mangguntur Tangkil menjadi lokasi penyampaian amanah tersebut. Menurut Gusti Moeng, prosesi tersebut menegaskan kewajiban penguasa keraton untuk menjalankan tata adat dan menjaga warisan leluhur. (Suara.com, 2026)
Makna utama prosesi tersebut mencakup:
- Ikrar menjadi simbol kesanggupan menjalankan amanah leluhur.
- Watu Gilang menjadi lokasi penting dalam tata upacara Keraton Surakarta.
- Meriam Nyai Setomi menjadi salah satu pusaka yang mengiringi simbolisme prosesi.
- Tata adat menjadi bagian utama dalam pengukuhan kedudukan PB XIV Hangabehi.
Rangkaian Adat Jumenengan PB XIV Hangabehi Berlangsung Sejak 4 September
Keraton Surakarta memulai rangkaian upacara adat untuk melengkapi Jumenengan PB XIV Hangabehi sejak Jumat, 4 September 2026. Rangkaian tersebut berlanjut pada prosesi utama pembacaan ikrar di Sitihinggil pada Sabtu, 5 September 2026. (RRI, 2026)
RRI mencatat Keraton Kasunanan Surakarta menggelar upacara adat Hanjangkepi Jumeneng Ndalem ISKS Paku Buwono XIV Hangabehi. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari tata adat untuk melengkapi proses bertakhtanya PB XIV Hangabehi. (RRI, 2026)
Jumenengan PB XIV Hangabehi Berlangsung di Tengah Polemik Suksesi Keraton
Prosesi Jumenengan PB XIV Hangabehi berlangsung ketika persoalan suksesi Keraton Surakarta masih menghadapi perbedaan klaim. Pihak Hangabehi menyatakan prosesi tersebut melengkapi bertakhtanya PB XIV, tetapi pihak lain masih mempertanyakan status raja definitif Keraton Surakarta. (Suara.com, 2026)
GPH Suryo Wicaksono atau Gusti Neno menyatakan bahwa prosesi Jumenengan Hangabehi belum otomatis menetapkan raja definitif yang diakui pemerintah. Gusti Neno juga menyebut pemerintah dan perwakilan Catur Sagatra tidak hadir dalam prosesi tersebut. (Suara.com, 2026)
Persoalan tersebut muncul karena terdapat lebih dari satu pihak yang sebelumnya menyatakan diri sebagai penerus takhta PB XIII. Situasi tersebut membuat prosesi Jumenengan tidak hanya memiliki dimensi adat, tetapi juga berkaitan dengan persoalan legitimasi dalam suksesi Keraton Surakarta. (Tirto, 2025)
Jumenengan PB XIV Hangabehi Menjaga Tradisi Keraton Surakarta
Prosesi Jumenengan PB XIV Hangabehi menunjukkan keberlanjutan tata upacara tradisional Keraton Surakarta. Pembacaan ikrar di Watu Gilang memperlihatkan posisi adat sebagai bagian penting dalam proses pengukuhan seorang penguasa keraton. (Suara.com, 2026)
Tradisi tersebut juga memperlihatkan hubungan antara penguasa, leluhur, pusaka, dan tata upacara dalam budaya Keraton Surakarta. Rangkaian Jumenengan menjadi ruang bagi keraton untuk mempertahankan simbol, tata cara, dan nilai yang diwariskan lintas generasi.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan sejarah Keraton Surakarta pada 2026. Pembaca dapat mengikuti perkembangan budaya dan sejarah Jawa lainnya melalui berbagai artikel terbaru di Garap Media.
Perdebatan mengenai suksesi juga menunjukkan bahwa perjalanan Keraton Surakarta tidak hanya berkaitan dengan pelestarian tradisi, tetapi juga menyangkut dinamika internal keluarga dan legitimasi kepemimpinan. Baca artikel lainnya di Garap Media untuk mengikuti perkembangan Keraton Surakarta, budaya Jawa, serta berbagai peristiwa budaya Indonesia.
Referensi
