Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah Indonesia kini menarik perhatian internasional. Delegasi dari Jepang datang langsung untuk mempelajari pelaksanaan MBG yang dinilai berhasil diterapkan dalam skala besar.
Kunjungan tersebut dilakukan oleh perwakilan Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI). Mereka meninjau Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) Pasir Putih di Depok, Jawa Barat. Dari studi banding ini, Jepang menemukan perbedaan penting sekaligus peluang kerja sama strategis di bidang pendidikan dan pengelolaan gizi.
MBG Indonesia Jepang Jadi Rujukan Internasional
Skala Program yang Dianggap Luar Biasa
Delegasi Jepang mengaku terkesan dengan skala Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Program ini menjangkau puluhan juta penerima manfaat setiap hari. Skala ini jauh lebih besar dibandingkan program makan sekolah di Jepang, yang berkembang secara bertahap selama puluhan tahun (detikFinance, 2026).
Menurut JCCI, kecepatan Indonesia dalam membangun sistem distribusi, dapur produksi, dan manajemen logistik MBG menjadi nilai tambah yang jarang ditemui di negara lain.
Temuan Perbedaan Sistem MBG Indonesia dan Jepang
Dalam studi banding tersebut, Jepang juga mencatat perbedaan teknis dalam pelaksanaan program. Salah satu perbedaan utama adalah standar keamanan pangan. Di Jepang, setiap makanan wajib melalui pengukuran suhu minimal 80 derajat Celsius sebelum disajikan kepada siswa, sementara di Indonesia pengawasan lebih menitikberatkan pada kebersihan dapur, bahan baku, dan distribusi cepat (detikFinance, 2026).
Meski berbeda pendekatan, Jepang menilai sistem operasional MBG Indonesia sudah tertata rapi dan memiliki petunjuk teknis yang jelas.
Jepang Tawarkan Program Magang dan Transfer Ilmu
Peluang Magang Siswa SMK
Selain melakukan studi banding, Jepang juga menawarkan kerja sama konkret. Jepang membuka peluang program magang bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Indonesia, khususnya jurusan tata boga dan gizi, sebagai bentuk pertukaran ilmu pengelolaan makanan bergizi (ANTARA News, 2026).
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa SMK sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia pendukung MBG di masa depan.
Pelatihan untuk Pengelola MBG
Tak hanya bagi siswa, Jepang juga menawarkan pelatihan bagi kepala satuan layanan pemenuhan gizi dan pengelola dapur MBG. Pelatihan ini difokuskan pada manajemen dapur, keamanan pangan, serta edukasi gizi yang selama ini menjadi kekuatan sistem makan sekolah di Jepang.
MBG Indonesia dalam Perspektif Global
Program Makan Bergizi Gratis Indonesia kini mulai dipandang sebagai rujukan dunia. Delegasi Kadin Jepang menilai keberhasilan MBG tidak lepas dari dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga pelibatan pelaku usaha (Jawa Pos, 2026).
Sistem makan sekolah Jepang atau kyushoku dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia, terutama dalam pendidikan gizi, kedisiplinan, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat sejak dini (Auliawan & Harsiwi, 2025).
Tantangan Keamanan Pangan dan Evaluasi Program
Meski mendapat apresiasi internasional, MBG Indonesia juga menghadapi tantangan. Adanya sejumlah kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program makan gratis yang menimbulkan perhatian serius terhadap aspek pengawasan dan keamanan pangan (UGM, 2025).
Temuan ini mempertegas pentingnya evaluasi berkelanjutan serta adopsi praktik terbaik dari negara lain, termasuk Jepang, agar MBG tidak hanya besar secara kuantitas tetapi juga aman dan berkualitas.
Studi banding Jepang menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis Indonesia mulai diperhitungkan di tingkat global. Skala besar dan sistem pelaksanaan MBG dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Kerja sama magang, pelatihan, dan transfer ilmu dari Jepang menjadi peluang penting untuk meningkatkan kualitas program. Dengan evaluasi berkelanjutan, MBG diharapkan semakin aman dan berkelanjutan.
Ikuti perkembangan kebijakan publik, pendidikan, dan isu gizi nasional lainnya di Garap Media. Temukan berita dan analisis terbaru yang relevan dengan masa depan Indonesia.
Referensi
