Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki masa transisi kepemimpinan setelah Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama. Ia menggantikan Iman Rachman yang mengundurkan diri dari jabatannya. Pergantian ini terjadi di tengah perhatian investor terhadap stabilitas pasar modal nasional.
Pada saat yang sama, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti arah baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menyampaikan tujuh prioritas utama bagi kepemimpinan baru OJK. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan memperkuat tata kelola sektor keuangan.
Jeffrey Ditunjuk sebagai Dirut BEI Baru
Penunjukan Pjs Dirut BEI Pasca Mundurnya Iman Rachman
Penunjukan Jeffrey Hendrik sebagai dirut BEI baru berstatus Pejabat Sementara (Pjs) dilakukan setelah Iman Rachman resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penunjukan tersebut merupakan keputusan internal BEI dan tidak melibatkan intervensi pemerintah (ANTARA News, 2026).
Dalam masa transisi ini, Jeffrey mendapat mandat strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal, termasuk memimpin komunikasi dengan investor global dan lembaga pemeringkat internasional. Salah satu agenda penting adalah pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berkaitan langsung dengan persepsi investor terhadap tata kelola pasar Indonesia.
Operasional BEI Dipastikan Tetap Normal
Jeffrey Hendrik memastikan bahwa seluruh operasional perdagangan dan pengawasan di BEI tetap berjalan normal meskipun terjadi pergantian pimpinan. Ia menekankan bahwa sistem perdagangan, keterbukaan informasi emiten, serta pengawasan transaksi tetap berjalan sesuai prinsip kehati-hatian dan transparansi (ANTARA News, 2026).
Menurut Jeffrey, konsistensi kebijakan dan komunikasi yang jelas menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing di tengah dinamika pasar.
Tujuh Prioritas OJK di Bawah Kepemimpinan Baru
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai pergantian kepemimpinan di Otoritas Jasa Keuangan harus dimanfaatkan sebagai momentum memperbaiki tata kelola sektor keuangan nasional. Ia menyampaikan tujuh prioritas utama yang perlu segera dijalankan agar stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan investor tetap terjaga (detikNews, 2026; Media Indonesia, 2026).
Memulihkan Kepercayaan Pasar
Prioritas pertama adalah memulihkan kepercayaan pasar, khususnya di sektor pasar modal yang sempat mengalami tekanan. Kepercayaan investor dinilai sebagai fondasi utama keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Menjaga dan Memperkuat Independensi OJK
OJK diharapkan mampu mengambil keputusan secara profesional dan independen tanpa pengaruh kepentingan jangka pendek.
Mendorong Peningkatan Free Float Saham
Peningkatan porsi free float saham emiten dinilai penting untuk memperbaiki likuiditas pasar dan meminimalkan potensi manipulasi harga.
Transparansi Kepemilikan Saham
OJK didorong membuka data kepemilikan saham hingga pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) guna memperkuat pengawasan.
Penegakan Hukum Pasar Modal
Penindakan tegas terhadap praktik perdagangan tidak wajar dan manipulasi pasar menjadi fokus utama untuk menciptakan pasar yang adil dan berintegritas.
Evaluasi Investasi Industri Asuransi
OJK diminta mengevaluasi penempatan dana industri asuransi di pasar modal untuk menekan risiko sistemik.
Kajian Penempatan Dana Pensiun
Strategi penempatan dana pensiun perlu dikaji ulang agar tetap aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dampak bagi Pasar Modal Indonesia
Perubahan kepemimpinan di BEI serta penegasan prioritas baru OJK menjadi sinyal kuat bahwa regulator dan otoritas pasar berupaya menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia. Investor global menaruh perhatian besar pada konsistensi kebijakan, stabilitas kepemimpinan, serta transparansi regulasi.
Kombinasi kepemimpinan baru di BEI dan fokus reformasi di OJK diharapkan mampu memperkuat daya saing pasar modal nasional di tengah persaingan regional dan ketidakpastian ekonomi global.
Transisi kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia serta arah baru Otoritas Jasa Keuangan menandai momentum penting reformasi pasar modal nasional. Konsistensi kebijakan dan pengawasan yang kuat menjadi faktor penentu keberhasilan langkah tersebut.
Ikuti terus berita ekonomi dan pasar modal lainnya hanya di Garap Media, untuk mendapatkan analisis dan informasi terkini seputar dunia keuangan Indonesia.
Referensi
