Iran dan AS Catat Kemajuan dalam Perundingan Nuklir di Swiss

Last Updated: 18 February 2026, 10:38

Bagikan:

perundingan nuklir
Foto: Liputan6
Table of Contents

Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepahaman mengenai sejumlah “prinsip panduan” utama dalam perundingan untuk menyelesaikan kebuntuan program nuklir Iran. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa kemajuan ini belum berarti kesepakatan final akan segera tercapai.

Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (17/2/2026) setelah perundingan berakhir di Jenewa, Swiss. Perkembangan tersebut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak berjangka turun dan kontrak minyak mentah Brent melemah lebih dari 1 persen. Penurunan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan potensi konflik di kawasan.

Kemajuan Prinsip dalam Perundingan Nuklir

Dalam putaran terbaru perundingan nuklir, kedua negara menyepakati sejumlah prinsip sebagai dasar pembahasan lanjutan. Araqchi menyampaikan bahwa proses diskusi berlangsung serius dengan berbagai gagasan yang diajukan kedua pihak.

“Berbagai gagasan telah diajukan dan dibahas secara serius. Pada akhirnya, kami berhasil mencapai kesepakatan umum mengenai beberapa prinsip panduan,” ujar Araqchi kepada media Iran.

Meski ada kemajuan, ia menegaskan jalan menuju kesepakatan akhir masih panjang. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyatakan Iran akan menyampaikan proposal rinci dalam dua pekan ke depan. Proposal itu bertujuan menjembatani perbedaan yang masih ada.

“Kemajuan telah dicapai, tetapi masih banyak detail yang perlu dibahas,” kata pejabat tersebut.

Perundingan tidak langsung tersebut dimediasi oleh Oman. Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner berunding dengan Araqchi melalui perantara. Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menyatakan melalui media sosial bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun kedua negara meninggalkan pertemuan dengan “langkah-langkah lanjutan yang jelas”.

Penutupan Sementara Selat Hormuz

Di tengah berlangsungnya perundingan nuklir, media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebagian Selat Hormuz ditutup sementara karena alasan keamanan, seiring latihan militer Garda Revolusi Iran di kawasan tersebut. Beberapa jam kemudian dilaporkan bahwa penutupan tersebut hanya berlangsung singkat, tanpa penjelasan apakah jalur itu telah sepenuhnya dibuka kembali.

Selat Hormuz merupakan jalur vital pasokan minyak dunia. Sekitar seperlima aliran minyak global melewati kawasan tersebut. Iran sebelumnya pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz bagi pelayaran komersial jika diserang. Jika benar-benar terjadi, langkah itu berpotensi menghambat pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak mentah.

Respons Khamenei atas Pernyataan Trump

Ketegangan retorika turut mewarnai perkembangan diplomatik ini. Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa “perubahan rezim” di Iran mungkin merupakan langkah terbaik, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei memberikan respons keras.

“Presiden AS mengatakan bahwa tentaranya adalah yang terkuat di dunia, tetapi tentara terkuat di dunia pun kadang bisa ditampar begitu keras hingga tidak bisa bangkit,” kata Khamenei dalam pernyataan yang dipublikasikan media Iran.

Setelah perundingan, Araqchi mengakui telah terbuka “jendela peluang baru” dan berharap diskusi dapat menghasilkan solusi yang berkelanjutan serta menjamin pengakuan penuh atas hak-hak sah Iran. Sebelumnya, Trump mengatakan ia akan terlibat secara tidak langsung dalam perundingan di Jenewa dan meyakini bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan.

“Saya tidak yakin mereka ingin menghadapi konsekuensi jika gagal mencapai kesepakatan,” ungkap Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin (16/2).

Trump juga menambahkan dengan merujuk pada serangan ke Iran tahun lalu, “Kami seharusnya bisa mencapai kesepakatan tanpa harus mengirim B-2 untuk menghancurkan potensi nuklir mereka. Namun pada akhirnya kami memang harus mengirim B-2.”

Batasan Agenda Perundingan Nuklir

Perbedaan mendasar masih membayangi perundingan nuklir ini. AS berupaya memperluas cakupan pembahasan ke isu non-nuklir seperti persediaan rudal Iran. Namun, Teheran menegaskan hanya bersedia membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Iran juga menegaskan tidak akan menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya atau membahas program rudalnya. Khamenei menggarisbawahi bahwa persediaan rudal Iran yang besar tidak dapat dinegosiasikan dan jenis serta jangkauan rudal tidak ada kaitannya dengan AS.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa keberhasilan perundingan di Jenewa bergantung pada kesediaan AS untuk tidak mengajukan tuntutan yang tidak realistis serta keseriusannya dalam mencabut sanksi yang memberatkan Iran. Putaran keenam perundingan sebelumnya sempat dijadwalkan pada Juni lalu, namun batal setelah Israel melancarkan pemboman terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh serangan pesawat pengebom B-2 AS ke sasaran nuklir Iran.

Iran sendiri merupakan anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang menjamin hak negara untuk mengembangkan energi nuklir sipil dengan syarat tidak mengembangkan senjata nuklir dan bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Sementara itu, Israel tidak menandatangani perjanjian tersebut dan tidak mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir, sesuai kebijakan ambiguitas yang telah lama diterapkan.

Penutup

Kemajuan dalam perundingan nuklir antara Iran dan AS di Swiss menandai adanya ruang dialog yang tetap terbuka di tengah ketegangan politik dan militer. Meski belum menghasilkan kesepakatan final, prinsip-prinsip panduan yang telah dicapai menjadi fondasi penting bagi pembahasan lanjutan.

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /