Transformasi STB HG680P Menjadi Mini Server Linux: Install Armbian dan Aktifkan WiFi RTL8189FS
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan server berbiaya rendah, tidak banyak yang menyadari bahwa sebuah Set Top Box (STB) bekas dapat dimanfaatkan menjadi mini server Linux. Salah satu perangkat yang cukup populer adalah HG680P, yang memiliki spesifikasi memadai untuk menjalankan Armbian, Docker, hingga berbagai aplikasi berbasis container. Dibandingkan dibiarkan tidak terpakai, STB ini masih memiliki potensi untuk digunakan kembali sebagai perangkat yang lebih bermanfaat.
STB HG680P dibekali prosesor berarsitektur ARM64, kapasitas RAM yang cukup, serta konsumsi daya yang rendah, sehingga perangkat ini masih layak dimanfaatkan untuk kebutuhan komputasi ringan. Dengan sistem operasi Linux, STB dapat digunakan untuk menjalankan berbagai layanan seperti Docker, CasaOS, Portainer, hingga sistem monitoring berbasis Prometheus dan Grafana. Namun, sebelum seluruh layanan tersebut dapat digunakan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasang sistem operasi yang sesuai sebagai fondasi utama perangkat.
Pada artikel ini saya akan membagikan pengalaman menginstal Armbian pada STB HG680P, mulai dari proses flashing image ke SSD, booting menggunakan HDMI Capture, konfigurasi awal sistem, hingga mengaktifkan modul WiFi internal yang ternyata belum didukung secara bawaan oleh kernel Armbian.
Memulai dengan Armbian
Pada proyek ini saya menggunakan Armbian Noble Server sebagai sistem operasi utama. Distribusi Linux ini dikembangkan untuk perangkat berbasis ARM sehingga cocok digunakan pada STB HG680P yang akan diubah menjadi mini server. Selain ringan, Armbian juga memiliki dukungan komunitas yang cukup baik sehingga memudahkan proses konfigurasi dan pengembangan.
Langkah pertama adalah mengunduh file image Armbian Noble Server dari situs resminya. Setelah proses unduh selesai, image kemudian ditulis ke media penyimpanan menggunakan Balena Etcher agar SSD dapat digunakan sebagai media boot pada STB. Untuk link
download:https://github.com/ophub/amlogic-s9xxx-armbian/releases/download/Armbian_noble_arm64_server_2026.06/Armbian_26.05.0_amlogic_s905x_noble_6.12.91_server_2026.06.01.img
Balena Etcher dipilih karena memiliki antarmuka yang sederhana. Pengguna hanya perlu memilih file image, menentukan media penyimpanan yang akan digunakan, kemudian menjalankan proses flashing. Pada proyek ini saya menggunakan SSD yang terhubung ke komputer melalui SATA to USB enclosure. SSD tersebut terdeteksi sebagai JMicron Tech SCSI, sehingga perlu dipastikan kembali bahwa perangkat yang dipilih memang benar agar tidak terjadi kehilangan data pada media penyimpanan lain
Alur diatas merupakan cara menggunakan Balena Etcher sebegai proses Flash file Armbian ke dalam SSD . Tunggu beberapa menit, Jika proses Flash sudah selesai seperti pada gambar 2.4, maka SSD telah Terisi sistem operasi Armbian yang selanjutnya akan digunakan sebagai media boot STB
Boot Pertama Menggunakan HDMI Capture
Tidak seperti komputer desktop, STB tidak selalu memiliki monitor yang dapat digunakan untuk melihat proses booting. Oleh karena itu saya menggunakan HDMI Capture yang dihubungkan ke laptop, kemudian menampilkan output video melalui aplikasi OBS Studio. Sebelum STB dinyalakan, beberapa perangkat perlu dipersiapkan terlebih dahulu, mulai dari memasang SSD hasil flashing, menghubungkan kabel LAN ke router agar perangkat memperoleh alamat IP secara otomatis, hingga menyambungkan HDMI Capture ke laptop.
Diatas merupakan komponen yagn akan digunakan pada proyek ini stelah melakukan Flash Armbian di SSD. Selanjutnya semua komponen itu hubungkan ke koomputer atau laptop dan jangan lupa juga kabel adaptor STB hubungkan ke Listrik. Ketika adaptor STB dan semua komponen di hubungkan , maka dilayar OBS mulai membaca BOOT sistem operasi dari SSD. Beberapa saat kemudian layar menampilkan logo Armbian sebagai tanda bahwa proses boot berjalan dengan baik.
Momen ini menjadi salah satu indikator penting bahwa proses flashing sebelumnya berhasil dilakukan. Jika logo Armbian muncul tanpa kendala, berarti sistem telah berhasil dimuat dari media penyimpanan eksternal.
Konfigurasi Awal Sistem
Boot pertama Armbian tidak langsung membawa pengguna ke terminal Linux. Sistem terlebih dahulu meminta beberapa konfigurasi dasar agar perangkat siap digunakan. Konfigurasi tersebut meliputi pembuatan password untuk akun root, pemilihan command-line shell, pembuatan akun pengguna baru, serta pengaturan zona waktu sesuai lokasi pengguna.
Pada proyek ini saya memilih Bash sebagai shell utama karena merupakan shell standar yang umum digunakan pada berbagai distribusi Linux. Setelah itu saya membuat akun pengguna dengan nama stb untuk memudahkan proses administrasi sistem. Tunggu beberapa menit dan biarkan saja BOOT berjalan sampi dengan muncul di halaman kofigurasi Armbiannya. Setelah itu kita akan mengisi Konfigurasi root yang diminta armbian sampai dengan selesai ,
Konfigturasinya seperti dibawah ini :
Membuat password root -> download bash/zhs(pilih bash) -> membuat nama user stb -> konfirmasi wilayah.
Begitu seluruh konfigurasi selesai, Armbian menampilkan halaman login dan STB resmi menjalankan sistem operasi Linux untuk pertama kalinya.
Mengelola STB Tanpa Monitor ( Pilihan )
Salah satu kelebihan Linux adalah kemudahan dalam melakukan administrasi jarak jauh menggunakan SSH (Secure Shell). Oleh karena itu, setelah berhasil masuk ke terminal Armbian, langkah berikutnya adalah mengetahui alamat IP perangkat.
Perintah berikut digunakan untuk melihat konfigurasi jaringan :
ip a
Pada Project ini STB saya terhubung melalui LAN , maka system Armbian secara otomatis memperoleh alamat IP dari DHCP. Alamat IP yang dimunculkan pada layar tersebut akan dimasukkan ke aplikasi PuTTY menggunakan port 22 sehingga project ini seluruh proses dari awal armbian berhasil sampai dengan selesai dilakukan langsung dari laptop tanpa memerlukan monitor tambahan.
Pada proyek ini , jika sudah memiliki monitor dan keyboard yang terhubung langsung ke STB tersebut, untuk penggunaan aplikasin PuTTY itu tidak wajib. Namun bagi saya unutk proyek ini , SSH jauh lebih mudah dan praktis karena seluruh konfigurasi dari awal sampai selesai bisa dilakukan hanya dari satu perangkat kerja saja,
Catatan :
“ Pemilihan Aplikasi Putty itu hanya opsi saja jika mempunyai layar/monitor, jika teman-teman mempunyai monitor dan lainnya ,bisa saja diteruskan memakainya, tapi iika tidak mempunyai monitor atau monitor pinjaman ataupun lainnya Putty merupakan opsi penting dan sangat memudahkan kita untuk project ini”
Tantangan Berikutnya: WiFi Tidak Terdeteksi
Setelah kita lewati proses install Armbian sampai dengan berhasil dan berjalan dengan baik, pada proyek ini saya menemukan satu kendala yang sangat cukup menarik . Meskipun STB HG680-P ini memiliki modul WiFi internal bawaan, akan tetapi sistem operasi armbiannya belum dapat mengenalinya.
Berbeda dengan beberapa perangkat USB yang umumnya langsung akan terdeteksi, modul WiFi pada STB kita ini terhubung melalui SDIO (Secure Digital Input Output) sehingga untuk indentifikasi perangkat tersebut akan dilakukan melalui direktori sysfs milik Linux.
Melalui proses identifikasi, diketahui bahwa STB menggunakan chipset Realtek RTL8188F dengan ID 024C:F179, yang membutuhkan driver RTL8189FS (8189fs) pada kernel Armbian yang digunakan.. Sayangnya, ketika dilakukan pemeriksaan menggunakan perintah:
modinfo 8189fs
sistem menampilkan pesan:
modinfo: ERROR: Module 8189fs not found
Artinya, kernel Armbian yang digunakan belum menyediakan driver tersebut sebagai modul kernel yang dapat digunakan secara langsung.
Mengompilasi Driver Secara Manual
Karena driver belum tersedia, solusi yang harus dilakukan adalah mengompilasi driver secara manual dari source code. Saya terlebih dahulu memperbarui repository sistem dan memasang berbagai paket pendukung seperti Git, GCC, Make, Build Essential, DKMS, BC, Curl, serta Wget. Source code driver kemudian diunduh dari repository GitHub sebelum dilakukan proses kompilasi.
Pada percobaan pertama ternyata proses build belum berhasil menghasilkan modul kernel.
Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, penyebabnya adalah compiler bawaan sistem belum sesuai dengan kebutuhan kernel ARM64 yang digunakan Armbian.
Untuk mengatasi hal tersebut saya menggunakan Arm GNU Toolchain sebagai compiler utama. Setelah proses kompilasi diulang menggunakan compiler yang sesuai, akhirnya modul 8189fs.ko berhasil dibuat tanpa kendala.
Mengunduh Source Code Driver
Setelah memastikan chipset WiFi dan kebutuhan driver, langkah selanjutnya adalah mengunduh source code driver yang sesuai dari repository GitHub. Source code tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan proses kompilasi modul kernel pada Armbian.
Jalankan perintah berikut untuk mengunduh source code driver:
git clone -b rtl8189fs https://github.com/jwrdegoede/rtl8189ES_linux.git
Setelah proses selesai, source code driver akan tersimpan pada direktori hasil clone dan siap digunakan untuk tahap kompilasi.
Masuk ke Direktori Driver
Masuk ke folder hasil clone menggunakan perintah berikut.
cd rtl8189ES_linux
jika sudah maka akan muncul seperti ini dan jalankan perintah ls
Menyiapkan Lingkungan Kompilasi
Sebelum proses kompilasi dilakukan, perbarui terlebih dahulu repository system :
sudo apt update
Kemudian instal seluruh paket yang dibutuhkan untuk proses build jalankan perintah :
sudo apt install -y git build-essential bc dkms make gcc wget curl
Mengompilasi Driver RTL8189FS
Setelah beberapa menit menunggu install paket yang dibutuhkan lingkungan maka kompilasi siap, langkah selanjtunya adalah mengubah source code driver menjadi modul kernel Linux , jalankan perintah berikut.
make ARCH=arm64 KSRC=/lib/modules/$(uname -r)/build
Pada percobaan pertama, proses kompilasi belum berhasil menghasilkan modul 8189fs.ko. Setelah dilakukan pengecekan, ditemukan bahwa proses build memerlukan toolchain yang sesuai dengan lingkungan kernel ARM64 yang digunakan oleh STB HG680P. Oleh karena itu, proses kompilasi dilanjutkan menggunakan Arm GNU Toolchain.
Menggunakan Arm GNU Toolchain
Untuk mengatasi kendala yang terjadi, saya menggunakan Arm GNU Toolchain sebagai compiler utama. Sebelum melakukannya ulang, kita pastikan compiler tersedia atau tidak dengan menjalankan perintah berikut.
aarch64-none-linux-gnu-gcc –version
Jika informasi versi compiler berhasil ditampilkan, berarti Arm GNU Toolchain telah tersedia dan siap digunakan untuk proses kompilasi.
Melakukan Kompilasi Ulang
Sesudah kita cek seperti Langkah sebelumnya , kita akan bersihkan terlebih dahulu hasil kompilasi yang sebelumnya kita jalankan dengan perintah :
make clean
setelah menjalakan perintah diatas maka jalankan perintah dibawah ini :
make ARCH=arm64 \
CC=aarch64-none-linux-gnu-gcc \
KSRC=/lib/modules/$(uname -r)/build
Tunggu beberapa menit sampai dengan selesai , maka akan dipastikan modul driver berhasil dibuat , jalan kan perintahj dibawah ini :
ls -lh *.ko
Apabila file 8189fs.ko muncul, berarti proses kompilasi modul driver telah berhasil.
Memasang Driver ke Kernel
Setelah berhasil, langkah selanjutnya adalah memasang driver ke sistem.
Perbarui database modul kernel dengan perintah :
sudo depmod -a
Kemudian kita aktifkan driver menggunakan perintah berikut.
sudo modprobe 8189fs
Setelah depmod selesai, modul driver dimuat ke dalam kernel menggunakan modprobe. Jika tidak terdapat pesan error, lakukan verifikasi menggunakan lsmod untuk memastikan modul 8189fs telah aktif.
Memverifikasi Driver WiFi
Untuk memastikan driver yang ktia install tadi berjalan dengan baik,kita akan lakukan beberapa pengujian. Periksa apakah modul driver telah aktif dengan perintah :
lsmod | grep 8189
Selanjutnya pastikan interface WiFi telah muncul dengan perintah :
ip link
Ketika muncul cari interface wlan0 pada daftar perangkat jaringan. Kemudian lakukan pemindaian jaringan WiFi dengan perintah :
nmcli device wifi list
Jika daftar SSID berhasil ditampilkan seperti gambar dibawah ini, berarti driver telah aktif dan WiFi internal di STB kita berhasil dikenali oleh sistem.
Menghubungkan STB ke Jaringan WiFi
Setelah jaringan WiFi berhasil dan terlihat seperti gambar diatas, langkah akhir yaitu menghubungkan STB ke access point menggunakan NetworkManager dengan perintah :
sudo nmcli device wifi connect “Nama_WiFi” password “Password_WiFi”
Sebagai contoh jalankan perintah :
sudo nmcli device wifi connect “Rumah” password “12345678”
jika proses berhasil, terminal akan menampilkan pesan Successfully activated, yang berarti bahwa STB telah berhasil terhubung ke jaringan WiFi.
WiFi Berhasil Digunakan
Setelah modul driver RTL8189FS berhasil dikompilasi dan dimuat ke dalam kernel, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa driver telah bekerja dengan baik. Proses verifikasi dilakukan dengan memeriksa modul kernel yang aktif, memastikan interface wlan0 telah muncul, serta melakukan pemindaian jaringan WiFi menggunakan NetworkManager.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa interface wlan0 berhasil dikenali oleh sistem dan daftar jaringan WiFi di sekitar dapat ditampilkan tanpa kendala. Selanjutnya, STB dihubungkan ke access point menggunakan perintah nmcli. Ketika terminal menampilkan pesan Successfully activated, hal tersebut menandakan bahwa koneksi WiFi telah berhasil dibuat dan perangkat siap digunakan melalui jaringan nirkabel.
Kesimpulan
Seluruh tahapan pada artikel ini menunjukkan bahwa STB HG680P dapat diubah menjadi sebuah perangkat berbasis Linux dengan menggunakan Armbian sebagai sistem operasinya. Mulai dari proses instalasi, konfigurasi awal, hingga kompilasi driver RTL8189FS, seluruh komponen penting berhasil dikonfigurasi sehingga perangkat dapat diakses melalui SSH dan terhubung ke jaringan menggunakan koneksi LAN maupun WiFi.
Dengan sistem operasi dan konektivitas yang telah berfungsi secara optimal, STB kini siap digunakan sebagai dasar untuk membangun home server. Pada artikel selanjutnya, saya akan melanjutkan proses dengan menginstal Docker, CasaOS, dan Portainer sebagai platform untuk menjalankan serta mengelola berbagai layanan berbasis container.