Influencer Dihujat Gegara Jualan Over Price!
Fenomena jualan para influencer kini tengah jadi sorotan hangat di berbagai platform media sosial. Bukan karena produknya yang unik atau kampanye promosinya yang kreatif, melainkan karena harga yang dinilai tidak masuk akal alias over price. Banyak netizen mempertanyakan nilai produk yang dijual tak sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. Hal ini memunculkan diskusi publik tentang etika berjualan di era digital, khususnya saat popularitas dijadikan “alat dagang”.
Fenomena Influencer Jadi Pedagang
Popularitas Berubah Jadi Modal Usaha
Dalam beberapa tahun terakhir, tren influencer memanfaatkan basis pengikut untuk menjual produk mulai dari skincare, makanan, hingga merchandise menjadi hal lumrah. Strategi ini disebut sebagai “monetisasi personal branding”, di mana nama besar seseorang digunakan untuk mendorong penjualan. Namun, banyak dari mereka yang mengedepankan nama pribadi ketimbang kualitas produk yang dijual.
Munculnya Keluhan dari Konsumen
Media sosial seperti X (dulu Twitter) dan TikTok dipenuhi keluhan dari konsumen yang merasa tertipu. Contohnya, ada produk makanan ringan dengan harga di atas Rp50.000 padahal isinya hanya beberapa keping kecil. Ada juga brand fashion milik selebgram yang dihargai setara dengan label premium, namun kualitas bahannya dinilai setara produk pasar malam. Komentar seperti “Bayar nama doang” atau “Harga nggak ngotak” mulai ramai bermunculan.
Psikologi Konsumen dan Efek FOMO
Daya Tarik ‘Branding’ Influencer
Influencer memiliki keunggulan tersendiri: mereka dianggap relatable dan dekat dengan audiens. Hal ini membuat pengikut cenderung loyal dan tertarik untuk membeli apapun yang dijual oleh idola mereka. Namun, pendekatan ini memunculkan bias. Banyak konsumen membeli bukan karena kebutuhan, tapi karena takut ketinggalan tren atau ingin menjadi bagian dari komunitas fans—yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Harga Tak Lagi Objektif
Psikologi marketing lewat endorsement pribadi membuat harga menjadi relatif. Meski mahal, selama influencer memberikan testimoni positif, pengikutnya tetap memborong. Sayangnya, ketika realita tak sesuai ekspektasi, kekecewaan yang muncul jauh lebih besar. Apalagi bila produk tidak memiliki keunikan atau nilai tambah yang setara dengan harga jual.
Netizen Menuntut Transparansi dan Kejujuran
Viral Kasus Influencer “Terlalu Mahal”
Beberapa kasus viral menjadi pemicu kemarahan publik. Salah satunya terjadi baru-baru ini, ketika seorang influencer menjual makanan dengan harga nyaris Rp100.000 per porsi, padahal bahan dan penyajiannya sangat sederhana. Bahkan, netizen yang sempat mencoba langsung produk tersebut merasa dirugikan dan menyebarkan ulasan buruk. Akhirnya, tekanan publik membuat influencer tersebut meminta maaf dan menurunkan harga.
Muncul Seruan “Don’t Buy Just Because It’s Viral”
Reaksi publik ini melahirkan kampanye baru di kalangan pengguna media sosial, seperti seruan untuk lebih kritis terhadap produk viral. Tagar seperti #JanganBeliKarenaViral dan #WaspadaOverprice mulai digunakan. Netizen mulai menyerukan pentingnya membandingkan harga, bahan, dan fungsi sebelum membeli produk yang dijual influencer, apalagi jika hanya bermodalkan testimoni personal.
Fenomena influencer yang jualan produk dengan over price memang bukan hal baru, namun semakin terlihat jelas saat konsumen merasa dikecewakan. Di era digital yang serba cepat dan viral, penting bagi publik untuk lebih bijak dalam membeli. Influencer juga perlu menyadari bahwa popularitas bukan alasan untuk melepas produk tanpa memperhatikan kualitas dan harga yang adil. Karena pada akhirnya, kepercayaan publik bisa jadi aset yang lebih berharga daripada keuntungan jangka pendek.
Baca terus berita viral dan terkini lainnya hanya di Garap Media
Referensi:
- Komentar publik di TikTok dan Twitter, per Juli 2025
- Kumparan
- Kompas.com
