Indonesia Gagal Kejut, Peringkat 4 SEA V League!
Indonesia harus puas menempati posisi peringkat 4 di Leg 1 SEA V.League 2025 divisi putri. Meski berjuang keras melawan tim-tim kuat seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina (Alas Pilipinas), timnas putri Indonesia belum mampu meraih kemenangan. Artikel ini membahas perjalanan Indonesia sepanjang Leg 1 dan faktor-faktor yang memengaruhi hasil akhir.
Sekilas Tentang SEA V.League 2025 Leg 1
SEA V.League 2025 untuk putri diselenggarakan di Nakhon Ratchasima, Thailand pada awal Agustus 2025. Empat tim nasional dari Asia Tenggara bertanding, terdiri dari Thailand, Vietnam, Filipina (Alas Pilipinas), dan Indonesia.
Perjalanan Indonesia di Leg 1
Indonesia memainkan tiga pertandingan:
- Melawan Thailand (kalah)
- Melawan Vietnam (kalah)
- Melawan Filipina / Alas Pilipinas (juga kalah)
Hasil Akhir: Posisi Keempat
Setelah tiga kekalahan, Indonesia berada di posisi 4 dari 4 tim. Tim menutup Leg 1 tanpa satu pun kemenangan dan hanya berhasil memenangkan satu set di pertandingan versus Filipina.
Analisis Performa
- Dominasi lawan: Thailand dan Vietnam tampil dominan dengan kemenangan 3‑0 atas Indonesia.
- Pertandingan melawan Filipina: Indonesia sempat bangkit di set ketiga melawan Alas Pilipinas, namun akhirnya kalah 1‑3 (25‑20, 25‑20, 16‑25, 25‑13).
- Faktor teknis: Baik servis, blok, dan pertahanan belum optimal; ketidaksiapan tim dalam menghadapi rotasi dan tekanan lawan juga masih kentara.
Dampak dan Tantangan ke Depan
- Trend placement: Ini merupakan kali kedua berturut‑turut Indonesia menempati posisi peringkat 4 di Leg 1 SEA V.League (sejak tahun 2024).
- Penurunan rating FIVB: Indonesia juga turun sekitar 4,97 poin ranking FIVB setelah hasil ini.
- Tantangan utama ke depan mencakup memperkuat kedalaman pemain, meningkatkan disiplin teknis, serta adaptasi strategi melawan tim‑tim unggulan.
Indonesia kembali gagal meraih kemenangan di Leg 1 SEA V.League 2025. Bukan hanya lawan yang terlalu tangguh, tapi kita juga datang dengan persiapan setengah hati. Latihan yang terburu-buru, nyaris tanpa pemusatan latihan layaknya formalitas belaka, membuat tim seperti dilempar ke medan perang tanpa peluru. Ironisnya, pelatih yang dipercaya menukangi tim nasional bukan dari tim juara Proliga — keputusan yang terasa seperti memilih nakhoda kapal hanya karena dia pernah lihat laut, bukan karena pernah menaklukkan badai.
Jika begini terus, kita hanya akan jadi penggembira abadi di turnamen Asia Tenggara. Saat negara lain berlari dengan sistem, kita malah jalan di tempat sambil sibuk gonta-ganti pelatih. Sudah saatnya federasi bangun, bukan sekadar hadir di podium saat menang, tapi hadir lebih awal saat tim butuh fondasi yang kuat.
Terus ikuti perkembangan dunia olahraga — tanpa basa-basi dan penuh fakta — hanya di Garap Media.
Lampiran Referensi
