Harga minyak US$92 per barel bukan angka kecil. Di tengah konflik global dan tekanan energi dunia, lonjakan ini biasanya cukup untuk membuat anggaran negara goyah.
Namun Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa justru percaya diri. Ia menyatakan pemerintah masih mampu mengendalikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meski harga minyak dunia menyentuh level tersebut.
Optimisme ini muncul saat pasar energi global bergerak liar dan kekhawatiran defisit fiskal kembali dibicarakan.
Harga Minyak US$92 dan Dampaknya ke APBN
Dalam laporan Detik Finance, Purbaya menilai fundamental fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menahan tekanan kenaikan harga minyak. Pemerintah dinilai sudah memiliki ruang kebijakan dan pengalaman menghadapi fluktuasi serupa.
Sumber:
Detik Finance – Purbaya Pede Bisa Kendalikan Anggaran Meski Harga Minyak Tembus US$ 92/Barel
Sebagai gambaran, asumsi harga minyak dalam APBN biasanya ditetapkan lebih rendah dari harga pasar untuk menjaga stabilitas perhitungan subsidi dan belanja energi. Ketika harga pasar naik, beban subsidi bisa meningkat—terutama untuk BBM dan LPG.
Namun pemerintah juga mendapat penerimaan lebih besar dari sektor migas ketika harga tinggi. Di sinilah keseimbangan fiskal diuji.
Seberapa Berbahaya Harga Minyak US$92?
Secara historis, lonjakan harga minyak berdampak pada:
Kenaikan biaya subsidi energi
Tekanan inflasi
Potensi pelemahan nilai tukar
Beban tambahan pada belanja negara
Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya. Artinya, setiap kenaikan harga global bisa berdampak langsung pada biaya impor.
Namun berbeda dengan krisis energi masa lalu, struktur fiskal Indonesia kini dinilai lebih adaptif. Pemerintah memiliki pengalaman mengelola subsidi secara lebih fleksibel dan melakukan penyesuaian bertahap jika diperlukan.
Optimisme atau Terlalu Percaya Diri?
Pernyataan Purbaya memicu dua reaksi. Sebagian melihatnya sebagai sinyal kepercayaan diri bahwa APBN dalam kondisi sehat. Sebagian lain mempertanyakan: sampai kapan ketahanan itu bisa bertahan jika harga terus naik?
Pasar energi sangat sensitif terhadap geopolitik. Jika konflik global meluas dan harga melonjak lebih tinggi dari US$92 per barel, tekanan bisa meningkat signifikan.
Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga stabilitas melalui pengendalian subsidi, diversifikasi energi, dan kebijakan fiskal yang lebih terukur.
Apa Artinya untuk Masyarakat?
Bagi masyarakat, yang paling terasa biasanya adalah harga BBM dan dampak inflasi. Selama pemerintah mampu menjaga subsidi dan distribusi, dampak langsung bisa diminimalkan.
Namun jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang, ruang fiskal akan semakin sempit.
Optimisme pemerintah memang penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Tetapi realitas energi global tetap menjadi variabel yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Penutup
Harga minyak US$92 menjadi ujian baru bagi ketahanan fiskal Indonesia. Purbaya yakin APBN tetap terkendali, dan untuk saat ini pemerintah terlihat siap.
Namun dalam dunia energi, stabilitas bisa berubah cepat.
Pertanyaannya bukan hanya apakah anggaran aman hari ini, melainkan seberapa tangguh ia menghadapi badai harga jika gelombang berikutnya datang.
