Harga Minyak Turun Tipis Hari Ini, 11 Februari 2026

Last Updated: 11 February 2026, 09:35

Bagikan:

harga minyak
Foto: Investasi - KONTAN
Table of Contents

Harga minyak sedikit turun pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta). Penurunan terjadi karena pasar menunggu arahan terkait hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, upaya mengakhiri perang Rusia di Ukraina, serta data ekonomi dan persediaan minyak AS. Penurunan tipis ini mencerminkan kehati-hatian pedagang yang menunggu kepastian sebelum mengambil langkah besar.

Dikutip dari CNBC, Rabu (11/2/2026), harga minyak Brent turun 24 sen, atau 0,35%, menjadi USD 68,80 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS (WTI) turun 40 sen, atau 0,62%, menjadi USD 63,96 per barel.

“(Para pedagang) ragu untuk menekan ke arah mana pun sampai ada sinyal yang lebih jelas dari diplomasi, data persediaan berikutnya, atau konfirmasi apa pun bahwa arus pasokan secara signifikan terpengaruh dan bukan hanya terancam,” kata Analis di perusahaan konsultan energi Gelber & Associates dalam sebuah catatan.

Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya pada Harga Minyak

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran mengukur keseriusan Washington. Pembicaraan itu juga menunjukkan konsensus yang cukup untuk melanjutkan jalur diplomatik.

Para diplomat AS dan Iran mengadakan pertemuan melalui mediator di Oman pekan lalu. Pertemuan ini bertujuan menghidupkan kembali diplomasi. Langkah itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran akan aksi militer baru.

“Pasar masih fokus pada ketegangan antara Iran dan AS. Namun, kecuali ada tanda-tanda konkret gangguan pasokan, harga kemungkinan akan mulai turun,” kata Analis Minyak di Pialang PVM, Tamas Varga.

Sekitar seperlima minyak global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran. Setiap peningkatan ketegangan di wilayah ini merupakan risiko besar bagi pasokan minyak dunia. Iran dan negara-negara anggota OPEC lainnya, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.

Iran Jadi Produsen Minyak Mentah Terbesar ke-3

Menurut data Badan Informasi Energi AS, Iran adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak pada tahun 2025. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan mengusulkan daftar konsesi yang harus dituntut Eropa dari Rusia. Langkah ini bagian dari penyelesaian untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menekan pendapatan Rusia.

Menurut data EIA, Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada tahun 2025. Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan karena India menghindari minyak Rusia dalam upaya mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington.

Di Venezuela, perluasan lisensi AS diperkirakan akan memulihkan produksi minyak negara anggota OPEC Amerika Selatan itu pada pertengahan 2026. Produksi diperkirakan kembali ke tingkat sebelum blokade angkatan laut AS pada Desember.

Penjualan ritel AS secara tak terduga tidak berubah pada bulan Desember. Hal ini terjadi karena rumah tangga mengurangi pengeluaran untuk kendaraan bermotor dan barang mahal lainnya, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan belanja konsumen dan perekonomian di awal tahun baru.

Rilis Data Ekonomi AS dan Persediaan Minyak

Para analis mengatakan investor akan mencermati serangkaian rilis data ekonomi AS yang dijadwalkan minggu ini. Data tersebut mencakup laporan penggajian non-pertanian Januari pada hari Rabu dan data inflasi pada hari Jumat, yang digunakan untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Bank sentral, seperti The Fed, menaikkan dan menurunkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Presiden AS Trump telah menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan inflasi.

Di pasar energi, para pedagang menunggu data mingguan persediaan minyak AS dari American Petroleum Institute pada hari Selasa dan EIA pada hari Rabu. Para analis memperkirakan stok minyak mentah AS naik sebesar 0,1 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 4,1 juta barel pada pekan yang sama tahun lalu dan rata-rata 1,4 juta barel selama lima tahun terakhir (2021-2025).

Penutup

Pergerakan harga minyak yang turun tipis pada 11 Februari 2026 menunjukkan kehati-hatian pasar terhadap ketegangan geopolitik dan data ekonomi AS. Investor tetap memantau perkembangan diplomasi AS-Iran, perang Rusia-Ukraina, serta laporan persediaan minyak untuk menentukan arah harga selanjutnya.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar harga minyak, brent, wti, pasar energi, geopolitik, persediaan minyak, ekonomi AS, as-iran, opec, dan perdagangan internasional hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /