Harga Minyak Dunia Melesat 4 Februari 2026, Tembus USD 67,33

Last Updated: 4 February 2026, 10:49

Bagikan:

harga minyak
Foto: MetroTV
Table of Contents

Harga minyak dunia sedikit menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu (4/2/2026) waktu Jakarta. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk AS. Selain itu, kapal-kapal bersenjata dilaporkan mendekati kapal berbendera AS di Selat Hormuz.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar. Pembicaraan yang bertujuan meredakan ketegangan antara AS dan Iran dinilai berpotensi terganggu. Risiko geopolitik di kawasan penghasil minyak utama dunia pun kembali meningkat dalam waktu dekat.

Harga Minyak Dunia Menguat

Dikutip dari CNBC, Rabu (4/2/2026), harga minyak Brent naik USD 1,03 atau 1,55 persen. Harga ditutup pada level USD 67,33 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD 1,07 atau 1,72 persen ke posisi USD 63,21 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak sempat melemah. Pada Senin, kedua patokan harga minyak dunia ditutup di level terendah sejak 26 Januari 2026. Saat itu, harga minyak anjlok lebih dari 4 persen.

Insiden Militer di Timur Tengah

Militer Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut secara agresif mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden ini langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik di kawasan tersebut. Di Selat Hormuz, yang berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, sekelompok kapal perang Iran juga dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman. Selat ini merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global.

Peran Strategis Selat Hormuz

Sejumlah negara anggota OPEC, seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui Selat Hormuz, terutama ke pasar Asia. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi berdampak besar terhadap pasokan dan harga minyak dunia. Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran serius dalam melakukan pembicaraan dengan Washington. Iran sendiri tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada tahun 2025. Analis menilai signifikansi Iran di pasar minyak tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksinya, tetapi juga oleh bobot geopolitiknya yang kuat, mulai dari lokasi strategis hingga pengaruhnya terhadap keamanan regional dan jalur distribusi energi.

Pembicaraan Nuklir dan Sentimen Global

Uni Emirat Arab pada Selasa mendesak Iran dan Amerika Serikat memanfaatkan dimulainya kembali pembicaraan nuklir untuk menyelesaikan kebuntuan yang selama ini memicu ancaman serangan udara timbal balik. Pada hari yang sama, harga minyak juga mendapat dukungan dari kesepakatan perdagangan antara AS dan India yang meningkatkan harapan terhadap pertumbuhan permintaan energi global. Namun, konflik Rusia-Ukraina kembali memunculkan kekhawatiran bahwa minyak Rusia akan tetap dikenai sanksi lebih lama. Presiden Trump mengumumkan pemangkasan tarif impor India menjadi 18 persen dari sebelumnya 50 persen sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia dan penurunan hambatan perdagangan. Meski demikian, dampak jangka pendek kebijakan tersebut dinilai terbatas terhadap arus minyak global.

Gencatan Senjata Energi di Ukraina

Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskiy menuduh Rusia memanfaatkan gencatan senjata energi yang didukung AS untuk menimbun amunisi dan melancarkan serangan baru menjelang perundingan perdamaian. Serangan terbaru dilaporkan melumpuhkan sistem pemanas di sejumlah kota, termasuk Kyiv, saat delegasi Ukraina menuju Abu Dhabi untuk putaran kedua pembicaraan trilateral yang dimediasi AS. Penundaan penyelesaian konflik diperkirakan akan menjaga harga minyak tetap tinggi karena sanksi terhadap ekspor minyak Rusia masih berlaku sejak 2022. Rusia tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi pada tahun 2025.

Penutup

Kenaikan harga minyak dunia pada 4 Februari 2026 menegaskan tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah dan Eropa Timur. Insiden militer, pembicaraan nuklir, serta konflik Ukraina terus menjadi faktor utama penentu arah pergerakan komoditas energi global.

Jangan lewatkan berita seputar ekonomi global, energi, pasar komoditas, geopolitik, kebijakan internasional, dan isu strategis lainnya hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /