Pemerintah menurunkan harga liquefied natural gas (LNG) bagi sektor industri menjadi US$13 per million British thermal unit (MMBTU) sebagai upaya mengurangi beban biaya energi yang selama ini dirasakan sejumlah pelaku usaha. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga daya saing industri nasional sekaligus mempertahankan aktivitas produksi dan lapangan kerja di berbagai sektor (ANTARA, 2026; Bloomberg Technoz, 2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut difokuskan pada industri yang menggunakan LNG karena harga gas pipa maupun program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) tidak mengalami lonjakan seperti LNG. Pemerintah juga menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan agar sektor industri tetap mampu beroperasi di tengah tantangan pasokan energi (Bloomberg Technoz, 2026).
Bahlil Jelaskan Penyebab Harga LNG Industri Lebih Tinggi
Bahlil menyatakan bahwa kenaikan biaya energi yang dikeluhkan pelaku industri terutama berasal dari penggunaan LNG. Menurutnya, sebagian industri tidak memperoleh pasokan gas pipa sehingga harus menggunakan LNG dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan gas bumi bersubsidi melalui skema HGBT (Bloomberg Technoz, 2026).
Pemerintah kemudian mencari jalan tengah agar pelaku industri tetap memperoleh pasokan energi dengan harga yang lebih kompetitif. Kebijakan penurunan harga LNG menjadi US$13/MMBTU diharapkan dapat mengurangi tekanan biaya produksi sekaligus meningkatkan keberlanjutan kegiatan usaha (ANTARA, 2026).
Selain mempertimbangkan kebutuhan industri, pemerintah juga memperhatikan kondisi pasokan gas nasional yang dipengaruhi oleh penurunan produksi dari sejumlah lapangan gas, termasuk di wilayah Jawa Barat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian industri beralih menggunakan LNG sebagai sumber energi alternatif (Harian Jogja, 2026).
Penurunan Harga LNG Industri Diharapkan Menjaga Lapangan Kerja
Pemerintah menilai kebijakan penurunan harga LNG tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan, tetapi juga berdampak terhadap keberlangsungan tenaga kerja. Biaya energi yang lebih rendah memungkinkan perusahaan menjaga kapasitas produksi sehingga potensi pengurangan tenaga kerja dapat diminimalkan (ANTARA, 2026).
Beberapa manfaat yang diharapkan dari kebijakan tersebut meliputi:
- Menurunkan beban biaya energi sektor industri.
- Meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
- Menjaga keberlangsungan kegiatan produksi.
- Mempertahankan lapangan kerja di sektor manufaktur.
- Mendorong iklim investasi yang lebih kondusif.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha di tengah dinamika pasokan energi nasional.
Penurunan Produksi Hulu Migas Jadi Tantangan Pasokan Gas
Di sisi lain, pemerintah mengakui bahwa pasokan gas domestik masih menghadapi tantangan. Penurunan produksi dari sejumlah lapangan hulu migas menyebabkan distribusi gas pipa ke sebagian kawasan industri belum sepenuhnya optimal. Akibatnya, sejumlah perusahaan harus menggunakan LNG yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan gas pipa (HaloPedeka, 2026).
Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi migas nasional sekaligus mempercepat pengembangan infrastruktur distribusi gas agar kebutuhan industri dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam jangka panjang (Harian Jogja, 2026).
Pemerintah Terus Evaluasi Kebijakan Harga LNG Industri
Pemerintah menegaskan bahwa evaluasi terhadap kebijakan harga energi akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi industri, kemampuan pasokan, dan perkembangan ekonomi nasional. Penyesuaian harga LNG menjadi US$13/MMBTU merupakan salah satu langkah yang ditempuh untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan industri dan keberlanjutan sektor energi (ANTARA, 2026).
Pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan kebijakan tersebut untuk meningkatkan produktivitas, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat daya saing di pasar domestik maupun internasional. Pemerintah juga berkomitmen menjaga komunikasi dengan pelaku industri agar kebijakan energi dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Kebijakan penurunan harga LNG industri menjadi US$13/MMBTU menunjukkan upaya pemerintah dalam merespons tantangan yang dihadapi sektor industri akibat tingginya biaya energi. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah dinamika pasokan gas nasional.
Ikuti berbagai informasi terbaru seputar ekonomi, energi, dan kebijakan pemerintah hanya di Garap Media. Baca juga artikel menarik lainnya untuk mengetahui perkembangan dunia industri dan bisnis nasional.
Referensi
