Harga emas turun lebih dari 1% pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta). Penurunan terjadi karena pasar terkonsolidasi menjelang rilis data pekerjaan dan inflasi Amerika Serikat (AS). Data ini dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari CNBC, Rabu (11/2/2026), harga emas turun 0,71% menjadi USD 5.028,43 per ons. Sedangkan harga emas AS untuk pengiriman April turun sekitar 0,42% menjadi USD 5.057,90 per ons. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan, “Kami melihat sedikit penurunan atau konsolidasi menjelang sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis akhir pekan ini.”
Penyebab Harga Emas Amblas
Konsolidasi Menjelang Data Ekonomi
Data nonfarm payroll bulan Januari dijadwalkan dirilis pada hari Rabu, dengan perkiraan penambahan 70.000 pekerjaan. Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Januari akan dirilis pada hari Jumat. Selain itu, penjualan ritel AS secara tak terduga tidak berubah pada bulan Desember, sehingga pengeluaran konsumen dan perekonomian secara keseluruhan berada di jalur pertumbuhan yang lebih lambat menjelang tahun baru. Kondisi ini membuat pasar berhati-hati, memicu penurunan harga emas.
Prospek Suku Bunga dan Dolar AS
Prospek ekonomi yang lebih lemah memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga, dengan para pedagang memperkirakan dua kali penurunan sebesar 25 basis poin tahun ini. Menurut Meger, “Kelemahan dolar AS kemungkinan akan terus menopang harga.” Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung logam mulia karena mengurangi biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Ketegangan Geopolitik dan Dukungan Investor
Ketegangan geopolitik juga memberikan dukungan bagi harga emas, selain ekspektasi penurunan suku bunga. Level psikologis USD 5.000 tetap menjadi titik perhatian investor. Investor India berbondong-bondong membeli dana investasi emas melalui ETF pada bulan Januari, melampaui aliran dana ke reksa dana ekuitas untuk pertama kalinya, menurut data industri.
Pergerakan Logam Lain
Jumlah perak yang disimpan di brankas London mencapai 27.729 metrik ton pada akhir Januari, turun 0,3% dari bulan Desember, sementara stok emas naik 0,6% menjadi 9.158 ton (London Bullion Market Association). Harga perak turun 3,05% menjadi USD 80,83 per ons, setelah naik hampir 7% pada sesi sebelumnya. Standard Chartered mengatakan, “Arus keluar perak (produk yang diperdagangkan di bursa) membuat perak rentan terhadap volatilitas dalam jangka pendek dan penting untuk dipantau, tetapi pasar yang kekurangan pasokan menunjukkan pemulihan dalam beberapa bulan mendatang.” Harga platinum turun 1,99% menjadi USD 2.081,55 per ons, sementara harga paladium kehilangan 1,72% menjadi USD 1.710,33 per ons.
Penutup
Pergerakan harga emas yang amblas mendadak menjadi pengingat bagi investor untuk memantau data ekonomi dan sentimen pasar global secara cermat. Fluktuasi ini juga menunjukkan pentingnya strategi investasi yang adaptif, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar ekonomi, investasi, pasar komoditas, logam mulia, saham, keuangan, perbankan, energi, teknologi, dan properti hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Harga Emas Tiba-Tiba Amblas, Ini Gara-garanya. Retrieved from https://www.liputan6.com/bisnis/read/6276306/harga-emas-tiba-tiba-amblas-ini-gara-garanya
