Bitcoin kembali menjadi sorotan dunia keuangan global. Pada awal Oktober 2025, harga Bitcoin menembus rekor baru di kisaran US$ 125.000 per koin, atau sekitar Rp 2,08 miliar. Peningkatan tajam ini menandai salah satu lonjakan terbesar sejak 2021, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap aset kripto di tengah pelonggaran kebijakan ekonomi global.
Kenaikan ini terjadi setelah investor institusional kembali masuk ke pasar kripto, didorong oleh persetujuan ETF Bitcoin spot di sejumlah negara dan ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Tren ini memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai safe heaven di tengah ketidakpastian global.
The Fed dan Sentimen Pasar Global
Salah satu faktor utama di balik lonjakan harga Bitcoin adalah perubahan arah kebijakan moneter The Fed. Setelah lebih dari dua tahun mempertahankan suku bunga tinggi, The Fed mulai memberi sinyal penurunan suku bunga sebesar 0,25 % pada kuartal keempat 2025.
Langkah ini membuat likuiditas meningkat di pasar keuangan, dan investor mulai beralih dari aset konvensional ke aset berisiko seperti kripto. Setiap kali The Fed melonggarkan kebijakan moneter, harga Bitcoin cenderung naik karena dolar AS melemah dan permintaan terhadap aset digital menguat.
Baca Juga: Regulasi Baru Kripto Di Indonesia 2025
Adopsi Institusional dan ETF Bitcoin Spot
Selain faktor kebijakan moneter, adopsi institusional juga memegang peran besar. Lembaga keuangan besar seperti BlackRock dan Fidelity meningkatkan kepemilikan Bitcoin melalui produk ETF Bitcoin spot, yang kini juga sedang dikaji oleh OJK di Indonesia sebagai instrumen investasi resmi.
Langkah ini memberi sinyal positif bagi kepercayaan publik. Ketika lembaga besar ikut berpartisipasi, pasar menjadi lebih stabil dan legitimasi Bitcoin sebagai aset keuangan semakin kuat.
Halving dan Keterbatasan Pasokan Bitcoin
Efek dari peristiwa halving yang terjadi pada April 2024 juga mulai terasa tahun ini. Dalam halving tersebut, imbalan bagi penambang Bitcoin berkurang dari 6,25 menjadi 3,125 BTC per blok, sehingga pasokan Bitcoin baru di pasar semakin langka.
Siklus halving historis menunjukkan bahwa kenaikan besar biasanya terjadi sekitar satu tahun setelah peristiwa tersebut. Artinya, lonjakan 2025 masih berada dalam tren normal dari siklus pasar Bitcoin yang berulang setiap empat tahun.
Minat Investor Indonesia Meningkat Tajam
Dampak lonjakan harga global juga terasa di Indonesia. Volume transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 25 triliun per bulan, naik lebih dari 40 % dibanding awal tahun. Semakin banyak investor muda dan profesional yang kembali aktif berinvestasi di Bitcoin karena dianggap lebih menarik dibanding saham lokal.
Adanya pengawasan langsung dari OJK sejak Januari 2025 turut memperkuat rasa aman investor terhadap pasar kripto domestik. Selain itu, platform lokal seperti Indodax, Pluang, dan Pintu mencatat peningkatan pengguna baru hingga 20 % dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh kampanye edukasi dan kemudahan transaksi digital.
Apakah Tren Kenaikan Ini Akan Berlanjut?
Kenaikan harga Bitcoin yang pesat pada akhir 2025 menimbulkan pertanyaan besar: apakah tren ini akan terus berlanjut, atau justru mendekati puncaknya?. Meski pergerakan harga masih menunjukkan pola positif, para pelaku pasar menilai fase koreksi bisa saja terjadi dalam waktu dekat. Lonjakan cepat biasanya diikuti oleh penyesuaian pasar sebelum mencapai titik keseimbangan baru.
Namun, jika kondisi ekonomi global tetap stabil dan minat terhadap aset digital terus meningkat, potensi kenaikan lanjutan masih terbuka lebar. Secara jangka panjang, tren adopsi institusional, meningkatnya permintaan investor ritel, dan kebijakan yang semakin mendukung industri kripto bisa menjadi faktor utama yang menjaga momentum kenaikan Bitcoin. Dengan demikian, meskipun pasar kripto dikenal volatil, arah pergerakan Bitcoin masih menunjukkan prospek yang menjanjikan.
Penutup
Kenaikan harga Bitcoin hingga menembus rekor baru pada 2025 menunjukkan bahwa aset kripto ini masih menjadi magnet bagi investor global. Faktor seperti kebijakan The Fed, adopsi institusional, dan efek halving menjadi kombinasi sempurna yang mendorong pasar ke fase bullish.
Bagi investor Indonesia, momentum ini menjadi peluang untuk kembali melirik aset digital, namun tetap harus bijak dan paham risiko volatilitas yang tinggi. Dengan pengawasan OJK yang lebih kuat dan literasi finansial yang meningkat, masa depan Bitcoin di Indonesia tampak semakin menjanjikan. Untuk berita terkini seputar ekonomi digital, investasi, dan kripto, terus ikuti update eksklusif hanya di Garap Media!.
Referensi
- CNN Indonesia Harga Bitcoin Tembus Rekor US$125.000
- Detikfinance Harga Bitcoin cs Pecah Rekor, Tembus Rp 2,08 M
- CNBC Indonesia Bitcoin Pecahkan Rekor! Sentuh US$125.245
