Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, Lava Fountain dan Dentuman Terdengar

Last Updated: 5 September 2026, 08:28

Bagikan:

Gunung Anak Krakatau Erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan keluarnya lava pijar dan terdengarnya dentuman di kawasan Selat Sunda. Sumber gambar: Magma Indonesia Kementerian ESDM.
Table of Contents

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Sabtu pagi. Aktivitas tersebut menghasilkan fenomena lava fountain atau air mancur lava, suara dentuman dan gemuruh, serta membuat status gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga (detikNews, 2026).

Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam

Laporan pemantauan Magma Indonesia mencatat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung tanpa jeda sejak pukul 23.07 WIB pada Jumat malam. Pengamatan tersebut menggunakan periode pemantauan enam jam dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB pada Sabtu, 5 September 2026 (Metro TV, 2026).

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa proses vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Kondisi ini juga melanjutkan peningkatan aktivitas yang telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Gunung Anak Krakatau berada di kawasan perairan Selat Sunda dan termasuk gunung api yang aktivitasnya dipantau secara rutin. Badan Geologi melalui PVMBG mempertahankan status aktivitas gunung tersebut pada Level III atau Siaga.

Pemantauan periode terbaru mencatat beberapa kondisi penting:

  • Erupsi berlangsung sejak 23.07 WIB pada Jumat malam.
  • Fenomena erupsi terinterpretasi sebagai lava fountain.
  • Satu gempa letusan tercatat dengan amplitudo maksimum 70 milimeter.
  • Suara dentuman dan gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.
  • CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan mati setelah terkena lontaran material erupsi. (Metro TV, 2026).

Lava Fountain Gunung Anak Krakatau Disertai Dentuman

Fenomena lava fountain menjadi salah satu ciri utama erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau. Magma Indonesia menginterpretasikan aktivitas tersebut sebagai air mancur lava berdasarkan hasil pengamatan pada periode 00.00-06.00 WIB.

Suara dentuman dan gemuruh juga terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang. Jangkauan suara tersebut menunjukkan bahwa aktivitas erupsi berlangsung cukup kuat untuk terdengar dari lokasi pengamatan di daratan (detikNews, 2026).

Lontaran material erupsi juga berdampak pada perangkat pemantauan. Laporan Magma Indonesia menyebut CCTV pengamatan di lapangan berada dalam kondisi mati setelah terkena lontaran material. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya material vulkanik yang terlontar dari kawasan kawah aktif (Metro TV, 2026).

Pengamatan Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mencatat Gempa Berkelanjutan

Aktivitas kegempaan menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan Gunung Anak Krakatau. Laporan periode terbaru mencatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi tercatat 21.600 detik (Metro TV, 2026).

Angka durasi tersebut berkaitan dengan rekaman aktivitas erupsi menerus dalam periode pengamatan. Data kegempaan tersebut kemudian digunakan petugas untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung api.

Pengamatan visual juga menunjukkan kondisi yang berubah-ubah. Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat visibilitas 0-III, sedangkan asap kawah tidak teramati selama periode pemantauan.

Kondisi meteorologi di sekitar gunung juga tercatat sebagai berikut:

  • Cuaca berada dalam kondisi berawan hingga mendung.
  • Suhu udara berada pada kisaran 26,5-27,1 derajat Celsius.
  • Kelembapan udara berada pada kisaran 75-78 persen.
  • Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut. (Metro TV, 2026).

Status Gunung Anak Krakatau Tetap Level III atau Siaga

PVMBG mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih membutuhkan pemantauan dan penerapan rekomendasi keselamatan.

Petugas meminta masyarakat tidak mendekati kawasan kawah aktif. Rekomendasi tersebut berlaku bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau (detikNews, 2026).

Radius larangan aktivitas ditetapkan sejauh 3 kilometer dari kawah aktif. Ketentuan tersebut bertujuan mengurangi risiko akibat lontaran material vulkanik selama aktivitas erupsi masih berlangsung.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi. Informasi dari sumber resmi menjadi acuan penting karena aktivitas gunung api dapat berubah dalam waktu singkat.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Perlu Diikuti dengan Kewaspadaan

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam memperlihatkan aktivitas vulkanik yang masih tinggi. Fenomena lava fountain, dentuman, gemuruh, serta rekaman gempa letusan menjadi bagian dari hasil pemantauan terbaru (Metro TV, 2026).

Status Level III atau Siaga juga membuat rekomendasi keselamatan tetap berlaku. Masyarakat perlu menjaga jarak minimal 3 kilometer dari kawah aktif dan menghindari aktivitas di kawasan yang masuk zona bahaya.

Garap Media akan terus menghadirkan perkembangan terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi gunung api lainnya di Indonesia. Pembaca dapat mengikuti artikel nasional Garap Media untuk mendapatkan informasi terkini mengenai bencana alam dan kebencanaan.

Pembaca juga dapat membaca berbagai artikel lain mengenai peristiwa nasional, lingkungan, dan fenomena alam di Garap Media. Ikuti terus Garap Media untuk memperoleh informasi terbaru dari berbagai wilayah Indonesia.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /