Bagi penderita GERD (gastroesophageal reflux disease), menjalani puasa Ramadan sering kali menimbulkan kekhawatiran. Banyak yang takut gejala asam lambung seperti nyeri ulu hati, mual, hingga sensasi panas di dada akan kambuh saat perut kosong seharian.
Namun, pakar kesehatan dari Universitas Indonesia (UI) menegaskan bahwa GERD bukan berarti tidak bisa berpuasa. “Penderita GERD tetap dapat berpuasa dengan aman,” tulis UI dalam laporannya dikutip pada Rabu, 18 Februari 2026. Syaratnya, kondisi penyakit terkontrol dan pasien mengikuti anjuran medis yang tepat. Artinya, puasa bukan hal yang otomatis harus dihindari oleh semua penderita GERD. Kuncinya ada pada pemahaman kondisi tubuh dan pengaturan pola makan yang benar.
Puasa Justru Bisa Bantu Kendalikan GERD
Secara medis, puasa justru dapat memberikan manfaat bagi sebagian penderita GERD. Selama Ramadan, pola makan menjadi lebih teratur, waktu istirahat relatif lebih terjaga, dan tingkat stres cenderung lebih terkendali. Kombinasi faktor tersebut bisa membantu menurunkan risiko kekambuhan gejala asam lambung.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak pasien GERD merasa keluhannya berkurang selama menjalani puasa. Perubahan gaya hidup selama Ramadan membuat pola makan lebih terkontrol dan kondisi psikologis lebih stabil. Hal ini membuktikan bahwa kebiasaan hidup memiliki peran besar dalam mencegah munculnya gejala.
Meski demikian, penderita GERD tetap perlu memperhatikan beberapa hal penting agar puasa berjalan lancar. Pengaturan waktu makan, pemilihan jenis makanan, serta kepatuhan minum obat harus dijaga dengan disiplin. Konsultasi dengan dokter sebelum Ramadan juga sangat disarankan untuk menyesuaikan jadwal terapi dan memastikan kondisi tubuh siap berpuasa.
3 Tips Aman Puasa untuk Penderita GERD
Melansir rekomendasi dari National Institutes of Health (NIH), berikut tiga tips agar penderita GERD tetap nyaman selama puasa:
- Pilih Makanan Sehat dan Mudah Dicerna
GERD terjadi ketika katup otot di bagian bawah kerongkongan melemah, sehingga isi lambung naik ke kerongkongan dan memicu gejala seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, hingga sensasi mengganjal di tenggorokan. Oleh sebab itu, penting memilih makanan yang ramah bagi lambung saat sahur dan berbuka. Beberapa pilihan yang dianjurkan antara lain oatmeal, pisang, melon dan semangka, daging tanpa lemak, ikan, dan kacang-kacangan. Hindari makanan berlemak tinggi, pedas, asam, dan gorengan berlebihan karena dapat memicu produksi asam lambung. - Jangan Langsung Tidur Setelah Sahur atau Berbuka
Kebiasaan langsung berbaring setelah makan bisa memperburuk GERD. Saat tubuh dalam posisi tidur, gravitasi tidak membantu makanan turun ke usus. Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi panas di dada (heartburn). Idealnya, beri jeda minimal dua hingga tiga jam sebelum tidur setelah makan besar. - Gunakan Sandaran Jika Mengantuk
Jika rasa kantuk datang setelah sahur atau berbuka, sebaiknya jangan langsung berbaring datar. Tunggu beberapa saat atau gunakan bantal sebagai sandaran untuk menjaga posisi tubuh tetap lebih tinggi. Posisi ini membantu mencegah asam lambung naik dan mengurangi rasa mual.
Penutup
GERD bukanlah alasan untuk membatalkan puasa Ramadan. Penderita tetap bisa menjalankan ibadah dengan aman selama kondisi penyakit terkontrol, pola makan dijaga, dan anjuran dokter dipatuhi. Puasa dapat berjalan seiring dengan menjaga kesehatan tubuh.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar kesehatan, gaya hidup, tips puasa, nutrisi, psikologi, olahraga, penyakit, dan pencegahan hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). GERD Bukan Alasan Batal Puasa di Bulan Ramadan, Ini Penjelasan Ahli. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/6281113/gerd-bukan-alasan-batal-puasa-di-bulan-ramadan-ini-penjelasan-ahli
