Garap Media – Banyak orang mengira generasi muda saat ini memiliki lebih banyak pilihan karier dibanding generasi sebelumnya. Namun survei global justru menunjukkan fakta mengejutkan: Gen Z paling tidak bahagia bekerja dibandingkan kelompok usia lain.
Temuan ini menjadi perbincangan luas di berbagai negara karena generasi yang lahir di era digital ternyata menghadapi tekanan kerja yang tidak kalah besar. Bahkan beberapa laporan menyebut tingkat kepuasan kerja generasi ini berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi banyak anak muda, pekerjaan bukan hanya soal gaji, tetapi juga makna, fleksibilitas, dan keseimbangan hidup. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, rasa tidak puas terhadap pekerjaan pun muncul.
Survei Menunjukkan Tingkat Kepuasan Kerja Rendah
Menurut laporan dari Gallup, tingkat keterlibatan kerja di kalangan Gen Z berada pada level yang relatif rendah dibanding generasi lain. Dalam survei tersebut, hanya sekitar 23% pekerja muda yang merasa benar-benar terlibat dan puas dengan pekerjaannya.
Media internasional seperti BBC juga melaporkan bahwa banyak pekerja muda merasa pekerjaan mereka tidak memberikan rasa tujuan atau perkembangan yang jelas. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak Gen Z lebih sering berpindah pekerjaan dibanding generasi sebelumnya.
Tekanan Hidup Modern Memengaruhi Kebahagiaan Kerja
Fenomena Gen Z paling tidak bahagia bekerja tidak terjadi tanpa alasan. Banyak analis menilai bahwa generasi ini tumbuh di tengah perubahan ekonomi yang cepat, biaya hidup yang meningkat, serta ketidakpastian karier.
Menurut laporan dari Deloitte, lebih dari 40% Gen Z merasa stres dengan kondisi keuangan mereka, termasuk biaya hidup, pendidikan, dan masa depan karier. Kondisi ini membuat pekerjaan sering terasa seperti tekanan tambahan, bukan sumber kepuasan.
Ekspektasi Kerja yang Berubah
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki ekspektasi yang cukup berbeda terhadap dunia kerja. Mereka cenderung mencari pekerjaan yang memberikan fleksibilitas, keseimbangan hidup, serta lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental.
Namun kenyataannya, banyak tempat kerja masih menggunakan sistem lama yang tidak selalu sesuai dengan harapan generasi muda. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, rasa tidak puas terhadap pekerjaan pun meningkat.
Media Sosial Turut Memengaruhi Persepsi Kerja
Faktor lain yang sering disebut adalah pengaruh media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram sering menampilkan gambaran kehidupan yang terlihat lebih bebas dan fleksibel.
Hal ini membuat sebagian pekerja muda merasa pekerjaan konvensional kurang menarik dibanding gaya hidup yang mereka lihat di dunia digital. Perbandingan sosial ini dapat memperkuat perasaan tidak puas terhadap pekerjaan yang sedang dijalani.
Dunia Kerja Sedang Mengalami Perubahan
Meski begitu, para ahli percaya bahwa fenomena ini juga menjadi sinyal bahwa dunia kerja sedang berubah. Perusahaan di berbagai negara mulai menyesuaikan diri dengan kebutuhan generasi muda, mulai dari sistem kerja fleksibel hingga perhatian lebih besar terhadap kesehatan mental karyawan. Perubahan ini diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan seiring semakin banyaknya Gen Z yang memasuki dunia kerja.
Penutup
Temuan bahwa Gen Z paling tidak bahagia bekerja menunjukkan adanya perubahan besar dalam cara generasi muda memandang pekerjaan. Bagi mereka, karier bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari identitas dan keseimbangan hidup.
Jika dunia kerja mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi ini, bukan tidak mungkin tingkat kepuasan kerja akan meningkat di masa depan.
Sumber Referensi
Gallup https://www.gallup.com/home.aspx
Deloitte https://www2.deloitte.com/
