Gempa 7,7 Filipina Guncang Sulawesi Utara, Tsunami Kecil Terjadi dan Gempa Susulan Terus Berlanjut

Last Updated: 10 June 2026, 02:27

Bagikan:

Gempa 7 Filipina Sulawesi Utara
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang berpusat di Filipina Selatan memicu tsunami kecil dan rangkaian gempa susulan yang masih dirasakan di wilayah Sulawesi Utara. Masyarakat diimbau tetap waspada serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan otoritas kebencanaan setempat. Sumber gambar: BPBD Provinsi Sulawesi Utara/BNPB.
Table of Contents

Gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Sarangani, Filipina Selatan, mengguncang Sulawesi Utara dan sejumlah wilayah Indonesia timur pada 8 Juni 2026. Gempa tersebut memicu tsunami kecil yang terpantau di beberapa titik pengamatan Indonesia serta menyebabkan kerusakan bangunan di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Kondisi tersebut mendorong BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya status peringatan dicabut setelah situasi dinyatakan aman (BMKG, 2026; Darilaut.id, 2026).

Gempa Sulawesi Utara Berasal dari Gempa Besar di Sarangani Filipina

Gempa utama terjadi di wilayah Sarangani, Filipina Selatan, dengan magnitudo 7,7 dan kedalaman yang cukup dangkal untuk memicu pergerakan massa air laut. Posisi pusat gempa yang berada dekat wilayah perairan Indonesia membuat getaran terasa kuat hingga ke Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi Tengah (BMKG, 2026).

Warga di sejumlah daerah melaporkan guncangan kuat yang berlangsung cukup lama. Banyak masyarakat memilih keluar rumah dan menjauhi bangunan karena khawatir terjadi gempa susulan maupun tsunami. Situasi tersebut berlangsung selama beberapa jam setelah gempa utama terjadi (BMKG, 2026).

Wilayah yang melaporkan guncangan signifikan meliputi:

  • Kota Manado.
  • Kabupaten Kepulauan Sangihe.
  • Kabupaten Kepulauan Talaud.
  • Kota Bitung.
  • Kota Ternate.
  • Sejumlah wilayah di Gorontalo.

Pemerintah daerah kemudian mengimbau masyarakat agar tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi (BMKG, 2026).

Tsunami Kecil Terpantau di Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Gempa besar di Filipina Selatan memicu tsunami kecil yang terdeteksi pada sejumlah alat pemantauan muka air laut di Indonesia. BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah sehingga peringatan dini tsunami sempat diberlakukan untuk daerah yang berpotensi terdampak (BMKG, 2026).

Ketinggian gelombang yang terukur memang tidak tergolong besar, namun cukup untuk mengonfirmasi terjadinya tsunami. Karena alasan keselamatan, masyarakat pesisir tetap diminta menjauhi kawasan pantai hingga status peringatan resmi dicabut oleh otoritas terkait (BMKG, 2026).

Fakta penting terkait tsunami tersebut antara lain:

  • Tsunami kecil terdeteksi di sejumlah titik pantau.
  • Kenaikan muka air laut tercatat oleh BMKG.
  • Peringatan dini tsunami sempat diberlakukan.
  • Masyarakat pesisir diminta melakukan evakuasi sementara.
  • Status peringatan akhirnya dicabut setelah kondisi aman.

Keputusan tersebut menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini dalam mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana alam.

BMKG Akhiri Peringatan Dini Setelah Kondisi Laut Stabil

BMKG melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan gelombang laut setelah gempa terjadi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa ancaman tsunami berangsur menurun sehingga peringatan dini tsunami akhirnya diakhiri (BMKG, 2026).

Keputusan pencabutan peringatan dilakukan setelah data observasi menunjukkan kondisi muka air laut kembali stabil dan tidak terdapat indikasi peningkatan gelombang yang berbahaya bagi masyarakat pesisir. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi (BMKG, 2026).

Langkah mitigasi yang dilakukan meliputi:

  • Pemantauan muka air laut secara berkala.
  • Penyebaran informasi resmi kepada masyarakat.
  • Koordinasi dengan pemerintah daerah.
  • Pengawasan wilayah pesisir.
  • Evaluasi dampak pascabencana.

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas seismik tinggi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan masyarakat.

Gempa Susulan Terus Terjadi di Kepulauan Sangihe

Aktivitas tektonik di kawasan Laut Sulawesi masih berlangsung setelah gempa utama terjadi. BMKG mencatat sedikitnya 15 gempa susulan dengan magnitudo antara 3,8 hingga 4,9 yang mengguncang wilayah Tahuna dan sekitarnya dalam kurun waktu singkat setelah gempa utama (ANTARA News, 2026).

Gempa susulan tersebut menyebabkan masyarakat tetap berada dalam kondisi siaga. Petugas kebencanaan terus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terjadi peningkatan ancaman yang dapat membahayakan warga (ANTARA News, 2026).

Masyarakat diimbau untuk:

  • Menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
  • Menyiapkan perlengkapan darurat.
  • Mengikuti arahan petugas.
  • Memantau informasi resmi BMKG.
  • Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Langkah tersebut diperlukan untuk meminimalkan risiko apabila terjadi gempa susulan yang lebih kuat.

Kerusakan Bangunan Terjadi di Kepulauan Sangihe dan Talaud

Dampak gempa tidak hanya dirasakan dalam bentuk guncangan dan tsunami kecil. Sejumlah bangunan di Kepulauan Sangihe dan Talaud dilaporkan mengalami kerusakan akibat kuatnya getaran yang mencapai wilayah tersebut. Laporan awal menyebutkan sekitar 100 rumah dan bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi (Darilaut.id, 2026).

Selain itu, laporan kebencanaan juga mencatat puluhan rumah mengalami kerusakan berat sehingga membutuhkan penanganan dan bantuan lanjutan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait (ProPublika, 2026).

Beberapa dampak yang dilaporkan meliputi:

  • Kerusakan rumah warga.
  • Kerusakan fasilitas umum.
  • Gangguan aktivitas masyarakat.
  • Evakuasi sementara warga pesisir.
  • Pemeriksaan bangunan pascagempa.

Pemerintah daerah bersama tim kebencanaan terus melakukan pendataan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera dipenuhi.

Gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Sarangani, Filipina Selatan, memberikan dampak nyata bagi Sulawesi Utara dan Maluku Utara melalui guncangan kuat, tsunami kecil, serta kerusakan bangunan di sejumlah wilayah. Respons cepat BMKG dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko yang lebih besar bagi masyarakat.

Ikuti terus perkembangan informasi gempa bumi, tsunami, mitigasi bencana, dan kebijakan kebencanaan terbaru di Garap Media. Temukan juga berbagai artikel informatif lainnya mengenai lingkungan, geologi, dan kesiapsiagaan bencana hanya di Garap Media.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /