Gembong Narkoba Dewi Astutik Ditangkap: Sindikat Sabu 2 Ton Rp 5 Triliun Runtuh

Last Updated: 3 December 2025, 16:59

Bagikan:

Penangkapan Dewi Astutik menjadi pukulan telak bagi jaringan sabu internasional bernilai triliunan rupiah yang selama ini beroperasi lintas negara. Sumber gambar: Detik News.
Table of Contents

Gembong Narkoba Dewi Astutik Ditangkap: Sindikat Sabu 2 Ton Rp 5 Triliun Runtuh

Penangkapan terhadap buronan kelas kakap Dewi Astutik menjadi sorotan besar setelah ia berhasil dibekuk di Sihanoukville, Kamboja. Dewi, yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian Interpol, diduga sebagai otak penyelundupan sabu dalam jumlah besar dan telah lama menjadi target BNN (detikcom, 2025).

Penindakan ini menjadi pukulan telak bagi jaringan narkoba internasional yang selama ini bergerak lintas negara. Kerja sama BNN dengan aparat Kamboja menunjukkan bahwa operasi lintas negara dalam pemberantasan narkotika dapat dilakukan secara efektif melalui pertukaran informasi dan koordinasi intensif (detikNews, 2025).

Profil Dewi Astutik Gembong Narkoba

Identitas & Asal-usul

Dewi Astutik, atau dikenal pula dengan alias “PA”, merupakan perempuan berusia 43 tahun asal Ponorogo, Jawa Timur. Ia berasal dari Dusun Sumber Agung, Kecamatan Balong, dan sebelumnya dikenal sebagai pekerja migran (TKW) sebelum terlibat jaringan kriminal narkotika (Radar Tulungagung, 2025).

Selain identitas resminya, Dewi juga diketahui menggunakan sejumlah alias seperti “Kak Jinda” dan “Dinda”, sebuah pola umum yang digunakan pelaku sindikat kejahatan internasional untuk mengaburkan jejak dan aktivitas mereka (Prokalteng, 2025).

Peran dalam Sindikat & Skala Kejahatan

Dewi tidak beroperasi sebagai kurir kecil, melainkan diduga menjadi motor utama dalam penyelundupan sabu lintas negara. Ia berperan besar dalam logistik dan rekrutmen jaringan, sehingga membuatnya menjadi salah satu figur kunci dalam rute penyelundupan narkoba internasional.

BNN menyatakan Dewi terkait dengan penyelundupan sekitar 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun, menjadikannya salah satu sosok paling berpengaruh dalam industri gelap tersebut. Dewi juga disebut bersaing dengan gembong lain seperti Fredy Pratama (detikNews, 2025).

Kronologi Penangkapan Gembong Narkoba

Pelacakan & Operasi Internasional

Keberadaan Dewi pertama kali terdeteksi pada 17 November 2025 di Phnom Penh, Kamboja. Setelah pemantauan ketat selama beberapa hari, operasi gabungan dilakukan pada 1 Desember 2025 sekitar pukul 13.39 waktu setempat. Dewi ditangkap di lobi hotel di Sihanoukville saat berada dalam kendaraan Toyota Prius putih (detikcom, 2025).

Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan. Aparat yang terlibat meliputi BNN, kepolisian Kamboja, BAIS TNI, bea cukai, serta dukungan diplomatik dari KBRI Phnom Penh (Jawapos, 2025).

Penjemputan dan Pemulangan ke Indonesia

Setelah diamankan, Dewi dibawa ke Indonesia untuk proses hukum lebih lanjut. Kepala BNN Suyudi Ario Seto direncanakan menjemput langsung dan memastikan seluruh proses pemulangan berjalan lancar (detikcom, 2025).

Dampak & Implikasi Penangkapan Gembong Narkoba

Penggagalan Peredaran Narkoba Besar

Penangkapan Dewi dianggap sebagai upaya penyelamatan besar, mengingat jumlah sabu yang ia terkait mencapai 2 ton dan berpotensi mengancam jutaan masyarakat. BNN menegaskan bahwa operasi ini berhasil menggagalkan distribusi narkoba dalam skala besar (detikNews, 2025).

Kekuatan Kerja Sama Internasional

Kasus ini menjadi bukti bahwa koordinasi internasional dapat membongkar jaringan narkoba besar. Kolaborasi antara BNN, kepolisian Kamboja, dan otoritas lain membuktikan bahwa sindikat lintas negara tidak dapat bertahan saat berbagai lembaga bekerja serempak.

Modus Penyamaran & Mobilitas Tinggi

Penggunaan alias dan sejarah Dewi sebagai pekerja migran memperlihatkan bagaimana pelaku sindikat narkoba memanfaatkan identitas ganda serta mobilitas lintas negara untuk menghindari deteksi. Kasus ini menjadi pengingat penting akan pentingnya pengawasan TKI tanpa mengabaikan hak mereka (Harian Fajar, 2025).

Mengapa Kasus Ini Penting

  • Skala besar dan terorganisir: 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun menunjukkan ancaman serius.
  • Peran perempuan dalam posisi puncak: Dewi membuktikan bahwa gembong narkoba tidak hanya didominasi laki-laki.
  • Efektivitas kerja sama internasional: Sinergi lintas negara menjadi kunci pembongkaran sindikat besar.
  • Waspada penyamaran TKI: Pentingnya verifikasi dan pengawasan mobilitas pekerja migran.

Penangkapan Dewi Astutik menjadi titik penting dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia. Kasus ini membuktikan bahwa jaringan narkoba global adalah ancaman nyata yang membutuhkan kolaborasi antarlembaga dan antarnegara.

Garap Media akan terus menghadirkan laporan mendalam mengenai kriminalitas, kejahatan transnasional, dan isu sosial penting lainnya. Ikuti perkembangan terbaru dan bacalah berita-berita kami yang lain untuk memahami lebih jauh dinamika kejahatan modern.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /