Viral di media sosial, kegiatan sahur on the road di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menuai kontroversi setelah diiringi sound horeg dan aksi penari yang dianggap tidak pantas. Video yang beredar memperlihatkan sebuah kendaraan dengan perangkat audio berukuran besar berhenti di jalan desa, sementara seorang perempuan berjoget di depan kerumunan warga.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sound Horeq Jombang itu terjadi di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso. Sejumlah media nasional dan lokal memberitakan kejadian tersebut, termasuk soal tidak adanya izin kegiatan serta respons dari aparat kepolisian dan tokoh publik.
Kronologi Sound Horeq Jombang yang Viral
Acara sahur on the road tersebut berlangsung pada Minggu dini hari dan diikuti konvoi warga dengan membawa sound system berdaya besar atau yang dikenal sebagai sound horeg. Dalam video yang beredar, terlihat seorang penari berjoget di depan susunan speaker besar yang dipasang di atas kendaraan terbuka (Detik Jatim, 2026).
Lokasi detail kejadian di Desa Jatibanjar, Ploso, serta reaksi warga yang menilai kegiatan tersebut kurang pantas dilakukan saat Ramadan (Detik Jatim, 2026).
Polisi: Kegiatan Sound Horeq Jombang Tak Berizin
Pihak kepolisian setempat turut memberikan klarifikasi. Kapolsek Ploso menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak mengantongi izin dari pemerintah desa maupun kepolisian. Polisi juga menyebut akan melakukan evaluasi agar kegiatan serupa tidak kembali menimbulkan keresahan masyarakat (Detik Jatim, 2026).
Aparat mengingatkan bahwa kegiatan sahur keliling seharusnya dilakukan dengan tertib serta tidak mengganggu ketenangan warga, terlebih pada waktu dini hari ketika sebagian masyarakat masih beristirahat.
Respons Pejabat dan Sorotan Nasional
Isu Sound Horeq Jombang tak hanya ramai di tingkat lokal. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid turut menyoroti kegiatan tersebut dan menyayangkan adanya hiburan yang dinilai tidak sesuai dengan nilai Ramadan serta berpotensi mengganggu ketertiban umum (DetikNews, 2026).
Kritik yang muncul umumnya berkaitan dengan konteks pelaksanaan di bulan suci Ramadan. Banyak pihak menilai kegiatan membangunkan sahur seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih santun dan tidak menimbulkan kontroversi.
Klarifikasi Penyedia Sound System
Klarifikasi dari pihak penyedia sound horeg. Penyedia sound membantah menyediakan atau menyewa penari, dan menyebut kehadiran penari tersebut bukan bagian dari kontrak resmi kegiatan (KabarBaik.co, 2026).
Klarifikasi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian fakta Sound Horeq Jombang, karena publik sempat berspekulasi bahwa aksi joget tersebut memang disiapkan sebagai hiburan utama dalam kegiatan sahur keliling tersebut.
Pro dan Kontra di Tengah Masyarakat
Fenomena Sound Horeq Jombang memunculkan perdebatan luas. Sebagian masyarakat menganggap kegiatan tersebut sebagai bentuk kreativitas anak muda dalam meramaikan tradisi sahur on the road. Namun, tidak sedikit pula yang menilai aksi tersebut melampaui batas kepatutan, terlebih dilakukan saat Ramadan.
Selain soal penampilan penari, penggunaan sound horeg dengan volume tinggi juga menjadi sorotan. Kebisingan yang ditimbulkan dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Kasus ini menunjukkan bagaimana satu peristiwa lokal dapat dengan cepat menjadi isu nasional berkat media sosial dan pemberitaan daring.
Kasus Sound Horeq Jombang menjadi pengingat bahwa kegiatan di ruang publik, apalagi dalam momentum keagamaan seperti Ramadan, memerlukan pertimbangan matang. Kreativitas dan hiburan tetap harus berjalan beriringan dengan norma sosial serta aturan yang berlaku.
Ikuti terus perkembangan berita terbaru dan analisis mendalam lainnya hanya di Garap Media. Dapatkan informasi aktual seputar isu sosial, kebijakan publik, hingga tren viral yang sedang ramai diperbincangkan.
Referensi
