G30S PKI: Kronologi Lengkap Tragedi Berdarah

Last Updated: 30 September 2025, 23:52

Bagikan:

g30s pki, kronologi lengkap tragedi berdarah
Foto: Pinterest / dasih darmaji
Table of Contents

G30S PKI – Singkatan dari Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia yang berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi kelam dalam sejarah Indonesia karena melibatkan penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat.

Kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September mengklaim melindungi Presiden Soekarno, namun kenyataannya aksi tersebut berujung pada kudeta yang gagal. Peristiwa ini kemudian menjadi titik balik besar yang mengubah arah politik Indonesia.


Latar Belakang G30S PKI

Pada awal 1960-an, Partai Komunis Indonesia (PKI) berkembang sangat pesat hingga menjadi partai komunis terbesar di luar Uni Soviet dan Tiongkok. Melalui berbagai organisasi massa, PKI semakin kuat dan berpengaruh dalam politik Indonesia.

Di sisi lain, kondisi dalam negeri mengalami krisis. Inflasi melonjak tinggi, perebutan tanah sering terjadi, serta hubungan antara PKI dan Angkatan Darat semakin tegang. Kesehatan Presiden Soekarno yang memburuk juga menimbulkan isu suksesi kepemimpinan. Selain itu, konfrontasi Indonesia dengan Malaysia ikut memperkeruh situasi politik (Wikipedia, n.d.).


Kronologi G30S PKI

Penculikan dan Pembunuhan Jenderal

Dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung Syamsuri bergerak dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma menuju rumah para perwira tinggi Angkatan Darat. Target mereka adalah tujuh jenderal yang tergabung dalam Staf Umum Angkatan Darat.

Dalam operasi itu:

  • Letjen Ahmad Yani, Mayjen M.T. Haryono, dan Brigjen D.I. Pandjaitan ditembak di rumah masing-masing.
  • Mayjen S. Parman, Mayjen Soeprapto, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo ditangkap hidup-hidup.
  • Jenderal A.H. Nasution, target utama, berhasil meloloskan diri. Namun ajudannya, Lettu Pierre Tendean, tertangkap dan dibawa karena dikira Nasution.

Selain itu, putri Jenderal Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, terluka akibat tembakan dan meninggal beberapa hari kemudian. Polisi pengawal tetangga Nasution, Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun, juga tewas. Keponakan Jenderal Pandjaitan, Albert Naiborhu, turut menjadi korban.

Para jenderal dan korban lain dibawa ke daerah Lubang Buaya. Sebagian yang masih hidup disiksa, kemudian seluruhnya dibunuh. Jenazah mereka lalu dibuang ke sumur tua di lokasi tersebut (Wikipedia, n.d.; Detikcom, 2023).

Penemuan Jenazah di Lubang Buaya

Pada 3 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan di sumur tua Lubang Buaya. Pemakaman kenegaraan dilakukan pada 5 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Para jenderal tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi (Wikipedia, n.d.; Detikcom, 2023).

Penumpasan di Jakarta

Pada pagi 1 Oktober 1965, pasukan G30S sempat menguasai RRI dan kantor telekomunikasi di Jakarta untuk menyebarkan pengumuman. Namun, siang harinya Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih komando Angkatan Darat.

Sore hingga malam hari, pasukan Soeharto berhasil merebut kembali RRI dan kantor telekomunikasi. Fokus kemudian diarahkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, markas utama Gerakan 30 September. Pada 2 Oktober 1965, Halim berhasil dikuasai penuh. Dengan jatuhnya pangkalan ini, kudeta dinyatakan gagal (Wikipedia, n.d.).

Peristiwa di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Selain di Jakarta, peristiwa serupa juga terjadi di daerah. Di Yogyakarta, Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono diculik, dibunuh, dan dimakamkan secara kenegaraan sebagai Pahlawan Revolusi (Wikipedia, n.d.).


Dampak Politik dan Sosial

Setelah kegagalan kudeta, PKI dituduh sebagai dalang. Penangkapan besar-besaran terjadi, diikuti kekerasan terhadap simpatisan PKI di berbagai daerah. Jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga jutaan.

Pada 1966, PKI resmi dibubarkan. Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang luas kepada Jenderal Soeharto. Dari sini, kekuasaan politik beralih menuju Orde Baru (Wikipedia, n.d.).


Hari Kesaktian Pancasila

Pemerintah Orde Baru menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini dilakukan untuk mengenang para korban G30S PKI dan memperkuat legitimasi politik pemerintah saat itu. Hingga kini, Hari Kesaktian Pancasila masih diperingati setiap tahun sebagai bagian penting dari sejarah bangsa (Wikipedia, n.d.).


Penutup

Tragedi G30S PKI menandai perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini menewaskan para perwira tinggi Angkatan Darat, memicu kekerasan massal, dan menggeser kekuasaan nasional dari Soekarno ke Soeharto.

Untuk memahami lebih jauh sejarah dan peristiwa penting lainnya, pembaca dapat mengikuti artikel sejarah di Garap Media sebagai sumber informasi terpercaya.


Referensi:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /