Filosofi Layang-Layang dan Nilai Hidup di Baliknya

Last Updated: 28 October 2025, 22:27

Bagikan:

Foto: Muhammad Ikhsan
Table of Contents

Bagi sebagian orang, layang-layang hanyalah permainan masa kecil di kala senja. Namun bagi sebagian lain, ia menyimpan kenangan, makna, bahkan pelajaran hidup yang mendalam. Permainan yang tampak sederhana ini sejatinya mengajarkan tentang keseimbangan, keteguhan, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Di Aceh dan berbagai daerah di Nusantara, tradisi bermain layang-layang dulu menjadi ajang kebersamaan. Anak-anak berlarian di sawah, sementara angin sore mengibarkan warna-warni di langit. Kini, permainan itu kian jarang terlihat, tergeser oleh gawai dan layar digital. Karena itu, penting untuk kembali menilik filosofi yang terkandung di balik permainan rakyat ini.


Filosofi Layang-Layang: Antara Angin dan Tali

Filosofi layang-layang sangat sederhana namun dalam. Ia hanya bisa terbang tinggi jika ada angin yang menentangnya. Artinya, dalam hidup, ujian dan kesulitan justru menjadi kekuatan yang membuat manusia tumbuh. Tanpa perlawanan, tanpa tantangan, seseorang tidak akan pernah naik lebih tinggi.

Selain itu, layang-layang tidak akan bisa terbang tanpa tali. Tali itulah yang menjadi kendali dan batas. Dalam kehidupan, tali melambangkan nilai, moral, dan prinsip yang menuntun manusia agar tidak lepas kendali. Di sinilah makna keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.


Nilai-Nilai Pendidikan dari Permainan Layang-Layang

Dalam perspektif pendidikan, permainan layang-layang mengandung banyak nilai penting. Pertama, kreativitas — anak-anak membuat layangan dari bambu, kertas, dan benang, melatih keterampilan tangan serta daya cipta. Kedua, kerja sama — membuat dan menerbangkan layangan sering dilakukan bersama teman, menumbuhkan rasa kebersamaan.

Selain itu, permainan ini menanamkan kesabaran dan pengendalian diri. Tidak semua layangan bisa langsung terbang. Kadang anginnya terlalu kuat, kadang benangnya putus. Namun justru dari situ anak belajar menerima kegagalan dan mencoba lagi. Nilai-nilai semacam ini selaras dengan pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah maupun di dayah.

Baca juga: https://www.melintas.id/pendidikan/344087960/sejarah-permainan-tradisional-indonesia-warisan-budaya-yang-kaya-makna-nilai-nilai-pendidikan-dalam-kehidupan


Layang-Layang dan Tradisi Aceh

Di beberapa daerah Aceh. Dahulu, permainan ini menjadi bagian dari kegiatan sore hari setelah anak-anak membantu orang tua di sawah. Layang-layang bahkan dibuat dengan pola dan warna khas daerah, melambangkan identitas dan rasa bangga terhadap kampung halaman.

Kini, tradisi ini mulai memudar. Anak-anak lebih akrab dengan layar gawai ketimbang angin sore di lapangan. Padahal, bermain layang-layang dapat menjadi kegiatan rekreatif yang sehat dan sarat makna budaya. Karena itu, sudah saatnya permainan rakyat ini dihidupkan kembali sebagai bagian dari pendidikan berbasis budaya lokal.


Penutup

Pada akhirnya, filosofi layang-layang mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan keseimbangan antara kebebasan dan kendali. Manusia boleh bercita-cita setinggi langit, tetapi tetap perlu berpijak pada nilai dan prinsip.

Mari terus menjaga permainan dan tradisi yang sarat makna seperti layang-layang. Karena melalui budaya, kita belajar tentang kehidupan. Baca juga tulisan inspiratif lainnya hanya di  Garap Media.


Referensi:

  • Rahman, A. (2019). Permainan Tradisional Nusantara dan Nilai Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

  • Kemdikbud. (2021). Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

  • Abdullah, M. (2020). Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Deepublish.

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /