Film Solata Angkat Kisah Relawan Guru di Toraja, Sentuh Isu Pendidikan dan Makna Persahabatan

Last Updated: 4 November 2025, 20:39

Bagikan:

Film Solata membawa pesan kemanusiaan dan persahabatan dari jantung Toraja — kisah yang menyentuh hati setiap penonton. Sumber gambar: Cinema XXI
Table of Contents

Film Solata Angkat Kisah Relawan Guru di Toraja, Sentuh Isu Pendidikan dan Makna Persahabatan

Film Solata menjadi salah satu karya terbaru perfilman Indonesia yang menggugah emosi dan kesadaran sosial. Disutradarai oleh Ichwan Persada, film ini menggambarkan perjuangan seorang relawan yang menemukan makna hidup dan persahabatan sejati di pedalaman Toraja. Dengan latar budaya dan keindahan alam Sulawesi Selatan, Solata tidak hanya menawarkan kisah inspiratif, tetapi juga mengajak penonton menyoroti isu pendidikan di daerah terpencil (Harian Fajar, 2024).

Rilis pada 6 November 2025, film yang diproduksi oleh Walma Pictures dan Indonesia Sinema Persada ini menampilkan keindahan alam Ollon, Kecamatan Bonggakaradeng, Tana Toraja, sebagai latar utama. Kisahnya menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang kental, menjadikannya lebih dari sekadar tontonan drama sosial biasa (Erakini.id, 2025).


Latar Belakang dan Makna di Balik Film Solata

Arti Judul dan Inspirasi Cerita

Nama Solata diambil dari bahasa Toraja yang berarti “lebih dari teman” — sebuah istilah yang menggambarkan hubungan yang telah melampaui batas pertemanan dan menjadi keluarga. Menurut sang sutradara Ichwan Persada, filosofi ini menjadi inti cerita film, yang terinspirasi dari kisah nyata tentang relawan pendidikan di pelosok nusantara (Harian Fajar, 2024).

Film ini dibintangi oleh Rendy Kjaernett sebagai Angkasa, tokoh utama yang berangkat ke Toraja setelah kehilangan pekerjaan dan ibunya. Dalam perjalanan hidupnya di Ollon, Angkasa menemukan kembali semangat dan makna hidup lewat interaksinya dengan murid-murid lokal yang sederhana namun penuh harapan (BalikpapanTV, 2025).


Sinopsis dan Tema Utama Film Solata

Kisah Relawan dan Murid di Pedalaman

Solata menceritakan perjalanan Angkasa, seorang pria asal Jakarta yang menjadi relawan guru di dusun terpencil Ollon. Ia menghadapi tantangan besar dalam mengajar di sekolah darurat dengan fasilitas seadanya, mulai dari dinding bambu hingga jalan menuju sekolah yang sulit dilalui. Namun, di tengah keterbatasan, Angkasa justru menemukan ketulusan dan semangat belajar dari enam muridnya — Karno, Harto, Mega, Habi, Wahid, dan Bambang — yang namanya terinspirasi dari para presiden Indonesia (Poros Jakarta, 2025).

Selain mengangkat realitas pendidikan di pedalaman, film ini juga mengeksplorasi makna persahabatan dan kemanusiaan. Tema Solata menegaskan bahwa hubungan antar manusia bisa menjadi sumber kekuatan untuk bertahan dan tumbuh dalam kondisi sulit (YourSay Suara, 2025).


Proses Produksi dan Lokasi Syuting

Film ini digarap selama dua minggu dengan lokasi syuting di Jakarta, Palopo, Toraja, dan Toraja Utara. Ichwan Persada menuturkan bahwa pemilihan Toraja bukan tanpa alasan. Daerah ini memiliki bentang alam yang luar biasa sekaligus merepresentasikan perjuangan pendidikan di pelosok Indonesia. Menurutnya, Solata adalah “surat cinta” bagi para guru dan relawan yang berjuang di wilayah terpencil (Erakini.id, 2025).

Salah satu tantangan terbesar dalam produksi adalah akses menuju lokasi syuting di pegunungan Ollon. Tim produksi harus menempuh perjalanan panjang dengan kendaraan off-road untuk membawa peralatan syuting ke lokasi. Namun, pemandangan alam dan keaslian budaya Toraja menjadi kekuatan visual film ini yang autentik dan memikat (Harian Fajar, 2024).


Pesan Sosial dan Relevansi Film Solata

Solata hadir bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya pemerataan pendidikan di Indonesia. Melalui cerita relawan Angkasa, film ini menyoroti perjuangan guru-guru di pelosok yang tetap mengabdi meski minim fasilitas dan perhatian. Isu ini mencerminkan realitas yang masih dihadapi banyak wilayah di Indonesia bagian timur (YourSay Suara, 2025).

Film ini diharapkan dapat menjadi refleksi sosial dan sumber inspirasi, terutama bagi generasi muda untuk terlibat dalam gerakan pendidikan. Ichwan Persada berharap, pesan Solata dapat menumbuhkan empati serta mengingatkan masyarakat bahwa setiap anak, di mana pun berada, berhak atas pendidikan yang layak (BalikpapanTV, 2025).


Solata menawarkan lebih dari sekadar drama; ia adalah kisah tentang pengorbanan, harapan, dan makna hidup. Dengan latar budaya Toraja dan pesan kemanusiaan yang kuat, film ini menjadi salah satu karya yang patut dinantikan tahun ini. Visual memukau dan narasi menyentuh menjadikan Solata relevan untuk semua kalangan.

Untuk kamu yang mencintai film Indonesia bertema sosial dan inspiratif, Solata wajib masuk dalam daftar tontonan. Jangan lewatkan berita dan ulasan film menarik lainnya hanya di Garap Media untuk mendapatkan wawasan terbaru seputar dunia perfilman tanah air.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /