Fenomena Sound Horeg: Gaya Hidup atau Gangguan Sosial?
Fenomena sound horeg semakin marak terlihat di berbagai sudut Indonesia, terutama pada acara-acara rakyat seperti sunatan, perayaan ulang tahun, hingga hajatan desa. Tidak hanya menarik perhatian karena suara musik yang menggelegar, tren ini juga memicu pro dan kontra dari masyarakat. Beberapa menganggapnya sebagai ekspresi budaya, sementara yang lain melihatnya sebagai gangguan ketertiban umum. Lalu, apa sebenarnya sound horeg itu? Dan mengapa menjadi begitu populer sekaligus kontroversial?
Apa Itu Sound Horeg?
Asal Usul dan Pengertian
Sound horeg berasal dari istilah “sound system horeg”, yaitu sistem suara berdaya tinggi yang biasanya digunakan untuk keperluan hiburan di ruang terbuka, terutama di kampung-kampung. Kata “horeg” sendiri merupakan pelesetan dari “hore”, yang menggambarkan suasana meriah dan ramai. Biasanya, sound horeg mengusung genre musik dangdut koplo, remix EDM lokal, hingga house dangdut, dengan dentuman bass yang bisa terdengar hingga radius puluhan meter.
Ciri Khas Sound Horeg
Beberapa ciri khas sound horeg antara lain:
- Speaker aktif berukuran besar
- Pemutar musik dengan efek DJ remix
- Suara bass yang sangat dominan
- Sering disertai dengan atraksi organ tunggal atau joget masal
- Umumnya diadakan di ruang terbuka tanpa peredam suara
Mengapa Sound Horeg Digemari?
Bentuk Hiburan Murah Meriah
Di daerah pedesaan atau pinggiran kota, sound horeg menjadi bentuk hiburan yang murah meriah namun tetap meriah. Warga bisa menikmati musik, berjoget, dan bersosialisasi tanpa harus pergi ke tempat hiburan mahal. Musik keras seolah menjadi simbol kebebasan dan ekspresi, terutama bagi kalangan muda.
Ajang Pamer dan Kreativitas
Tidak jarang, pemilik sound system menjadikan acara ini sebagai ajang unjuk gigi. Mereka bersaing dalam hal kualitas suara, dekorasi panggung, hingga performa DJ atau MC yang tampil. Hal ini mendorong munculnya komunitas-komunitas pecinta sound horeg yang bahkan saling mengundang dan melakukan tur antar desa.
Dampak Negatif Sound Horeg
Gangguan Ketertiban dan Kesehatan
Meski menyenangkan bagi sebagian orang, sound horeg juga menimbulkan banyak keluhan. Tingkat kebisingan yang tinggi mengganggu ketenangan warga sekitar, terutama lansia, anak-anak, atau orang sakit. Tidak sedikit yang merasa terganggu oleh acara yang berlangsung hingga dini hari. Bahkan, menurut Kementerian Kesehatan, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat merusak pendengaran.
Masalah Perizinan dan Hukum
Kegiatan sound horeg sering dilakukan tanpa izin resmi. Hal ini menimbulkan konflik sosial, bahkan bentrok antar warga. Polisi kerap turun tangan membubarkan acara jika ada laporan dari warga, namun sayangnya, belum ada regulasi tegas yang mengatur batas kebisingan di lingkungan perumahan secara spesifik untuk acara semacam ini.
Perlukah Regulasi Khusus?
Banyak pihak mendesak adanya regulasi yang mengatur soal batas kebisingan dan jam operasional sound system publik. Pemerintah daerah di beberapa wilayah mulai menerapkan pembatasan jam hingga pukul 22.00 malam dan mengharuskan adanya surat izin keramaian dari pihak berwajib. Namun, di sisi lain, beberapa pihak juga berharap agar pemerintah memberikan ruang khusus bagi ekspresi budaya lokal ini, seperti menyediakan lapangan terbuka atau jadwal acara yang tertib.
Fenomena sound horeg memperlihatkan bagaimana budaya populer bisa berkembang dari tingkat akar rumput dan memengaruhi tatanan sosial secara luas. Di satu sisi, ini menunjukkan kreativitas dan keceriaan rakyat kecil. Namun di sisi lain, ketidakteraturan dan dampaknya terhadap masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Jika tidak diatur dengan bijak, hiburan ini bisa berubah menjadi masalah sosial yang serius.
Baca terus berita menarik lainnya hanya di Garap Media, tempat Anda mendapatkan informasi terkini dengan perspektif segar!
Referensi:
