Fenomena Lazarus Effect kembali menjadi perbincangan publik setelah sejumlah laporan medis dan pemberitaan media mengungkap kasus pasien yang telah dinyatakan meninggal dunia, namun kemudian kembali menunjukkan tanda‑tanda kehidupan. Kejadian langka ini menimbulkan keheranan masyarakat sekaligus menjadi perhatian serius di dunia medis.
Dalam istilah kedokteran, Lazarus Effect dikenal sebagai autoresuscitation, yakni kembalinya sirkulasi darah secara spontan setelah upaya resusitasi jantung paru (CPR) dihentikan. Meski jarang terjadi, fenomena ini telah tercatat dalam jurnal ilmiah dan dilaporkan pula oleh media lokal di Indonesia.
Apa Itu Lazarus Effect?
Pengertian Lazarus Effect dalam Dunia Medis
Lazarus Effect adalah kondisi ketika seseorang yang telah dinyatakan meninggal secara klinis kembali menunjukkan tanda kehidupan, seperti denyut nadi atau pernapasan, tanpa intervensi medis lanjutan. Istilah ini diambil dari kisah Lazarus yang bangkit dari kematian, namun dalam konteks medis, fenomena ini murni dijelaskan secara ilmiah (Cleveland Clinic, 2019).
Fenomena ini biasanya terjadi dalam hitungan menit setelah CPR dihentikan. Karena itulah, sejumlah panduan medis menyarankan tenaga kesehatan untuk tetap melakukan observasi beberapa menit sebelum memastikan kematian pasien.
Seberapa Sering Terjadi?
Lazarus Effect tergolong sangat langka. Berdasarkan tinjauan literatur medis, hanya puluhan kasus yang terdokumentasi secara resmi di dunia. Namun, para ahli meyakini jumlah sebenarnya bisa lebih banyak karena tidak semua kasus dilaporkan secara ilmiah (Journal of Clinical Medicine, 2023).
Penyebab dan Mekanisme Lazarus Effect
Hingga kini, belum ada satu penyebab pasti yang menjelaskan terjadinya Lazarus Effect. Namun, para peneliti mengajukan beberapa teori yang paling banyak diterima secara medis.
Pertama, tekanan udara berlebih di dalam dada saat CPR dapat menghambat aliran balik darah ke jantung. Ketika CPR dihentikan dan tekanan tersebut berkurang, darah kembali mengalir dan memicu denyut jantung spontan.
Kedua, obat‑obatan resusitasi seperti adrenalin dapat memiliki efek tertunda. Artinya, obat baru bekerja beberapa menit setelah CPR dihentikan. Selain itu, gangguan elektrolit dan kondisi metabolik tertentu juga diduga berperan dalam fenomena ini (Cleveland Clinic, 2019).
Kasus Lazarus Effect yang Pernah Terjadi
Kasus Medis dalam Literatur Ilmiah
Sebuah laporan kasus yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Medicine tahun 2023 mencatat kejadian Lazarus Effect pada pasien yang mengalami henti jantung setelah resusitasi panjang. Pasien tersebut kembali menunjukkan sirkulasi spontan beberapa menit setelah dinyatakan meninggal, meski akhirnya tidak bertahan lama.
Kasus yang Dilaporkan Media Lokal Indonesia
Kasus seorang remaja perempuan di Probolinggo yang dinyatakan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit. Namun, beberapa saat sebelum dimakamkan, korban kembali menunjukkan tanda kehidupan. Tenaga medis menyebut fenomena ini berkaitan dengan Lazarus Syndrome atau kondisi medis serupa, bukan peristiwa mistis (detikNews, 2020).
Dampak dan Tantangan bagi Dunia Medis
Fenomena Lazarus Effect memunculkan tantangan serius dalam penentuan waktu kematian. Kesalahan deklarasi kematian dapat berdampak pada keputusan medis lanjutan, termasuk pemulasaraan jenazah dan potensi donasi organ.
Karena itu, banyak pakar menyarankan adanya jeda observasi minimal 5–10 menit setelah CPR dihentikan, disertai pemantauan alat medis sebelum pasien benar‑benar dinyatakan meninggal secara klinis.
Lazarus Effect membuktikan bahwa dunia medis masih menyimpan fenomena langka yang belum sepenuhnya dipahami. Meski jarang terjadi, kasus‑kasus yang terdokumentasi menunjukkan pentingnya kehati‑hatian dalam menetapkan kematian pasien.
Untuk informasi kesehatan, sains, dan fenomena medis lainnya yang dikemas secara mendalam dan terpercaya, terus ikuti berita terbaru di Garap Media.
Referensi
