Fenomena Ghosting: Kenapa Bisa Terjadi di Hubungan Modern?

Last Updated: 29 October 2025, 06:19

Bagikan:

Fenomena Ghosting - Photo by Terrillo Walls on Unsplash
Photo by Terrillo Walls on Unsplash
Table of Contents

Fenomena ghosting – Fenomena ghosting kini menjadi bagian dari kehidupan digital modern. Rasa ini menggambarkan tindakan seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, memutus seluruh komunikasi tanpa penjelasan apa pun ( Thomas & Dubar, 2023 ). Banyak orang mengalaminya, baik dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun interaksi kerja. Pola ini meninggalkan kebingungan dan luka emosional bagi pihak yang ditinggalkan.

Seiring berkembangnya teknologi dan budaya komunikasi instan, ghosting nampaknya semakin mudah dilakukan. Artikel ini akan membahas mengapa ghosting menjadi pola komunikasi zaman sekarang, dampaknya terhadap psikologis individu, dan bagaimana cara menyikapinya agar komunikasi tetap sehat di era digital.

Apa Itu Ghosting?

Secara sederhana, ghosting adalah keputusan sepihak untuk mengakhiri komunikasi tanpa memberikan penjelasan atau peringatan ( Forrai, 2023 ). Awalnya istilah ini populer di aplikasi kencan daring, namun kini meluas ke hubungan sosial lain seperti pertemanan atau profesional ( MDPI, 2023 ).

Menurut penelitian di PubMed (2024), ghosting merupakan bentuk penolakan sosial tanpa adanya penjelasan atau umpan balik. Di era digital, tindakan ini menjadi lebih mudah dilakukan karena seseorang bisa menghilang hanya dengan berhenti membalas pesan atau memblokir akun.

Mengapa Ghosting Jadi Pola Komunikasi Zaman Sekarang?

Kemudahan Teknologi dan Akses Digital

Komunikasi digital yang cepat dan instan telah mengubah cara manusia mengakhiri dan mengakhiri hubungan. Kemudahan teknologi memungkinkan seseorang untuk menghilangkan jejak tanpa hanya dengan beberapa tindakan sederhana menghapus pesan, memblokir nomor, atau menonaktifkan akun media sosial.

Komunikasi digital yang cepat dan instan mempermudah seseorang untuk menghilang tanpa jejak. Dengan satu klik, seluruh bisa terputus tanpa perlu menghadapi konfrontasi emosional ( Park & ​​Klein, 2025 ). Fenomena ini menggambarkan pergeseran besar dalam etika komunikasi manusia dari interaksi yang mengutamakan keterlibatan emosional, menuju pola hubungan yang serba cepat, mudah diputuskan, dan minimal tanggung jawab emosional.

Menghindari Konflik dan Konfrontasi Langsung dari Fenomena Ghosting

Banyak individu yang menggunakan ghosting sebagai cara menghindari percakapan yang sulit atau rasa tidak nyaman. Penelitian di MDPI Journal (2023) menjelaskan bahwa tindakan ini sering muncul karena keengganan ketegangan dalam menghadapi interpersonal yang bisa menimbulkan rasa bersalah. Orang yang melakukan ghosting biasanya merasa lebih mudah “menghilang” daripada menjelaskan alasan mereka menghentikan komunikasi.

Namun, pola ini justru menciptakan dampak psikologis bagi kedua pihak baik bagi pelaku yang menumpuk rasa bersalah, maupun korban yang merasa ditolak tanpa penjelasan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi dan budaya komunikasi cepat turut membentuk cara individu menyikapi hubungan dan emosi, di mana menghindari kerap dianggap lebih aman daripada berbicara secara jujur ​​dan terbuka.

Budaya Relasi yang Serba Cepat

Di dunia modern, hubungan sering kali berlangsung cepat, dinamis, dan cenderung meremehkan. Media sosial serta aplikasi pesan instan memudahkan seseorang untuk membangun kedekatan dalam waktu singkat, namun juga membuat hubungan menjadi mudah terputus kapan saja. Ekspektasi terhadap komunikasi yang serba cepat dan instan sering kali menimbulkan tekanan untuk selalu bereaksi segera, menimbulkan kelelahan emosional yang tak disadari.

Ketika percakapan mulai terasa berat, membosankan, atau menuntut kejelasan, sebagian orang memilih menghilang begitu saja daripada harus memberikan penjelasan panjang lebar. Ekspektasi terhadap komunikasi instan membuat seseorang mudah jenuh dan memilih menghilang daripada menjelaskan panjang lebar ( Forrai, 2023 ). 

Tekanan Sosial dan Kelelahan Komunikasi

Fenomena kejenuhan komunikasi juga berperan besar dalam meningkatnya praktik ghosting di era digital. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa lelah akibat intensitas komunikasi yang berlebihan, baik melalui media sosial, pesan instan, maupun platform profesional. Akibatnya, muncul rasa jenuh, stres, dan keinginan untuk menarik diri dari interaksi digital.

Fenomena kejenuhan komunikasi juga berperan besar. Ketika seseorang merasa lelah karena terus-menerus terhubung secara digital, mereka cenderung memilih diam atau menghilang untuk menenangkan diri ( PubMed, 2024 ). Fenomena ini menampilkan paradoks kehidupan digital modern: semakin banyak cara untuk terhubung, semakin tinggi pula risiko keterasingan emosional dan kelelahan sosial.

Dampak Fenomena Ghosting terhadap Psikologis dan Sosial

Orang yang di- ghosting sering mengalami perasaan tidak berharga, bingung, dan menilai dirinya sendiri ( Tandem Psychology, 2024 ). Ketidakjelasan situasi membuat mereka sulit menutup bab dalam hubungan yang gagal.

Sebaliknya, pelaku ghosting juga tidak selalu tenang. Riset Greater Good Magazine menemukan bahwa meninggalkan seseorang tanpa penjelasan bisa menimbulkan rasa bersalah dan stres sosial bagi pelakunya sendiri ( Forrai, 2023 ).

Dalam konteks sosial yang lebih luas, budaya ghosting menurunkan kualitas komunikasi dan kepercayaan antarindividu. Di dunia kerja, hal ini dapat merusak reputasi profesional karena dianggap kurang empati dan tidak transparan ( Aquent, 2023 ).

Baca Juga: Fenomena Penghindaran Viral di Media Sosial

Cara Menghadapi Fenomena Ghosting di Era Digital

Berani bicara jujur ​​sebelum menghilang jauh lebih baik daripada membiarkan seseorang bertanya-tanya. Kejujuran kecil bisa mencegah luka emosional besar. Jika kamu menjadi korban ghosting , jangan menyalahkan diri sendiri karena tindakan tersebut lebih mencerminkan pilihan si pelaku daripada nilai dirimu ( Tandem Psychology, 2024 ).

Untuk menjaga hubungan tetap sehat, biasakan budaya komunikasi terbuka dan penuh empati. Norma ini penting agar kita tidak terbiasa dengan pola diam dan mengabaikan. 

Penutup

Ghosting bukan sekadar tren, melainkan cerminan perubahan perilaku komunikasi modern. Meski tampak sepele, tindakan ini dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam bagi kedua pihak. Oleh karena itu, penting untuk membangun komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh empati. Mari biasakan kejelasan dalam hubungan agar tidak ada yang dibiarkan menebak-nebak di tengah digital yang sunyi.

Untuk bacaan menarik lainnya tentang fenomena sosial dan tren digital, kunjungi Garap Media .

Referensi

 

 

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /