Fenomena Flexing Generasi Muda Dari Lifestyle Kekinian hingga Gengsi yang Berujung Krisis Finansial!

Last Updated: 29 September 2025, 20:51

Bagikan:

Fenomena Flexing
Table of Contents

Fenomena flexing – pada generasi muda saat ini semakin mendominasi gaya hidup. Akibatnya, muncul kecenderungan perilaku hedonis dan keinginan untuk selalu tampil mewah di lingkungan sekitar. Kebiasaan ini dapat berujung pada berbagai dampak negatif, mulai dari masalah keuangan pribadi, tekanan sosial dan psikologis, terabaikannya kebutuhan penting, meningkatnya kesenjangan sosial, hingga ketergantungan pada pengakuan atau validasi dari orang lain.

Di tengah gempuran iklan dan tren digital, generasi muda Indonesia kian terjebak dalam budaya flexing, oleh karena itu pengendalian diri menjadi kunci untuk terhindar dari perilaku konsumtif berlebihan. 

Apa penyebab tren pamer gaya hidup flexing kian digemari?

Di era digital yang berkembang pesat, flexing telah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z dan milenial. Memamerkan barang mewah atau pengalaman liburan eksklusif bukan sekadar pamer, tetapi juga cara menunjukkan status sosial. Faktor psikologis seperti Fear of Missing Out (FoMO) turut berperan, karena banyak anak muda takut ketinggalan tren jika tidak ikut nongkrong di kafe hits, membeli barang branded, atau traveling ke destinasi populer.

Tekanan dari lingkungan pertemanan juga memperkuat gengsi: jika teman sebaya tampil mewah, muncul dorongan untuk menyesuaikan diri agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Gengsi membuat flexing tak terelakkan, generasi muda berlomba-lomba pamer gaya hidup demi status sosial.

Sejak kapan flexing mulai meroket dan jadi bagian gaya hidup generasi muda?

Generasi muda semakin giat menunjukkan status sosialnya. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena flexing pun semakin meluas seiring booming-nya media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Platform-platform ini memungkinkan mereka membagikan momen dan potret gaya hidup mewah, sehingga mendorong perilaku pamer gaya hidup sebagai cara menonjolkan status sosial.

Mengapa fenomena flexing Dominasi Gaya Hidup?

Perilaku flexing dapat dipahami sebagai strategi individu untuk memperoleh pengakuan dan validasi eksternal. Namun, perilaku ini berisiko menjauhkan seseorang dari keotentikan diri serta menjebaknya dalam norma sosial yang dibentuk oleh media (Anggraeni,2025). 

Era digital telah menghadirkan berbagai fenomena baru dalam kehidupan masyarakat, dan salah satunya adalah tren flexing di media sosial. Aktivitas ini tampak melalui upaya pengguna platform digital menampilkan kemewahan, kekayaan, serta gaya hidup glamor demi meraih perhatian dan popularitas. Menurut (Rojiati dan Afifah, 2024) Beberapa faktor yang mendominasi munculnya perilaku flexing dalam gaya hidup antara lain:

  1. Sikap dan Motivasi – dorongan untuk mendapatkan pengakuan atau validasi sosial.
  2. Pengalaman Pribadi – pengalaman hidup yang membentuk pola perilaku dalam menampilkan citra diri.
  3. Kepribadian – sifat kompetitif, narsistik, atau ekstrovert cenderung lebih rentan  terhadap perilaku flexing.
  4. Kelas Sosial – latar belakang ekonomi dan status sosial memengaruhi gaya hidup yang ditampilkan.
  5. Faktor Sosial-Budaya – tekanan lingkungan, tren populer, hingga norma masyarakat modern yang menekankan pencitraan.

Baca juga : Rekomendasi Outfit Kuliah Wanita agar Tetap Stlysh dan Nyaman

Kesimpulan

Fenomena flexing yang kian marak di media sosial merepresentasikan pergeseran mendalam dalam pola hidup masyarakat digital. Apa yang pada awalnya tampak sebagai sekadar tren pamer gaya kini berkembang menjadi bagian dari konstruksi identitas sosial modern.

Dorongan untuk memperoleh validasi eksternal, ditambah dengan pengaruh algoritma media, kondisi ekonomi, faktor psikologis, hingga budaya konsumerisme, menjadikan flexing tidak lagi hanya perilaku individu, melainkan gejala sosial yang terinternalisasi dalam keseharian.

Meski demikian, dominasi flexing membawa konsekuensi serius. Ia dapat mengikis keotentikan diri, melahirkan tekanan sosial yang tak jarang berujung pada kecemasan, serta menciptakan standar kesuksesan artifisial yang jauh dari realitas.

Dengan kata lain, flexing merefleksikan paradoks kehidupan digital: di satu sisi menawarkan ruang ekspresi dan popularitas, tetapi di sisi lain menjerumuskan individu pada jebakan pencitraan semu.

Oleh karena itu, kesadaran kritis dalam bermedia sosial menjadi sangat penting. Pengguna perlu menumbuhkan literasi digital, menimbang ulang makna autentisitas, serta menyadari bahwa nilai diri tidak semata diukur dari kemewahan yang ditampilkan, melainkan dari kualitas hidup yang sesungguhnya.

Referensi:

Tags:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /