Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara menyebabkan dua warga negara asing (WNA) asal Singapura dan satu warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia saat aktivitas vulkanik terjadi di kawasan pendakian. Tim SAR gabungan bersama BNPB langsung melakukan pencarian dan evakuasi terhadap pendaki lain yang berada di sekitar lokasi erupsi. Aktivitas vulkanik tersebut juga menyebabkan beberapa pendaki mengalami luka akibat paparan abu vulkanik dan kondisi medan yang berbahaya (detikNews, 2026).
Erupsi Gunung Dukono Sebabkan Korban Jiwa Pendaki
Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara kembali mengalami erupsi dengan semburan abu vulkanik tinggi yang terlihat membumbung ke udara. Aktivitas vulkanik tersebut berdampak langsung terhadap kelompok pendaki yang berada di sekitar jalur pendakian dan kawasan kawah saat erupsi berlangsung. BNPB menyebutkan bahwa beberapa pendaki asal Singapura berhasil ditemukan selamat, sementara korban lain ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah proses pencarian dilakukan oleh tim gabungan (Metro TV News, 2026).
Tim SAR gabungan melakukan pencarian terhadap sejumlah pendaki yang sempat dinyatakan hilang setelah erupsi Gunung Dukono terjadi. Proses pencarian berlangsung dalam kondisi medan yang sulit karena abu vulkanik masih menyelimuti area pendakian. Laporan terbaru menyebutkan bahwa dua pendaki asal Singapura dan satu warga Papua meninggal dunia akibat dampak erupsi dan kondisi ekstrem di sekitar gunung (RRI, 2026).
Petugas gabungan terus memfokuskan pencarian di sekitar area pendakian Gunung Dukono sambil memantau aktivitas vulkanik yang masih berlangsung. Kondisi cuaca berkabut dan sebaran abu vulkanik membuat proses evakuasi berjalan dengan tingkat risiko tinggi bagi tim penyelamat maupun pendaki lain yang masih berada di kawasan gunung (detikNews, 2026).
Faktor Risiko Pendakian Gunung Dukono Saat Erupsi
Aktivitas pendakian di Gunung Dukono memiliki tingkat risiko tinggi karena gunung tersebut termasuk salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Gunung Dukono secara rutin mengeluarkan abu vulkanik dengan intensitas yang berubah mengikuti aktivitas magma.
Beberapa faktor risiko yang memperbesar bahaya pendakian di Gunung Dukono meliputi:
- Abu vulkanik dapat mengganggu sistem pernapasan pendaki.
- Gas vulkanik dapat memicu keracunan di area kawah.
- Jalur pendakian memiliki medan terjal dan licin.
- Letusan dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa jeda panjang.
- Arah sebaran abu mengikuti kondisi angin yang berubah cepat.
PVMBG sebelumnya telah mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius tertentu karena potensi erupsi masih tinggi (Antara, 2025).
Aktivitas Vulkanik Gunung Dukono Terus Berlangsung
Gunung Dukono tercatat beberapa kali mengalami erupsi sepanjang beberapa tahun terakhir. Aktivitas vulkanik gunung tersebut menunjukkan pola letusan abu yang terjadi secara berkala dengan ketinggian kolom abu yang bervariasi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Dukono menyebutkan bahwa erupsi sebelumnya sempat menghasilkan kolom abu vulkanik hingga lebih dari 4.000 meter di atas puncak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas magma di dalam gunung masih sangat aktif dan membutuhkan pengawasan intensif (detikNews, 2024).
Pada erupsi terbaru, kolom abu vulkanik kembali terlihat membumbung tinggi dengan warna kelabu pekat. Abu vulkanik bergerak mengikuti arah angin dan berpotensi mengganggu aktivitas warga sekitar serta jalur penerbangan di wilayah Maluku Utara.
Dampak Abu Vulkanik Gunung Dukono bagi Warga
Abu vulkanik dari Gunung Dukono memberikan dampak langsung terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat sekitar. Warga di beberapa wilayah sekitar Halmahera Utara dilaporkan mulai menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu.
Beberapa dampak abu vulkanik Gunung Dukono meliputi:
- Gangguan pernapasan pada anak-anak dan lansia.
- Penurunan jarak pandang di sekitar kawasan gunung.
- Gangguan aktivitas pertanian dan perkebunan.
- Risiko pencemaran sumber air terbuka.
- Potensi gangguan penerbangan akibat abu vulkanik.
PVMBG terus meminta masyarakat agar mematuhi rekomendasi keselamatan selama aktivitas vulkanik berlangsung. Petugas juga meminta wisatawan untuk tidak melakukan pendakian hingga kondisi dinyatakan aman.
Tim SAR dan BNPB Fokus Evakuasi Pendaki Gunung Dukono
Tim SAR gabungan bersama BNPB terus melakukan proses pencarian dan evakuasi terhadap pendaki yang terdampak erupsi Gunung Dukono. Proses evakuasi melibatkan personel gabungan dari Basarnas, BPBD, aparat keamanan, relawan, serta warga setempat.
BNPB menyatakan bahwa proses pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan petugas karena aktivitas erupsi masih berlangsung. Tim evakuasi harus menghadapi medan yang sulit, paparan abu vulkanik, serta perubahan cuaca ekstrem di kawasan gunung.
Petugas SAR juga menggunakan pos pendakian sebagai titik koordinasi pencarian korban. Beberapa korban berhasil ditemukan dalam kondisi selamat, sementara sebagian lainnya membutuhkan penanganan medis akibat sesak napas dan luka fisik.
Langkah Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Dukono
Pemerintah daerah bersama BNPB dan PVMBG melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mengurangi dampak erupsi Gunung Dukono terhadap masyarakat dan wisatawan.
Langkah mitigasi tersebut meliputi:
- Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Dukono.
- Penyebaran informasi aktivitas vulkanik secara berkala.
- Distribusi masker kepada masyarakat sekitar.
- Peningkatan pengawasan di area radius bahaya.
- Koordinasi lintas instansi untuk proses evakuasi.
BNPB meminta masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait jumlah korban maupun kondisi gunung. Pemerintah juga mengimbau wisatawan untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan dari petugas vulkanologi.
Garap Media akan terus menghadirkan informasi terbaru mengenai aktivitas vulkanik, mitigasi bencana, dan perkembangan proses evakuasi di Gunung Dukono. Pembaca dapat mengikuti artikel lain di Garap Media untuk memperoleh informasi kebencanaan dan peristiwa nasional terkini.
Garap Media juga menyediakan berbagai artikel terkait fenomena alam, keselamatan pendakian, dan perkembangan gunung api aktif di Indonesia. Pembaca dapat menjelajahi artikel lainnya untuk memahami langkah mitigasi serta dampak erupsi terhadap masyarakat.
Referensi
