Garap Media – Dulu, status unicorn dengan valuasi lebih dari US$1 miliar menjadi simbol kesuksesan startup teknologi. Perusahaan berlomba memperbesar jumlah pengguna, memperluas pasar, dan mengumpulkan pendanaan demi mengejar pertumbuhan. Namun, valuasi tinggi tidak selalu mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Ketika kondisi pendanaan berubah, bisnis yang terus membakar modal tanpa jalur profitabilitas yang jelas menghadapi tekanan lebih besar. Investor kini semakin memperhatikan kualitas pendapatan, efisiensi operasional, dan potensi keuntungan jangka panjang. Perubahan ini menandai babak baru industri startup, ketika pertumbuhan saja tidak lagi cukup untuk meyakinkan pemilik modal.
1. Mengapa Status Unicorn Tak Lagi Cukup?
Valuasi miliaran dolar memang dapat meningkatkan reputasi startup dan membuka akses terhadap pendanaan yang lebih besar. Akan tetapi, valuasi merupakan penilaian terhadap nilai perusahaan, bukan bukti bahwa bisnis tersebut sudah menghasilkan laba. Startup bisa memiliki jutaan pengguna, tetapi tetap kesulitan menutup biaya pemasaran, teknologi, dan operasional. Jika pertumbuhan pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran, perusahaan berisiko terus bergantung pada suntikan modal baru. Ketika investor menahan investasi atau pasar berubah, kelemahan tersebut akan semakin terlihat. Karena itu, status unicorn tidak lagi cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis teknologi.
Laporan State of Venture 2025 dari CB Insights menunjukkan bahwa pendanaan startup global mencapai US$469 miliar sepanjang 2025, meningkat 47% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jumlah transaksi investasi justru turun 17% menjadi 29.501 transaksi. Data ini menunjukkan bahwa kenaikan nilai pendanaan tidak otomatis berarti kesempatan memperoleh modal semakin luas bagi semua startup. Sebagian besar dana terkonsentrasi pada transaksi besar dan perusahaan tertentu, terutama di sektor kecerdasan buatan. Bagi startup lainnya, persaingan mendapatkan investor tetap menantang. Situasi tersebut memperkuat pentingnya membangun bisnis yang memiliki dasar ekonomi kuat, bukan sekadar mengejar valuasi tinggi.
2. Investor Mulai Memperhitungkan Keuntungan Nyata
Investor membutuhkan alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa modal yang ditanamkan dapat menghasilkan imbal hasil. Karena itu, mereka semakin memperhatikan pendapatan berulang, margin keuntungan, efisiensi biaya, dan kemampuan perusahaan menghasilkan kas. Pertumbuhan pelanggan tetap penting, tetapi nilainya bergantung pada seberapa besar kontribusi pelanggan terhadap keberlanjutan bisnis. Startup yang memperoleh pelanggan dengan biaya pemasaran terlalu tinggi dapat mengalami kesulitan meskipun penjualannya meningkat. Sebaliknya, perusahaan dengan pertumbuhan lebih moderat bisa terlihat menarik jika mampu mempertahankan pelanggan dan mengelola biaya secara disiplin. Ukuran keberhasilan pun bergeser dari sekadar seberapa cepat perusahaan membesar menuju seberapa sehat pertumbuhannya.
Survei investor McKinsey yang diterbitkan pada Agustus 2025 memperlihatkan pentingnya fundamental bisnis dalam penilaian perusahaan. Responden semakin menaruh perhatian pada metrik profitabilitas, termasuk pengembalian modal atau return on invested capital (ROIC). EBITDA dan margin EBITDA juga menjadi indikator yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan. Meski demikian, perusahaan tidak seharusnya mengejar laba jangka pendek dengan mengorbankan inovasi atau kualitas layanan. Investor tetap perlu melihat apakah bisnis mempunyai peluang berkembang dalam jangka panjang. Artinya, startup yang menarik adalah perusahaan yang mampu menyeimbangkan efisiensi hari ini dengan potensi pertumbuhan pada masa mendatang.
3. Startup Indonesia Menghadapi Seleksi Lebih Ketat
Perubahan pendekatan investor juga terlihat dalam ekosistem startup Indonesia. Laporan Tracxn yang diberitakan The Business Times pada Januari 2026 mencatat bahwa pendanaan perusahaan teknologi Indonesia turun menjadi US$213 juta pada 2025, merosot 38% dibandingkan US$345 juta pada 2024. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa memperoleh pendanaan semakin menantang bagi banyak perusahaan. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam menilai risiko, tata kelola, dan kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan. Startup yang belum mempunyai model pendapatan jelas perlu bekerja lebih keras untuk membuktikan kelayakannya. Namun, kondisi ini tidak berarti seluruh peluang investasi telah menghilang.
Di tengah pengetatan pendanaan, founder perlu menunjukkan bahwa setiap rupiah yang digunakan memberikan hasil terukur. Perusahaan dapat memulainya dengan mengevaluasi biaya akuisisi pelanggan, memperbaiki retensi pengguna, dan mengurangi pengeluaran yang tidak mendukung prioritas bisnis. Pengelolaan arus kas juga harus menjadi perhatian agar perusahaan memahami berapa lama operasional dapat bertahan dengan dana yang tersedia. Selain itu, tata kelola yang transparan membantu investor menilai kualitas informasi keuangan dan risiko perusahaan. Pendekatan tersebut membuat proses penggalangan dana lebih bertumpu pada bukti daripada janji pertumbuhan. Dalam pasar yang selektif, disiplin bisnis dapat menjadi keunggulan kompetitif.
4. Strategi Founder agar Bisnis Tetap Menarik Investor
Founder tidak harus menghentikan ekspansi hanya demi mengejar keuntungan secepat mungkin. Hal terpenting adalah memastikan setiap keputusan pertumbuhan memiliki dasar ekonomi yang jelas. Perusahaan perlu mengetahui produk mana yang paling diminati, pelanggan mana yang memberikan nilai terbesar, dan biaya mana yang dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas. Pengembangan produk sebaiknya berangkat dari kebutuhan pasar yang sudah diuji, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Pendekatan ini membantu startup mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Dengan demikian, pertumbuhan dapat berlangsung tanpa membuat kebutuhan modal meningkat secara tidak terkendali.
Founder juga perlu membangun strategi pendanaan yang sesuai dengan tahap perkembangan perusahaan. Startup tahap awal mungkin masih membutuhkan modal untuk menguji produk dan menemukan kecocokan dengan pasar, sedangkan bisnis yang lebih matang harus menunjukkan jalur menuju keuntungan yang berkelanjutan. Investor perlu menerima proyeksi realistis, indikator kinerja yang jelas, dan penjelasan terbuka mengenai risiko bisnis.
Perusahaan juga sebaiknya tidak menggantungkan seluruh masa depannya pada satu putaran pendanaan berikutnya. Ketika pendapatan, efisiensi, dan tata kelola membaik, posisi perusahaan dalam bernegosiasi dengan investor dapat menjadi lebih kuat. Pada akhirnya, kemampuan membuktikan nilai bisnis akan lebih berarti daripada sekadar membangun citra sebagai startup paling populer.
Penutup
Era unicorn belum berakhir, tetapi standar keberhasilannya semakin kompleks. Valuasi tinggi tetap dapat mencerminkan potensi, namun investor membutuhkan bukti bahwa potensi tersebut bisa diterjemahkan menjadi bisnis yang berkelanjutan. Bagi startup Indonesia, perubahan ini menjadi pengingat untuk tidak terjebak dalam perlombaan pertumbuhan tanpa perhitungan. Pendapatan berkualitas, arus kas sehat, pelanggan loyal, dan tata kelola yang kuat perlu dibangun sejak awal.
Perusahaan yang mampu menggabungkan inovasi dengan disiplin keuangan akan memiliki fondasi lebih baik untuk menghadapi perubahan pasar. Sebab, dalam industri teknologi yang semakin kompetitif, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa besar startup bisa tumbuh, melainkan seberapa kuat bisnisnya bertahan dan menghasilkan nilai nyata.
Sumber Referensi
- CB Insights — State of Venture 2025
- McKinsey — McKinsey Survey Shows Investors Seek Fundamentals and Long-Term Vision
- The Business Times — Indonesia Tech Funding Down 38% in 2025 as Investors Turn Selective
