Empat Film Indonesia Tembus BIFF 2026, Dua Bersaing di Kompetisi Utama

Last Updated: 3 September 2026, 21:21

Bagikan:

Film Indonesia BIFF 2026
Film Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen resmi masuk kompetisi utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026 sebagai wakil perfilman Indonesia. Sumber gambar: Pal8 Pictures.
Table of Contents

Film Indonesia BIFF 2026 kembali mendapat sorotan setelah empat karya sineas Tanah Air resmi masuk dalam jajaran seleksi Busan International Film Festival (BIFF) ke-31. Dua di antaranya, Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen dan IBUKU karya Eddie Cahyono, akan bersaing dalam Competition yang menjadi kategori utama festival. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi dan αLPα tampil melalui program berbeda. Adapun BIFF 2026 dijadwalkan berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada 6–15 Oktober 2026.

Laut Bercerita Masuk Kompetisi Utama BIFF 2026

Salah satu wakil Indonesia dalam Competition BIFF 2026 adalah Laut Bercerita. Karya garapan Yosep Anggi Noen tersebut mengadaptasi novel berjudul sama karya Leila S. Chudori.

Tokoh Biru Laut menjadi pusat cerita sebagai seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang hidup pada masa akhir Orde Baru. Bersama rekan-rekannya, ia memperjuangkan demokrasi hingga kemudian mengalami penculikan dan penghilangan secara paksa. Reza Rahadian dipercaya memerankan Biru Laut, sedangkan Eva Celia, Dian Sastrowardoyo, dan sejumlah aktor lain turut bergabung dalam jajaran pemeran.

Sebelum menyapa penonton Indonesia, Laut Bercerita akan menjalani world premiere di Busan. Setelah itu, karya tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026. Kehadirannya pun membuka peluang bagi cerita tentang sejarah, demokrasi, dan penculikan aktivis Indonesia untuk menjangkau penonton internasional.

IBUKU Bawa Kisah Ibu dan Pekerja Migran ke Kompetisi

Eddie Cahyono menghadirkan IBUKU dalam Competition BIFF 2026 melalui produksi bersama Indonesia dan Jepang. Christine Hakim menjadi salah satu pemeran utama dalam karya yang mengangkat hubungan antara ibu dan anak tersebut.

Seorang ibu menjadi pusat konflik ketika dirinya berusaha bertemu kembali dengan putrinya. Sang anak mendapat hukuman mati di Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya. Namun, upaya pertemuan itu kembali membuka luka dan pengkhianatan dari masa lalu.

Lebih jauh, persoalan keluarga tersebut berkembang menjadi isu mengenai perempuan, hak asasi manusia, dan pekerja migran. Karena itu, IBUKU tidak hanya menawarkan drama keluarga, tetapi juga membawa persoalan sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat lintas negara.

Sebanyak 14 film dipilih untuk mengisi Competition 2026. Dua karya Indonesia tersebut bersanding dengan film dari sejumlah negara Asia dalam kompetisi yang menyediakan penghargaan seperti Best Film, Best Director, Special Jury Award, Best Actor, dan Artistic Contribution Award.

Empat Musim Pertiwi Perkuat Representasi Indonesia di BIFF

Indonesia memiliki perwakilan lain melalui Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini. Judul tersebut masuk ke program A Window on Asian Cinema yang memberikan ruang bagi berbagai karya sinema Asia.

Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim menjadi bagian dari jajaran pemeran. Ceritanya mengikuti Pertiwi, seorang perempuan yang pulang ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun karena membunuh pria yang mencoba memperkosanya.

Kepulangannya kemudian mempertemukan Pertiwi dengan trauma masa lalu, konflik keluarga, serta stigma sosial. Di sisi lain, karya tersebut juga akan menjalani pemutaran di Toronto International Film Festival 2026 sebelum melanjutkan perjalanan ke Busan.

αLPα Masuk Asian Short Film Competition

Perwakilan Indonesia berikutnya hadir melalui film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta. Karya berdurasi 19 menit tersebut menampilkan Elang El Gibran dan Whani Darmawan sebagai pemeran.

Tokoh Banyu diceritakan sebagai seorang vokalis punk yang ditangkap dan dikirim ke pusat rehabilitasi moral. Di tempat tersebut, ia bertemu dengan Deri, seorang ulama yang ternyata memiliki kaitan dengan masa lalunya.

Perjalanan Banyu kemudian berkembang menjadi upaya untuk melawan sistem yang menahannya. Namun, jalan keluar yang ditemukan justru membawanya kepada sosok yang paling ingin ia hindari.

Keberadaan empat karya tersebut menunjukkan beragamnya tema yang dibawa sineas Indonesia. Laut Bercerita mengangkat sejarah dan demokrasi, sedangkan IBUKU menghadirkan persoalan keluarga, perempuan, dan pekerja migran. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi membahas trauma serta stigma sosial, lalu αLPα memperluas kehadiran Indonesia melalui kompetisi film pendek.

Prestasi Pangku Menjadi Jejak Positif Indonesia di BIFF

Partisipasi empat karya Indonesia pada BIFF 2026 sekaligus melanjutkan kiprah positif sineas Tanah Air di festival tersebut. Pada edisi 2025, Pangku karya Reza Rahadian berhasil meraih empat penghargaan melalui program Vision Asia.

Empat penghargaan tersebut terdiri atas KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future Award. Selain itu, Pangku menjalani world premiere di BIFF 2025 sebelum melanjutkan perjalanan kepada penonton Indonesia.

Capaian tersebut menjadi konteks penting bagi partisipasi Indonesia tahun ini. Secara keseluruhan, BIFF 2026 menghadirkan 315 film dari 59 negara, dengan 246 film tercatat dalam seleksi resmi.

BIFF 2026 Membuka Panggung Baru bagi Film Indonesia

Pada 6–15 Oktober 2026, BIFF 2026 akan berlangsung di Busan, Korea Selatan. Festival tersebut menjadi panggung penting bagi empat karya Indonesia yang hadir melalui tiga program berbeda.

Menariknya, dua judul yang masuk Competition juga memiliki peluang untuk mengejar jalur kualifikasi Oscar. Penghargaan utama dalam kompetisi BIFF dapat membuka kesempatan tersebut bagi film yang memenuhi ketentuan kualifikasi. Produser Laut Bercerita, Gita Fara, bahkan menyebut peluang kualifikasi Oscar 2027 sebagai salah satu target dari perjalanan karya tersebut di Busan.

Dengan demikian, Laut Bercerita, IBUKU, Empat Musim Pertiwi, dan αLPα tidak sekadar membawa nama Indonesia ke festival internasional. Keempatnya juga memperlihatkan keberagaman cerita, pendekatan, serta perspektif sineas Tanah Air di panggung perfilman Asia.

Perjalanan empat karya tersebut di BIFF 2026 pun layak dinantikan. Selain menjadi kesempatan untuk memperkenalkan cerita Indonesia kepada penonton global, festival ini dapat menjadi salah satu momentum penting bagi perkembangan sinema Indonesia di tingkat internasional.

Bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan film Indonesia, festival internasional, dan kabar hiburan lainnya, simak terus artikel terbaru Garap Media. Berbagai informasi seputar karya sineas Tanah Air akan terus hadir dengan pembaruan yang relevan.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /