Dua Lipa resmi meresmikan Manifesto Library, perpustakaan hasil kolaborasi antara Service95 Book Club yang ia dirikan dan toko buku bersejarah Livraria Lello di Porto, Portugal. Perpustakaan tersebut dibuka sebagai bagian dari festival literasi BABELL – City of Books dan akan menjadi koleksi permanen di Livraria Lello dengan menghadirkan sekitar 100 buku yang pernah dilarang, disensor, atau dibatasi peredarannya di berbagai negara. (People, 2026; Medcom.id, 2026)
Manifesto Library menjadi ruang yang mengangkat pentingnya kebebasan membaca sekaligus mengajak masyarakat memahami sejarah sensor terhadap karya sastra. Melalui proyek ini, Dua Lipa berharap para pengunjung dapat mengenal beragam gagasan, memperluas sudut pandang, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui buku-buku yang pernah menghadapi pelarangan. (People, 2026)
Manifesto Library Lahir dari Kolaborasi Service95 Book Club dan Livraria Lello
Manifesto Library merupakan pengembangan fisik dari Service95 Book Club, klub buku yang didirikan Dua Lipa untuk memperkenalkan karya sastra dari berbagai penulis dunia. Proyek tersebut diwujudkan bersama Livraria Lello, salah satu toko buku paling bersejarah di Portugal yang dikenal sebagai destinasi literasi internasional. (People, 2026)
Peresmian perpustakaan berlangsung bersamaan dengan penyelenggaraan festival BABELL – City of Books di Porto. Setelah festival berakhir, Manifesto Library tetap menjadi instalasi permanen sehingga dapat dikunjungi oleh pembaca dari berbagai negara. (People, 2026; Euronews Culture, 2026)
Melalui pernyataan resmi yang dibagikan oleh Livraria Lello dan Service95, Dua Lipa menjelaskan bahwa Manifesto Library dibuat sebagai ruang yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan dunia melalui kegiatan membaca sekaligus mendorong mereka berpikir kritis. Ia juga menyebut perpustakaan ini sebagai bentuk penghormatan bagi buku-buku yang pernah dihilangkan, para penulis yang berani menyampaikan pemikirannya meski menghadapi sensor, serta para pembaca yang ingin bebas menentukan sendiri buku yang ingin mereka baca. (People, 2026; Medcom.id, 2026)
Manifesto Library Menghadirkan Buku-Buku yang Pernah Dilarang dan Disensor
Manifesto Library menghadirkan sekitar 100 judul buku yang pernah dilarang, disensor, maupun dibatasi peredarannya di berbagai negara. Sebagian besar koleksinya mengangkat tema-tema yang kerap memicu kontroversi, mulai dari ras, seksualitas, identitas, hingga kritik terhadap kekuasaan dan sistem politik. (People, 2026; Euronews Culture, 2026)
Beberapa karya dalam koleksi tersebut bahkan pernah ditarik dari rak toko buku karena dianggap bertentangan dengan kebijakan tertentu. Dalam sejumlah kasus, para penulis menghadapi ancaman serius, bahkan ada yang kehilangan nyawa akibat karya yang mereka tulis. Melalui Manifesto Library, buku-buku tersebut dihadirkan kembali sebagai pengingat akan pentingnya kebebasan berekspresi dan kebebasan membaca. (Medcom.id, 2026; Euronews Culture, 2026)
Koleksi Manifesto Library Dikurasi Berdasarkan Empat Tema Utama
Seluruh koleksi Manifesto Library dikurasi berdasarkan empat tema utama yang menjadi fondasi perpustakaan, yaitu:
- Power, yang membahas hubungan kekuasaan dan dampaknya terhadap masyarakat.
- Control, yang mengeksplorasi berbagai bentuk sensor, pembatasan, dan pengawasan.
- Voice, yang menyoroti keberanian individu dalam menyampaikan gagasan.
- Memory, yang mengingatkan pentingnya menjaga sejarah melalui karya sastra.
Pendekatan kurasi tersebut membuat setiap buku tidak hanya dipilih berdasarkan popularitasnya, tetapi juga berdasarkan relevansinya terhadap isu kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk memperoleh akses terhadap berbagai gagasan. (People, 2026; Euronews Culture, 2026)
Manifesto Library Menampilkan Karya Penulis yang Pernah Menghadapi Sensor
Manifesto Library menghadirkan sejumlah karya sastra yang dikenal luas karena pernah mengalami pelarangan atau pembatasan di berbagai negara. Beberapa judul yang menjadi bagian dari koleksi tersebut antara lain The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta karya-karya dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk. Kehadiran buku-buku tersebut memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat menjadi ruang untuk membahas isu sosial, politik, identitas, hingga kebebasan berekspresi yang kerap memicu kontroversi. (People, 2026; Medcom.id, 2026)
Pemilihan koleksi tersebut juga menunjukkan bahwa Manifesto Library tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi mengenai sejarah pelarangan buku di berbagai belahan dunia. Melalui karya-karya tersebut, pengunjung diajak memahami alasan di balik munculnya sensor sekaligus melihat bagaimana sastra mampu menjadi medium untuk menyampaikan kritik dan perspektif yang berbeda. (Euronews Culture, 2026)
Dua Lipa Ingin Mendorong Kebebasan Membaca Lewat Manifesto Library
Melalui pernyataan resminya, Dua Lipa menegaskan bahwa Manifesto Library dibangun untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia melalui kegiatan membaca. Menurutnya, perpustakaan tersebut menjadi ruang yang mendorong setiap orang untuk berpikir kritis sekaligus memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menemukan berbagai sudut pandang dari karya-karya yang sebelumnya pernah dibatasi aksesnya. (People, 2026)
Dua Lipa juga menyampaikan bahwa perpustakaan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para penulis yang tetap menyuarakan gagasannya meski menghadapi tekanan, sensor, bahkan ancaman. Selain itu, Manifesto Library turut memberikan penghormatan kepada para pembaca yang percaya bahwa setiap orang berhak menentukan sendiri buku yang ingin mereka baca tanpa adanya pembatasan. (People, 2026; Medcom.id, 2026)
Manifesto Library Perkuat Peran Livraria Lello sebagai Destinasi Literasi Dunia
Kehadiran Manifesto Library semakin memperkuat posisi Livraria Lello sebagai salah satu pusat literasi bersejarah di Portugal. Koleksi tersebut kini menjadi instalasi permanen yang dapat diakses pengunjung. Selain menghadirkan pengalaman membaca, perpustakaan ini juga membuka ruang diskusi mengenai kebebasan berekspresi, sensor, dan pentingnya mempertahankan akses terhadap karya sastra dari berbagai latar belakang. (Euronews Culture, 2026)
Kolaborasi antara Service95 Book Club dan Livraria Lello menunjukkan bahwa dunia literasi dapat berkembang melalui kerja sama lintas bidang. Kemitraan tersebut mempertemukan industri buku dengan figur publik untuk memperluas jangkauan kampanye membaca. Inisiatif ini juga diharapkan menginspirasi lebih banyak orang menjadikan membaca sebagai cara memahami berbagai isu yang berkembang di masyarakat global. (People, 2026)
Manifesto Library menjadi lebih dari sekadar perpustakaan karena mengangkat pentingnya kebebasan membaca dan kebebasan berekspresi. Melalui sekitar 100 buku yang pernah dilarang atau disensor, proyek ini menegaskan bahwa karya sastra masih memiliki peran besar dalam membuka ruang dialog. Koleksi tersebut juga mendorong pembaca untuk mempertanyakan kekuasaan sekaligus memperluas cara pandang terhadap berbagai persoalan dunia. (People, 2026; Euronews Culture, 2026)
Ikuti terus informasi terbaru seputar budaya, literasi, musik, dan perkembangan dunia hiburan hanya di Garap Media. Temukan juga berbagai artikel menarik lainnya untuk menambah wawasan mengenai tokoh, karya, dan peristiwa yang sedang menjadi perhatian dunia.
Referensi
