Do Da Idi Aceh: Warisan Lisan Penuh Kasih Sayang dan Pendidikan

Last Updated: 5 November 2026, 11:57

Bagikan:

Foto: Generate AI
Foto: Generate AI
Table of Contents

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, ketika anak-anak semakin akrab dengan layar gawai dan berbagai hiburan digital, ada satu tradisi masyarakat Aceh yang menyimpan kenangan sekaligus nilai pendidikan yang mendalam: Do Da Idi.

Bagi sebagian masyarakat Aceh, Do Da Idi bukan sekadar nyanyian pengantar tidur. Ia merupakan ungkapan kasih sayang seorang ibu, lantunan doa, sekaligus media untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada anak sejak usia dini.

Tradisi ini biasanya dilantunkan ketika seorang ibu menidurkan bayinya dalam ayunan. Dengan suara lembut dan irama yang berulang, sang ibu menyanyikan syair-syair berbahasa Aceh sambil mengayunkan anaknya perlahan hingga tertidur.

Namun, di balik irama yang menenangkan tersebut, tersimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantarkan anak menuju alam tidur.

Bukan Sekadar Nyanyian Pengantar Tidur

Do Da Idi dikenal sebagai salah satu tradisi sastra lisan masyarakat Aceh yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini juga dikenal dengan istilah peuayon aneuk atau menidurkan anak dalam ayunan.

Dalam penggunaannya, Do Da Idi menjadi ruang komunikasi emosional antara ibu dan anak. Melalui lantunan syair, seorang ibu menyampaikan doa, harapan, nasihat, serta nilai-nilai kehidupan yang diinginkan tumbuh dalam diri anaknya.

Syair-syair yang dilantunkan memiliki beragam tema. Ada yang berisi pujian kepada Allah dan Rasulullah, nasihat tentang kehidupan, penghormatan kepada orang tua dan pendidik, kepedulian terhadap sesama, hingga semangat mencintai agama dan tanah kelahiran.

Dengan demikian, Do Da Idi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pendidikan informal dalam keluarga.

Kasih Sayang Ibu yang Menjadi Warisan Nilai

Salah satu kekuatan Do Da Idi terletak pada pesan kasih sayang yang terkandung di dalamnya.

Seorang ibu tidak hanya mengayunkan anak agar terlelap. Ia juga menyampaikan harapan melalui kata-kata yang dilantunkan. Harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik, menghormati orang tua, menghargai pendidik, dan berguna bagi masyarakat.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada jurnal KEMANUSIAAN: The Asian Journal of Humanities tahun 2023, Yusri Yusuf, Yunisrina Qismullah Yusuf, dan Jarjani Usman menemukan lima bentuk nilai kasih sayang dalam syair Ratéb Dôda Idi, yaitu kasih sayang kepada orang tua, Pendidik, masyarakat, alam, dan tanah air.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa syair sederhana yang dilantunkan seorang ibu ternyata memiliki cakupan pesan moral yang luas.

Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan melalui ceramah panjang, melainkan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan anak, irama yang lembut, dan suasana penuh kehangatan.

Dari Ayunan, Anak Dikenalkan pada Nilai Keislaman

Sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Aceh yang memiliki tradisi keislaman kuat, Do Da Idi juga memuat pesan-pesan religius.

Dalam sejumlah syair, lantunan pujian kepada Allah dan Rasulullah menjadi bagian penting. Anak diperkenalkan dengan kalimat-kalimat keagamaan melalui bahasa dan irama yang sederhana.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama dalam keluarga dapat dimulai melalui cara-cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Ghaitsa: Islamic Education Journal juga mengkaji kontribusi Do Da Idi terhadap pendidikan Islam kontemporer di Aceh. Tradisi ini dinilai mengandung nilai keimanan, ibadah, akhlak, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama.

Artinya, Do Da Idi merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang dapat menjadi bagian dari upaya pendidikan karakter anak sejak usia dini.

Ada Jejak Sejarah dan Semangat Perjuangan

Do Da Idi juga memiliki sisi historis yang menarik untuk ditelusuri.

Sejumlah kajian mengenai sejarah Aceh menghubungkan sebagian syair Do Da Idi dengan semangat perjuangan masyarakat Aceh pada masa kolonial Belanda. Dalam konteks tersebut, ayunan bukan hanya tempat seorang anak ditidurkan, tetapi juga ruang bagi perempuan Aceh untuk mewariskan harapan dan semangat perjuangan kepada generasi berikutnya.

Salah satu syair yang dikenal berbunyi:

Allah hai do doda idang,
Seulayang blang ka putoh taloe,
Beurijang rayek hai muda seudang,
Tajak bantu prang bila nanggroe.

Syair tersebut menggambarkan harapan agar anak tumbuh dewasa dan memiliki keberanian untuk membela tanah kelahirannya.

Nilai perjuangan dalam syair tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lisan masyarakat Aceh tidak terlepas dari pengalaman sejarah, identitas, dan semangat mempertahankan tanah air.

Dengan demikian, Do Da Idi juga menjadi salah satu cara masyarakat mewariskan ingatan sejarah melalui tradisi keluarga.

Ketika Tradisi Mulai Terdesak Perubahan Zaman

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan keluarga, keberadaan Do Da Idi menghadapi tantangan tersendiri.

Penggunaan gawai, musik digital, dan berbagai hiburan modern telah mengubah kebiasaan sebagian keluarga dalam mendampingi anak. Tidak semua orang tua muda mengenal atau menguasai syair-syair Do Da Idi sebagaimana generasi sebelumnya.

Publikasi budaya dalam Buletin Haba yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh juga pernah menyoroti berkurangnya penguasaan syair Do Da Idi di kalangan ibu muda serta pengaruh perkembangan teknologi terhadap keberlangsungan tradisi tersebut.

Kondisi ini patut menjadi perhatian. Sebab, ketika sebuah tradisi lisan tidak lagi dituturkan, bukan hanya syair yang berpotensi hilang, tetapi juga pengetahuan, bahasa, pengalaman, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Pelestarian Do Da Idi tidak harus dilakukan dengan menolak perkembangan teknologi. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan syair, merekam lantunan para orang tua, membuat arsip digital, serta memperkenalkannya kepada generasi muda.

Keluarga, sekolah, komunitas budaya, dan pemerintah daerah dapat mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini.

Baca Juga: Samudra Pasai: Cahaya Islam yang Tak Pernah Padam

Menjaga Do Da Idi, Menjaga Identitas Budaya Aceh

Do Da Idi mengajarkan bahwa pendidikan anak tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas, buku pelajaran, atau metode pembelajaran formal.

Ada pendidikan yang tumbuh dari rumah, dari suara seorang ibu, dari bahasa daerah, dan dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Di dalam Do Da Idi terdapat kasih sayang, doa, pendidikan agama, penghormatan kepada sesama, kepedulian terhadap alam, serta kecintaan kepada tanah air.

Warisan ini juga telah tercatat dalam pendataan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Aceh dengan status kondisi yang perlu mendapat perhatian karena keberlangsungannya mulai berkurang.

Karena itu, menjaga Do Da Idi bukan sekadar mempertahankan sebuah lagu tradisional. Lebih dari itu, menjaga Do Da Idi berarti merawat bahasa, identitas, ingatan sejarah, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Aceh.

Di tengah dunia yang semakin modern, mungkin anak-anak masih dapat tertidur dengan musik dari berbagai perangkat digital. Namun, ada sesuatu yang tidak tergantikan dari lantunan seorang ibu: doa dan kasih sayang yang diwariskan melalui bahasa serta budaya leluhurnya.

Do Da Idi bukan hanya tentang bagaimana seorang anak ditidurkan, melainkan tentang nilai-nilai apa yang ingin diwariskan ketika ia tumbuh dewasa.

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /