Dispepsia merupakan gangguan pencernaan bagian atas yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Kondisi ini kerap disebut sebagai maag, padahal secara medis dispepsia mencakup kumpulan gejala seperti nyeri ulu hati, perut terasa penuh, kembung, mual, hingga cepat kenyang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan bahwa dispepsia termasuk keluhan pencernaan yang sering ditemui di layanan kesehatan primer maupun rumah sakit (Ikatan Dokter Indonesia, 2025).
Meski terlihat sepele, dispepsia tidak boleh diabaikan. Jika terjadi berulang dan tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup serta mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai dispepsia gejala dan pengobatan menjadi hal penting bagi masyarakat.
Apa Itu Dispepsia Gejala dan Pengobatan?
Pengertian Dispepsia
Menurut Kementerian Kesehatan melalui RS Radjiman Wediodiningrat Malang, dispepsia adalah sekumpulan gejala berupa rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian atas yang dapat bersifat akut maupun kronis (Kemenkes RS Radjiman Wediodiningrat, 2025). Dispepsia bukan merupakan satu penyakit tunggal, melainkan sindrom yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Dispepsia dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia fungsional yang tidak ditemukan kelainan struktural pada pemeriksaan, serta dispepsia organik yang berkaitan dengan penyakit tertentu seperti gastritis atau tukak lambung.
Gejala Dispepsia yang Sering Dialami
Gejala Umum
Beberapa gejala dispepsia yang paling sering dirasakan oleh penderita antara lain:
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati
- Perut terasa penuh dan kembung
- Cepat kenyang meskipun makan sedikit
- Mual, kadang disertai muntah
- Sering bersendawa dan nafsu makan menurun
Puskesmas Denpasar Barat II menjelaskan bahwa gejala tersebut kerap dipicu oleh pola makan yang tidak teratur serta kebiasaan mengonsumsi makanan pedas dan berlemak (Puskesmas Denpasar Barat II, 2025).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Jika dispepsia disertai dengan penurunan berat badan drastis, muntah darah, tinja berwarna hitam, atau nyeri hebat yang tidak kunjung membaik, penderita disarankan segera memeriksakan diri ke dokter karena bisa menjadi tanda penyakit serius.
Penyebab Dispepsia
Faktor Gaya Hidup
Ikatan Dokter Indonesia menyebutkan bahwa faktor gaya hidup menjadi penyebab utama dispepsia. Kebiasaan telat makan, konsumsi makanan pedas, asam, dan berlemak, stres berlebihan, merokok, serta konsumsi kafein dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini (Ikatan Dokter Indonesia, 2025).
Faktor Medis
Selain gaya hidup, dispepsia juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti:
- Infeksi bakteri Helicobacter pylori
- Peradangan lambung (gastritis)
- Penyakit refluks asam lambung (GERD)
- Efek samping penggunaan obat pereda nyeri tertentu
KlikDokter menyebutkan bahwa penentuan penyebab dispepsia sangat penting agar pengobatan yang diberikan tepat sasaran (KlikDokter, 2025).
Cara Diagnosis dan Pengobatan Dispepsia
Diagnosis Medis
Menurut MSD Manuals, diagnosis dispepsia dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan lanjutan bila diperlukan, seperti endoskopi, terutama jika ditemukan gejala alarm (MSD Manuals, 2025).
Pengobatan Dispepsia
Pengobatan dispepsia disesuaikan dengan penyebabnya, antara lain:
- Perubahan Pola Hidup
Mengatur jadwal makan, menghindari makanan pemicu, mengelola stres, dan menghentikan kebiasaan merokok. - Terapi Obat
Pemberian antasida, obat penekan asam lambung, atau antibiotik jika ditemukan infeksi Helicobacter pylori, sesuai anjuran dokter.
Dispepsia gejala dan pengobatan perlu dipahami secara menyeluruh agar masyarakat tidak lagi menganggap kondisi ini sebagai maag biasa. Dengan mengenali gejala sejak dini serta menerapkan pola hidup sehat, risiko dispepsia dapat dikurangi secara signifikan.
Untuk informasi kesehatan terpercaya lainnya, pembaca dapat terus mengikuti artikel dan berita terbaru di Garap Media yang membahas isu kesehatan, gaya hidup, dan edukasi medis berbasis sumber tepercaya.
Referensi
