Diskusi Sastra di re//trace Kuningan Lewat Buku “Bercermin pada yang Sudah“

Last Updated: 26 December 2025, 14:15

Bagikan:

Diskusi Sastra di re//trace Kuningan
Diskusi Buku “Bercermin pada yang Sudah“ di re//trace Kuningan membahas esai budaya dan penguatan ekosistem sastra
Table of Contents

Diskusi Sastra di re//trace Kuningan  — Siapa sangka diskusi buku bisa terasa seperti ruang bercermin bersama? Itulah suasana yang hadir dalam acara re//trace — Seri Diskusi & Pertunjukan , yang membuka sesi perdananya lewat Ngobrol Buku “Bercermin pada yang Sudah: Kumpulan Esai Budaya dan Seni” , Sabtu, 20 Desember 2025, di Balai Edukasi & Ekosistem Kuningan, Gedung Graha Wangi .

Jadi, ruang diskusi tidak hanya diisi kursi dan meja. Ia memenuhi percakapan, ingatan, dan pertanyaan-pertanyaan yang pelan-pelan menemukan jawabannya. Penulis buku, Berto Tukan , hadir bersama Aris Risma Sunarmas , dengan Andriyana sebagai moderator, membuka perbincangan tentang sastra, seni, dan bagaimana semuanya tumbuh dalam sebuah ekosistem.

Buku Bercermin pada yang Sudah lahir sendiri dari perjalanan panjang. Esai-esai di dalamnya mencatat berbagai peristiwa budaya dan seni yang diamati Berto sepanjang 2008–2024 berisi hal-hal yang singgah, meninggalkan jejak, lalu disimpan dalam memori. Catatan tersebut dibagi ke dalam dua bagian: yang pertama berkutat pada sastra dan ekosistemnya, sementara bagian kedua bergerak lebih cair, menyentuh seni rupa, film, musik, tari, hingga refleksi kebudayaan secara umum.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menulis

Dalam diskusi sastra di re//trace Kuningan Berto menyampaikan satu hal: sastra tidak bisa berjalan sendirian. Khususnya bagi pelajar, sastra perlu dirawat sebagai ekosistem bersama. Menurutnya, ekosistem akan lebih sehat jika setiap orang mengambil peran sesuai keahliannya.

“Mahasiswa sastra bisa menulis, mahasiswa manajemen mengurus manajemennya, yang lain mengisi peran sesuai bidangnya,” kira-kira begitu gagasan yang ia sampaikan. Dengan kerja bersama, sastra tidak hanya hidup, tetapi juga mempunyai napas yang panjang.

Dari Takut Dibaca, Hingga Berani Mempublikasikan

Diskusi semakin hangat ketika seorang mahasiswa mengangkat kegelisahan yang akrab bagi banyak penulis pemula: takut mempublikasikan tulisan. Kekhawatiran sederhana, tapi menghantui itu apakah tulisan ini layak? Apakah akan dibaca?

Berto menjawab dengan tenang. Menurutnya, masalah utama bukan pada kualitas tulisan, melainkan pada wadah dan akses. “Setiap tulisan punya pembacanya sendiri,” ujarnya. Tulisan yang dipublikasikan, cepat atau lambat, akan menemukan orang yang tepat untuk membacanya.

Aris Risma Sunarmas, yang akrab disapa Kang Aris, mengangguk menyambung. Ia lalu berbagi kisah masa awal menulis, ketika ia sering meminta orang-orang terdekat membaca tulisannya. Tidak semua benar-benar dibaca, dan tidak selalu menyenangkan. Namun dia, proses itulah yang membentuk keberanian.

“Meminta masukan dan menerima kritik itu bagian dari belajar,” katanya. Menulis, bagi Kang Aris, bukan soal langsung sempurna, melainkan soal terus bertumbuh.

Sastra, Lingkungan, dan Anak-Anak

Pertanyaan lain datang dari seorang pengajar. Ia bercerita tentang tema perubahan iklim yang diangkat di sekolahnya. Sebagai alumni sastra, ia menulis naskah drama bertema kritik lingkungan dan berencana mengenangnya bersama murid-murid. Lalu ia bertanya-tanya, apakah ini bentuk eksploitasi anak?

Berto menanggapi hal tersebut. Menurutnya, itu bukan eksploitasi. Justru, pertunjukan semacam itu bisa menjadi medium yang kuat dan bermakna. Di era visual, pesan sering kali lebih mudah sampai lewat panggung, gerak, dan ekspresi, bukan hanya lewat teks.

Menjaga Ruang, Merawat Pertemuan

Menjelang akhir acara, Berto dan Kang Aris sama-sama menyampaikan rasa senang bisa terlibat dalam diskusi seperti ini. Keduanya berharap kegiatan serupa terus diadakan, khususnya di Kuningan, sebagai ruang perjumpaan gagasan dan pertukaran pemikiran.

Lebih dari sekadar buku diskusi, re//trace menjadi pengingat bahwa ruang-ruang seperti ini penting untuk dirawat. Ketika ruang tersedia, percakapan tumbuh. Ketika percakapan tumbuh, ekosistem seni dan sastra pun ikut hidup.

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /