Dieng Cultural Festival Usung Tema “Back to The Culture” di Banjarnegara
Dieng Cultural Festival (DCF) kembali memikat wisatawan pada 23–24 Agustus 2025 di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Acara budaya tahunan ini memasuki edisi ke-15 dengan mengusung tema “Back to The Culture”, yang menekankan pelestarian budaya dan spiritualitas masyarakat Dieng.
Festival ini menjadi agenda unggulan pariwisata Jawa Tengah dan rutin menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Selain menampilkan keindahan alam pegunungan Dieng, acara ini juga menjadi wadah pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi lokal melalui partisipasi masyarakat (Antara, 2025).
Sejarah dan Filosofi Dieng Cultural Festival
Dieng Cultural Festival pertama kali digagas pada tahun 2010 untuk memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Dieng kepada publik yang lebih luas. Nama “Dieng” berasal dari bahasa Kawi, yaitu Di Hyang, yang berarti “tempat para dewa,” menggambarkan kesakralan kawasan ini bagi masyarakat setempat.
Salah satu inti dari festival ini adalah ritual pemotongan rambut gimbal atau ruwatan anak berambut gimbal, yang diyakini memiliki makna spiritual mendalam. Proses ruwatan dilakukan setelah anak yang diruwat menyampaikan keinginannya sebagai syarat utama pemotongan rambut. Ritual ini berlangsung di kompleks Candi Arjuna, kawasan Dieng Kulon, Kecamatan Batur (Metrotvnews, 2025).
Agenda dan Daya Tarik Dieng Cultural Festival
Tahun ini, panitia DCF menyiapkan berbagai agenda budaya seperti kirab budaya, ruwatan anak berambut gimbal, pertunjukan seni tradisional, dan pesta lampion sebagai simbol harapan masyarakat. Lokasi utama perayaan berada di kompleks Candi Arjuna yang ikonik dengan latar pegunungan Dieng (Tirto.id, 2025).
Menariknya, tahun ini panitia mengganti pertunjukan musik Jazz Atas Awan dengan konsep baru bertajuk “Orchestra Symphony Dieng”, menampilkan nuansa musik tradisional yang berpadu dengan orkestra modern (Antara, 2025). Hal ini sejalan dengan tema “Back to The Culture” yang menonjolkan kembali nilai-nilai budaya lokal.
Selain menyuguhkan acara utama, DCF juga menghadirkan berbagai kegiatan tambahan seperti pameran UMKM, bazar kuliner lokal, hingga paket wisata budaya yang melibatkan warga sekitar. Festival ini juga mendukung promosi ekowisata dengan memperkenalkan destinasi populer seperti Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Bukit Sikunir.
Dampak Ekonomi dan Pelibatan Masyarakat
Penyelenggaraan Dieng Cultural Festival terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Banjarnegara. Menurut Dinas Pariwisata setempat, festival ini meningkatkan kunjungan wisatawan dan membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penginapan, kuliner, hingga transportasi (Antara, 2025).
Keterlibatan aktif komunitas lokal juga menjadi kunci kesuksesan DCF. Warga terlibat dalam berbagai aspek, mulai dari perencanaan acara, penyediaan fasilitas, hingga menjadi pengisi acara. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi contoh nyata model pelestarian budaya berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Harapan dan Ajakan untuk Wisata Budaya Berkelanjutan
Dengan mengangkat tema “Back to The Culture,” penyelenggara berharap DCF dapat menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Dieng. Festival ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga ruang refleksi terhadap warisan leluhur yang harus dijaga bersama.
Selain itu, pelestarian lingkungan sekitar kawasan Dieng menjadi perhatian penting. Wisatawan diimbau untuk menjaga kebersihan dan menghormati nilai-nilai budaya yang berlaku selama acara berlangsung. DCF menjadi contoh bagaimana pariwisata dan budaya dapat berjalan selaras.
Dieng Cultural Festival menegaskan posisinya sebagai salah satu festival budaya paling berpengaruh di Indonesia. Dengan perpaduan ritual sakral, seni tradisional, dan sentuhan modern, festival ini menghadirkan pengalaman spiritual dan budaya yang sulit dilupakan.
Bagi kamu yang tertarik mengikuti berita budaya dan pariwisata lainnya, jangan lewatkan berbagai liputan terbaru di Garap Media. Temukan inspirasi tentang wisata nusantara, tradisi lokal, dan gaya hidup yang memperkaya wawasan budaya Indonesia.
Referensi
