Penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Risiko penyakit ini dapat menjadi jauh lebih fatal apabila infeksi menyerang individu dengan kondisi medis tertentu atau komorbid, yaitu orang yang menderita dua penyakit atau lebih secara bersamaan.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, menekankan bahwa penyakit penyerta dapat memperburuk sistem kekebalan tubuh saat melawan virus dengue.
“Pasien dengan riwayat penyakit seperti ginjal, obesitas, dan hipertensi lebih rentan terhadap dampak negatif dari infeksi virus dengue,” ujar dr. Sukamto dalam media briefing bertajuk Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa di Jakarta Pusat, Rabu, 4 Februari 2026.
Apa Saja Komplikasi pada Pasien DBD?
Kondisi metabolik seperti obesitas dan diabetes melitus merupakan dua faktor penyerta yang paling sering ditemui pada pasien DBD dewasa. Obesitas diketahui dapat meningkatkan risiko keparahan DBD hingga 1,5-2 kali lipat. Sementara itu, diabetes melitus dapat meningkatkan risiko hingga 3-5 kali lipat.
“Penderita diabetes menghadapi tantangan yang lebih besar karena fluktuasi kadar gula darah dapat mempersulit manajemen cairan, yang menjadi kunci utama pengobatan DBD,” kata dr. Sukamto.
Kelompok pasien dengan lebih dari satu penyakit penyerta juga memiliki profil risiko yang mirip dengan pasien yang mengalami gejala berat saat pandemi COVID-19. Selain masalah metabolik, gangguan pada organ vital seperti ginjal dan paru-paru memberikan dampak yang lebih ekstrem terhadap perjalanan penyakit DBD.
Penyakit ginjal kronis dapat meningkatkan risiko kondisi parah hingga tujuh kali lipat. Sementara itu, pengidap asma atau penyakit paru kronis memiliki risiko 2-12 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pasien DBD tanpa komorbid. Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga tidak boleh diremehkan karena mampu memperparah risiko DBD hingga tiga kali lipat. Tingginya angka risiko ini menunjukkan bahwa DBD bukan sekadar demam biasa bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis.
Komplikasi Membuat DBD Semakin Parah
Pasien dengan penyakit komplikasi tertentu, seperti penyakit jantung, kerap harus menjalani pembatasan asupan cairan. Padahal, penanganan utama demam berdarah dengue adalah memastikan pasien mendapatkan cairan yang cukup agar darah tidak mengental dan aliran darah tetap lancar.
Kekurangan maupun kelebihan cairan dapat memicu penurunan tekanan darah secara drastis atau menyebabkan sesak napas akut. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting, terutama bagi kelompok penderita komorbid.
“Pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah strategis bagi kelompok dewasa untuk mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat dengue,” pungkas dr. Sukamto.
Demam Berdarah Dengue Tak Punya Obat Khusus
Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor utama penularan virus dengue. Ketua Koordinator Organisasi PAPDI, Adityo Susilo, menyatakan bahwa hingga saat ini dunia medis belum memiliki obat khusus yang dapat membunuh virus dengue.
“Belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan demam berdarah. Penanganan DBD saat ini masih berfokus pada pencegahan, salah satunya melalui vaksinasi,” ujar Adityo dalam kesempatan yang sama.
Vaksin Dengue Jadi Lapisan Perlindungan Tambahan
Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya vaksinasi sebagai lapisan perlindungan tambahan terhadap demam berdarah dengue. Vaksin dengue diharapkan mampu menurunkan risiko keparahan penyakit, terutama pada individu yang berisiko mengalami infeksi berulang. Secara global, pemanfaatan vaksin dinilai sangat efektif dan bahkan diperkirakan mampu menyelamatkan satu nyawa setiap 12 detik.
“Karena kita negara tropis yang rentan dengue, maka vaksinasi dengue penting dilakukan sebagai upaya pencegahan preventif,” kata Adityo.
Ia juga mengingatkan bahwa pemulihan pasca-DBD kerap membutuhkan waktu cukup panjang, meskipun pasien telah dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit. Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien.
“Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting. Vaksinasi diharapkan dapat dilakukan oleh semua kelompok usia sebagai bentuk perlindungan diri,” tambahnya.
Kombinasi antara menjaga kebersihan lingkungan dan pemanfaatan vaksin dinilai sebagai strategi paling rasional dalam menghadapi penyakit dengue yang medan tempurnya berada langsung di dalam pembuluh darah manusia.
Pencegahan DBD dengan 3M
Selain vaksinasi, masyarakat juga diimbau untuk terus menerapkan langkah pencegahan dasar demam berdarah dengue melalui 3M, yaitu menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan vas bunga. Langkah berikutnya adalah menutup rapat wadah penyimpan air agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur, serta mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik atau kaleng yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.
“Langkah paling sederhana yang bisa dilakukan masyarakat adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang. Terutama saat musim hujan, jika melihat genangan air yang kotor, sebaiknya segera dibuang,” pungkas Adityo.
Penutup
DBD menjadi ancaman serius bagi penderita komorbid karena risiko komplikasi dan keparahan penyakit yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui vaksinasi, menjaga kebersihan lingkungan, serta kewaspadaan sejak dini sangat penting untuk dilakukan.
Jangan lewatkan berita kesehatan, edukasi medis, tips pencegahan penyakit, informasi vaksinasi, update medis terkini, dan informasi penting lainnya hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Demam Berdarah Dengue Lebih Berbahaya bagi Penderita Komorbid, Kenali Risikonya!. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/6272052/demam-berdarah-dengue-lebih-berbahaya-bagi-penderita-komorbid-kenali-risikonya
