Konflik di Timur Tengah yang dipicu peran Iran vs Israel dan AS (Amerika Serikat) berdampak pada operasional sejumlah maskapai dunia, tak terkecuali dengan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah milik Indonesia itu mengumumkan penambahan jadwal penerbangan langsung untuk rute Jakarta-Amsterdam pada 24 Maret 2025. Sementara itu, penerbangan sebaliknya, Amsterdam-Jakarta, dijadwalkan pada 25 Maret 2026.
“Terkait situasi kondisi di Timur Tengah sehingga beberapa airlines di Timur Tengah tidak beroperasi atau membatasi, sehingga banyak demand dari Indonesia ataupun dari Indonesia ke Eropa,” kata Direktur Niaga Garuda Indonesia Reza Aulia Hakim.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Operasional Maskapai
Ia tak menyebutkan detail penambahan kapasitasnya, tetapi dipastikan masih ada kursi yang bisa dipesan hingga kemarin. Selain penambahan jadwal penerbangan, pihaknya juga memberikan tiket gratis bagi penumpang rute Jakarta-Amsterdam pp untuk destinasi domestik. Tujuannya adalah mendukung animo turis atau wisatawan masuk ke Indonesia.
“Kalau orang terbang Amsterdam ke Jakarta itu sama harganya seperti orang terbang ke Bali, ke Manado, dan seterusnya. Begitu juga sebaliknya, dari Bali atau Surabaya ke Amsterdam. Harganya seperti Jakarta ke Amsterdam,” jelasnya.
Penambahan penerbangan itu sejalan dengan strategi pemerintah untuk meminimalisir dampak perang terhadap jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Dari lima strategi yang dipaparkan, salah satunya adalah mengoptimalkan penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam-Jakarta dan Amsterdam-Denpasar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia.
Potensi Kehilangan Devisa dari Sektor Pariwisata
Langkah tersebut diharapkan dapat tetap menjaring wisatawan dari pasar Eropa, terutama menjelang musim libur musim semi dan musim panas. Terlebih, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana sebelumnya menyatakan kawasan Timur Tengah selama ini menjadi salah satu hub strategis bagi perjalanan turis dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia.
Karena kondisi geopolitik yang labil itu, pemerintah memperkirakan potensi dampak langsung terhadap kunjungan wisman mencapai sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Jika kondisi tersebut berlanjut, potensi kehilangan devisa diperkirakan berkisar antara Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari. Padahal, kata Menpar, pariwisata Indonesia sebenarnya sedang berada pada momentum yang sangat baik.
“Pada tahun 2025, kami mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan capaian devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS. Meski pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya menyumbang 21,7 persen dari total kunjungan, kontribusi devisanya mencapai 34,7 persen karena mereka merupakan wisatawan dengan tingkat pengeluaran yang tinggi,” kata Widi dalam Webinar Nasional ‘Tourism Under Fire’ yang diselenggarakan Ikatan Alumni NHI Bandung.
Minat Penerbangan Langsung Meningkat akibat Konflik Timur Tengah
Tren penambahan permintaan penerbangan langsung pada dasarnya berlangsung pula di Eropa dengan berbagai maskapai meningkatkan penawaran penerbangan langsung mereka ke kota-kota di seluruh Asia dan Afrika. Itu merupakan imbas dari para pelancong yang ingin menghindari pusat transit yang terdampak perang, seperti Dubai dan Doha.
Mengutip Euronews, Lufthansa termasuk maskapai yang meningkatkan jumlah penerbangan ke Asia dan Afrika. Maskapai ini menambah empat penerbangan antara Munich dan Singapura serta dua penerbangan ke Cape Town yang diumumkan minggu lalu.
Austrian Airlines, yang merupakan bagian dari Lufthansa Group, juga telah menambahkan 10 penerbangan khusus dari Wina ke Bangkok dan kembali. Grup tersebut mengambil keputusan tersebut karena “peningkatan permintaan yang signifikan”, dan mengatakan bahwa penerbangan khusus lebih lanjut sedang dalam tahap perencanaan.
Merespons krisis, Air France telah menggunakan pesawat dengan kapasitas lebih besar pada rutenya ke Bangkok, Singapura, Delhi, Mumbai, Shanghai, Tokyo, dan Phuket. Maskapai ini juga akan menambah penerbangan tambahan ke Bangkok, Singapura, dan Delhi. British Airways juga telah menambahkan layanan tambahan antara Bangkok dan Singapura dalam beberapa hari terakhir.
Rencana Maskapai Eropa Tambah Penerbangan Langsung ke Asia dan Afrika
Sebenarnya, maskapai penerbangan di Eropa telah berencana meningkatkan penerbangan ke wilayah Asia dan Pasifik jauh sebelum konflik di Timur Tengah. Awal bulan ini, Lufthansa mengumumkan akan meluncurkan lima penerbangan mingguan dari Frankfurt ke Kuala Lumpur, menjadi tujuan Asia keempat yang ditawarkan oleh maskapai tersebut selain Bangkok, Singapura, dan Phuket.
British Airways akan terbang tiga kali seminggu ke ibu kota Sri Lanka, Kolombo, mulai Oktober 2026, dan maskapai ini akan memulai penerbangan harian dari London Heathrow ke Melbourne melalui Kuala Lumpur mulai Januari tahun depan. Maskapai nasional Inggris itu kembali melayani rute ke Kuala Lumpur pada April 2025 setelah jeda selama lima tahun. Virgin Atlantic akan meluncurkan penerbangan harian ke ibu kota Korea Selatan, Seoul, minggu depan dari London Heathrow.
Kedatangan di Afrika juga meningkat, dengan peningkatan delapan persen menjadi 81 juta pengunjung pada 2025. Rute baru termasuk layanan Air Europa dari Madrid ke Johannesburg, yang akan diluncurkan Juni 2026, dan layanan Aegean Airlines dari Athena ke Casablanca, yang diluncurkan pada Oktober tahun ini.
Penutup
Dampak konflik timur tengah memberikan tekanan nyata terhadap industri penerbangan dan pariwisata global. Langkah Garuda Indonesia menambah penerbangan langsung Jakarta-Amsterdam menjadi upaya strategis untuk menjaga konektivitas. Kebijakan ini juga bertujuan untuk menarik wisatawan di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar penerbangan, pariwisata, ekonomi global, wisata mancanegara, dan industri aviasi hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Garuda Indonesia Tambah Penerbangan Langsung Rute Jakarta – Amsterdam pp Imbas Konflik Timur Tengah. Retrieved from https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6300272/garuda-indonesia-tambah-penerbangan-langsung-rute-jakarta-amsterdam-pp-imbas-konflik-timur-tengah
