Dampak Fenomena La Nina pada Cuaca Indonesia 2025
Fenomena La Nina 2025 menjadi perhatian BMKG karena bisa memengaruhi pola cuaca nasional. Dalam Climate Outlook 2025, BMKG menyebut kondisi iklim Indonesia relatif normal. Namun, indikasi La Nina lemah berpotensi muncul hingga kuartal pertama tahun depan (BMKG, 2025).
La Nina terjadi akibat pendinginan suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur. Pendinginan ini menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia, terutama di wilayah barat dan tengah. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Dampak La Nina terhadap Curah Hujan
Menurut Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur, La Nina dapat meningkatkan curah hujan sebesar 20–40 persen dibanding kondisi normal. Kondisi ini membuat sebagian wilayah berisiko banjir pada puncak musim hujan antara Februari dan April 2025.
Sementara itu, CNN Indonesia melaporkan fenomena ini juga bisa memperpanjang musim hujan di beberapa daerah yang biasanya sudah memasuki masa pancaroba pada Mei (CNN Indonesia, 2025).
Wilayah seperti Sumatera utara, Jawa barat, dan Kalimantan diperkirakan menerima intensitas hujan lebih tinggi dibanding bagian timur Indonesia.
BMKG: Tidak Ada Anomali Besar, Tapi Tetap Waspada
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa meski La Nina 2025 tergolong lemah, kewaspadaan tetap penting. Ia mengatakan, “Kondisi atmosfer dan laut cenderung netral, namun potensi peningkatan hujan di atas normal masih bisa terjadi karena suhu laut Indonesia yang hangat” (BMKG, 2025).
Di sisi lain, Reuters melaporkan bahwa cuaca Indonesia tahun 2025 akan tetap dalam kategori “basah normal”, tanpa anomali ekstrem seperti El Nino kuat pada tahun sebelumnya (Reuters, 2024).
Meskipun begitu, dampak lokal tetap perlu diantisipasi, terutama di daerah rawan banjir dan longsor.
Antisipasi Masyarakat Menghadapi La Nina
BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipatif. Misalnya, membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta memperkuat struktur tanah di daerah rawan longsor.
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan bencana dengan memperbarui peta rawan banjir dan melakukan sosialisasi mitigasi ke masyarakat.
Menurut Kumparan (2025), kerja sama lintas sektor antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak La Nina yang bisa terjadi hingga April 2025.
Fenomena La Nina 2025 memang diperkirakan tidak ekstrem, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan. Oleh sebab itu, masyarakat disarankan rutin memantau informasi resmi dari BMKG dan menyiapkan langkah pencegahan sejak dini.
Dengan kesiapsiagaan yang baik, dampak bencana dapat ditekan. Untuk berita lingkungan dan cuaca lainnya, kunjungi Garap Media dan baca artikel menarik seputar alam dan mitigasi bencana.
Referensi
