Grup K-Pop i-dle kembali menegaskan eksistensinya di industri musik dengan merilis digital single terbaru berjudul “Mono (Feat. skaiwater)” pada 27 Januari 2026. Rilisan ini langsung menyita perhatian publik karena menampilkan pendekatan visual dan musikal yang berbeda dari karya mereka sebelumnya (Kpopstarz, 2026).
Single ini menjadi comeback grup di Korea setelah sekitar delapan bulan sejak perilisan mini album terakhir. Lebih dari itu, “Mono” juga mencatatkan momen penting karena menjadi lagu grup pertama i-dle yang melibatkan kolaborasi dengan artis eksternal sejak debut mereka (StarNews Korea, 2026).
i-dle Mono dan Konsep Visual Monokrom Futuristik
Video musik “Mono (Feat. skaiwater)” mengusung estetika hitam-putih yang konsisten dari awal hingga akhir. Pendekatan visual monokrom ini menciptakan kesan minimalis sekaligus futuristik, membuat fokus penonton tertuju pada ekspresi, gerak, dan atmosfer keseluruhan video (AdaTah, 2026).
Dalam sejumlah adegan, i-dle tampil di tengah kerumunan besar dengan iringan efek suara menyerupai penyetelan frekuensi radio. Konsep ini sebelumnya diperkenalkan lewat teaser bertajuk “Play the whole world in Mono”, dan kemudian dieksplorasi secara utuh dalam versi MV penuh (StarNews Korea, 2026).
Koreografi Berskala Besar Jadi Daya Tarik
Meski mengusung visual yang cenderung sederhana, produksi video musik “Mono” tetap menampilkan koreografi berskala besar. Puluhan penari latar hadir mengiringi kelima anggota i-dle dalam formasi yang rapi dan terkoordinasi.
Koreografi massal ini menjadi elemen penting yang menegaskan skala produksi besar dalam proyek tersebut. Di sisi lain, konsep gerak kolektif juga memperkuat pesan kebersamaan, tanpa menghilangkan sorotan pada identitas masing-masing anggota.
Makna Lagu i-dle Mono: Refleksi Identitas Diri
Di balik visualnya yang kuat, “Mono” membawa pesan reflektif tentang identitas diri. Sejumlah bagian dalam video musik menyelipkan narasi voice-over yang mempertanyakan bagaimana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri dan pentingnya menjadi versi diri yang autentik (ETNews, 2026).
Makna ini sejalan dengan interpretasi media Korea yang menyebut “Mono” sebagai lagu tentang menyaring kebisingan eksternal dan kembali mendengarkan suara batin. i-dle menyampaikan bahwa identitas tidak harus dibentuk oleh label, ekspektasi sosial, atau penilaian orang lain.
Genre Musik dan Pendekatan Minimalis
Secara musikal, “Mono” menampilkan pendekatan yang lebih minimalis dibandingkan title track i-dle sebelumnya. Media menyoroti aransemen lagu yang sederhana, fokus pada beat atmosferik dan vokal, tanpa lapisan instrumen yang berlebihan (KpopHit, 2026).
Lagu ini kerap dikategorikan sebagai alternative pop dengan sentuhan minimalist pop dan pengaruh hip-hop. Kehadiran skaiwater menghadirkan nuansa rap khas Inggris yang memberi warna eksperimental sekaligus memperluas spektrum sonik i-dle (Kpopstarz, 2026).
Kolaborasi Perdana i-dle dengan skaiwater
Kolaborasi dengan rapper asal Inggris, skaiwater, menjadi salah satu aspek paling disorot dari perilisan ini. “Mono” menandai pertama kalinya i-dle menggandeng artis luar dalam lagu grup sejak debut.
Warna vokal skaiwater yang khas berpadu dengan karakter kuat i-dle, menciptakan dinamika baru tanpa menghilangkan identitas grup. Kolaborasi lintas negara ini dipandang sebagai langkah strategis i-dle untuk memperluas jangkauan global mereka.
Melalui “Mono (Feat. skaiwater)”, i-dle menghadirkan karya yang tidak hanya menonjol secara visual, tetapi juga sarat makna. Lagu ini menjadi ruang refleksi tentang identitas diri, dibalut dengan genre dan pendekatan musikal yang lebih matang.
Bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan terbaru dunia K-Pop dan industri musik global, jangan lewatkan artikel menarik lainnya di Garap Media. Beragam berita, ulasan, dan analisis terkini siap menemani kamu setiap hari.
Referensi
